
Saat masuk sekolah lagi di keesokan harinya, Olivia memutuskan berangkat lebih dahulu dan tidak mengabari Dilon sedikit pun. Ya Ia masih marah dan ngambek pada pria itu, Dilon pun untungnya memberikan waktu pada dirinya untuk sendiri dulu.
Karena Ia berangkat lebih pagi, Olivia naik taxi, Papanya selalu agak siangan bersama adiknya, di jam segitu takutnya Dilon sudah menunggu di depan gerbang. Seperti hari senin biasanya, jalanan selalu macet.
Ckittt!
"Astaga!" pekik Olivia terkejut karena mobil berhenti tiba-tiba dengan suaranya yang nyaring. "Kenapa ya Pak?" tanyanya pada si supir taxi.
Supir taxi itu menoleh ke belakang. "Sebentar ya neng Bapak cek dulu ke luar, kayanya bannya bocor deh," jawabnya.
"Ya ampun, terus saya gimana dong?"
Supir taxi itu memutuskan mengecek dahulu seberapa parah kebocoran di ban mobilnya, tapi ternyata lumayan parah karena ada tancapan paku. Olivia pun ikut turun untuk melihatnya juga, menghela nafas berat karena keberangkatan nya jadi terganggu.
"Maaf neng kayanya Bapak cuman bisa anterin sampai di sini, neng bisa cari taxi lain, gak papa kan?" tanya si supir taxi itu.
"Ya sudah deh gak papa Pak, ini ya ongkosnya." Olivia masih berbaik hati memberikan ongkos, perjalanan dari rumah sampai di sini pun sudah setengah jalan.
Perempuan itu berjalan agak jauh mencari posisi yang tepat untuk mencegat taxi. Sayangnya sudah beberapa kali Ia lambaikan tangan, tidak ada taxi yang berhenti juga. Mungkin di dalamnya sudah ada penumpang.
Olivia lalu melirik jam tangan, membelakkan mata karena waktu berjalan dengan cepat. Perlahan Ia merasa panik karena khawatir terlambat, sepuluh menit lagi gerbang akan ditutup. Saat Olivia akan menghentikan lagi taxi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.
Saat si pengendara turun dan menghampiri nya, membuat Olivia terkejut. "Septian?" panggil nya.
__ADS_1
"Hai Olivia, ternyata itu beneran kamu. Tadi aku bingung kok kamu berdiri di trotoar sambil lambain tangan, kenapa di sini? Apa kamu diturunin Dilon?" tanya Septian yang langsung berburuk sangka.
"Bukan kok, aku tadi berangkatnya naik taxi tapi bannya bocor terus harus cari kendaraan lain deh," jawabnya cepat meluruskan. Rasanya tidak enak juga mendengar kekasihnya dituduh begitu. Dilon juga tidak mungkin seperti itu.
Septian menganggukkan kepala, lalu terpikirkan sesuatu. "Ya sudah ayo naik ke mobil, berangkat sama aku aja," ajaknya dengan senyuman lebar.
Olivia tidak langsung menjawab, merasa bingung haruskah Ia menerima tawaran itu atau tidak. Sebenarnya Ia ingin menerima karena keadaannya sekarang sedang urgent juga, tapi Olivia takut nanti malah menjadi boomerang jika Dilon tahu.
Tetapi karena Septian terus membujuknya dengan dalih takut terlambat, membuat Olivia pun akhirnya menerima. Jangan sampai deh Ia dihukum ke dua kali, apalagi biasanya yang terlambat di hari senin selalu di kedepan kan dan di tonton murid lain.
Ternyata Septian di antarkan supir, jadi mereka duduk bersebelahan di kursi belakang. Mobilnya mewah, Mercedes. Tidak di ragukan lagi sih, toh Septian kan memang orang kaya. Mereka sempat saling bertatapan, lalu membalas senyuman canggung satu sama lain.
Septian lalu berdehem pelan ingin membuka obrolan lagi. "Ekhem memangnya kenapa gak berangkat sama pacar kamu itu?" tanyanya.
"Oh ya, bukan karena kalian lagi marahan ya?" tanya Septian sambil menarik sebelah sudut bibirnya. Tanpa bertanya alasannya pun, Ia bisa menebak kenapa pasangan kekasih itu bisa bertengkar.
Olivia langsung terdiam ditanyai begitu, Ia jadi malu sendiri karena ketahuan. Tidak aneh Septian itu tahu, toh kemarin kan pria itu juga yang memulai nya kenapa Ia dan Dilon bisa sampai ribut. Mengingat itu, membuat Olivia ingin menanyakan alasannya.
"Septian, kenapa kamu ngasih tahu aku kalau Dilon mau balapan dan lawan kamu?" tanya Olivia membalas tatapan pria itu.
"Ya gak papa sih, cuman pengen kamu lihat aja, mungkin kamu juga penasaran." Septian terlihat tidak serius sekali saat menjawabnya, tidak membuat Olivia puas juga.
"Terus apa maksud kamu minta hal itu ke Dilon? Pas sebelum kalian balapan, apa kamu jadi in aku bahan taruhan?" Olivia memutuskan menanyakan ini, meminta penjelasan pada orangnya langsung.
__ADS_1
Septian terlihat menelan ludahnya kasar, seperti tidak mau membuat perempuan itu salah paham atau menyinggung perasaannya. Dengan memberanikan diri, Septian membawa sebelah tangan Olivia dan menggenggamnya.
"Bukan begitu Olivia, aku gak ada niatan permainkan kamu kok. Aku cuman pengen kamu tahu, kalau aku memang sangat menyukai kamu," jawab Septian bersungguh-sungguh.
Olivia lalu menarik tangannya dengan pelan sampai terlepas. "Tapi seharusnya kamu gak sampai mengatakan itu langsung di depan Dilon, apalagi pas kalian mau balapan begitu. Kamu tahu aku juga ada di sana, aku juga jadi ngerasa lagi di permainkan," ucapnya pelan.
"Maaf Olivia kalau kamu ngerasain itu, tapi sungguh aku gak ada maksud begitu. Aku beneran suka sama kamu, aku cuman pengen kamu tahu itu. Walaupun tadi malam aku yang menang, aku juga gak mungkin bisa dapetin kamu semudah itu." Septian terlihat agak tertekan saat menjelaskan nya.
Olivia memutuskan memalingkan wajahnya dan melihat jalanan di luar. Perasaannya sekarang campur aduk sekali mendengar penjelasan Septian, tapi bukan berarti Olivia merasa senang, malahan merasa tertekan. Kenapa pria itu masih kekeuh? Padahal waktu itu sudah Ia tolak.
Untungnya tidak lama mereka sampai juga di sekolah. Tetapi Olivia meminta turun agak jauh dari gerbang, tidak sampai ke dalam karena khawatir banyak yang melihat, lebih tepatnya takut Dilon melihat. Septian pun mengangguk saja, pria itu masih segan dan tidak enak pada Olivia.
"Makasih ya Septian sudah nawarin tumpangan untuk aku, kalau gitu aku pergi duluan," ucap Olivia lalu membuka pintu mobil dan keluar.
Perempuan itu sempat melengokan kepalanya melihat sekitar, bernafas lega karena tidak melihat kehadiran Dilon. Setelahnya Ia berjalan riang bersama murid lain masuk ke gerbang yang hanya tinggal beberapa menit lagi saja akan ditutup.
"Tuan muda, anda baik-baik saja? Apa anda butuh bantuan saya?" tanya supirnya yang sekaligus adalah asisten pribadinya.
Septian terlihat menatap ke satu titik dengan tatapan dalam dan tajamnya. "Kau tahu bagaimana cara meluluhkan hati perempuan? Dia sangat sulit sekali aku gapai, apalagi dia masih ada hubungan dengan Dilon."
"Tuan hanya perlu bersabar sebentar lagi, saya bisa lihat perempuan tadi mulai ragu pada pacarnya itu. Di saat seperti ini, Tuan harus semakin gencar mendekati dan membuat hubungan pasangan kekasih itu semakin berantakan," usul nya dengan pintar.
Seringai terukir di bibir Septian, sepertinya rencana itu cukup bagus. Ya Ia harus memanfaatkan kesempatan ini, membuat Dilon lebih cemburu. Septian lalu keluar dari mobilnya, Ia masuk ke gerbang sekolah dengan percaya diri.
__ADS_1