
"Jadi mau pinjem buku yang mana?" tanya Dilon yang terlihat lelah mengikuti pacarnya itu terus.
"Ini lagi dicari," jawab Olivia sambil tetap melihat-lihat buku di rak.
Entahlah apa hanya perasaan Dilon saja atau bukan, tapi Olivia seperti sedang mempermainkan nya. Dilon memperhatikan sekitar sejenak, merasa tidak ada siapapun di sana membuatnya jadi merasa bebas.
Pria itu mendekati Olivia, lalu memepet tubuh pacarnya itu sampai menempel di rak buku. Olivia hanya bisa menggerakan kepalanya untuk menoleh ke belakang, menatapnya bingung meminta penjelasan.
"Hei Nona, gue laper ngikutin lo terus," kata Dilon di sisi telinganya.
"Ya sudah deh maaf, kamu jadi mau ke kantin?" tanya Olivia, jadi merasa bersalah sendiri sudah berbohong.
"Tadi lo bawa apa di kresek?"
"Oh itu coklat dari Se.. Maksudnya Syifa, aku beli dari dia. Kamu mau coba?" Hampir saja Olivia menyebut nama Septian, bisa gawat.
"Boleh deh, " angguk Dilon setuju.
Pria itu pun kembali mundur membuat Olivia dapat bernafas lega, mereka lalu pindah dan duduk di sebuah bangku. Olivia sempat mengajak pacarnya itu makan di luar, tapi katanya malas dan biar saja makan di sana pun.
"Emangnya kamu suka coklat?" tanya Olivia sambil memperhatikan Dilon yang sedang membukakan kotak coklat itu.
"Gak terlalu, tapi yang bentukan gini kelihatan enak, jadi pengen nyoba," jawab Dilon tanpa menatap.
"Kayanya sama aja deh, cuman beda bentuknya aja," gumam Olivia.
Ada sekitar enam coklat di kotak itu, dengan bentuk buah-buahan yang berbeda. Ukurannya memang tidak terlalu besar, ya cukup lah untuk di jadikan cemilan. Olivia lalu memilih bentuk jeruk, sedangkan Dilon yang buah apel.
Sepertinya di perpustakaan itu hanya ada mereka berdua, jadi merasa lebih enak mengobrol tanpa ada gangguan. Keduanya terlihat asik memakan coklat masing-masing, sambil terus bertatapan.
"Pfftt!"
Kernyitan terlihat di kening Olivia melihat Dilon yang seperti menahan tawa, "Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Dasar anak kecil!" ledek Dilon penuh maksud.
"Siapa yang anak kecil?" tanya Olivia mulai tersinggung, apakah dirinya?
"Lo lah, makan coklat beginian aja masih belepotan. Lagi ngode ceritanya minta dibersihin?" tanya Dilon dengan seringai di bibirnya. Ya Ia sih tidak masalah harus membersihkan bibir Olivia.
Olivia yang mendengar itu langsung mengusap-usap sekitar bibirnya, berusaha membersihkan noda coklat agar tidak di ledekin Dilon. Tetapi saat Ia tanyakan apakah sudah bersih atau belum, pria itu menggeleng.
"Kasih tahu dong dimana? Jangan cuman bisanya ngetawain!" gerutu Olivia kesal.
Dilon malah berdiri dari duduknya lalu mendekati Olivia. Sebelah tangannya mengangkat wajah Olivia, tubuh Dilon perlahan membungkuk membuat Olivia terkejut. Apakah pria itu akan menciumnya?
Bukannya menolak, sialnya Olivia malah memejamkan mata seolah menerima. Tetapi bukan ciuman yang Olivia dapatkan, Ia merasakan lidah yang lembut mengusap bawah bibirnya dalam sekejap.
"Nah sekarang sudah bersih," kata Dilon terlihat bangga melihat bibir Olivia.
Olivia yang kesadarannya sudah kembali, langsung mendorong pria itu menjauh lalu berdehem pelan menghilangkan rasa gugup. Melihat Dilon yang malah tertawa, membuat Olivia merengek kesal.
"CCTV di sini mati semua,cuman buat pajangan aja," jawab Dilon sambil memasukan kedua tangannya di saku celana.
"Hm tahu dari mana kamu?" tanya Olivia bingung. Kalau sekedar mengada-ngada lucu juga.
"Hei gue ini yang berkuasa di sekolah ini, pasti tahu banyak lah tentang sekolah ini," kata Dilon sombong.
Olivia hanya mencebikkan bibirnya mendengar itu, sama sekali tidak terkesan karena Dilon orangnya memang agak sembrono. Olivia kan hanya khawatir saja, nanti kalau terciduk pasti akan membuat heboh lagi.
Mereka lalu memutuskan keluar, Olivia tidak jadi juga meminjam buku karena dari awal memang hanya beralasan. Dilon lalu bilang dirinya akan ke kantin sebentar membeli roti, sedangkan Olivia akan ke toilet dahulu sebelum jam istirahat berakhir.
"Olivia!"
Mendengar namanya di panggil dengan keras, membuat langkah Olivia terhenti. Kepalanya lalu menoleh ke belakang untuk melihat, terlihat Septian berlari kecil ke arah nya. Olivia sempat khawatir di sekitar sini ada Dilon, semoga saja tidak ada.
"Olivia, kamu habis dari mana? Pas aku selesai pesan kamu sudah gak ada," tanya Septian setelah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Tadi Dilon datang, terus aku ajak dia pergi takut malah ketemu sama kamu dan ribut lagi," jawab Olivia jujur.
Septian terlihat mengangguk pelan dengan ekspresi wajah tidak enak, "Jadi kamu lagi jagain aku?"
"Em gimana yah, aku cuman gak mau aja dia salah paham terus kalian malah ribut lagi. Septian sebaiknya mulai hari ini kita harus menjaga jarak," ucap Olivia.
"Maksudnya bagaimana Olivia?" Perasaan Septian tiba-tiba jadi tidak enak.
"Maaf aku bukan bermaksud apapun, kita tetap teman kok. Tapi sepertinya sekarang tidak bisa sering berdekatan, aku gak mau kamu sama Dilon ada masalah lagi. Kamu mengerti kan maksud aku?"
Entahlah apa Septian bisa mengerti atau tidak. Alasan Olivia ingin menghindar hanya karena tidak mau Ia di apa-apakan lagi Dilon, tapi Septian juga merasa enggan jika harus berjauhan dengan Olivia. Padahal mereka baru saja dekat.
Kalau saja Septian lebih berani, mungkin Ia bisa saja melawan Dilon. Padahal untuk bisa akrab dengan Olivia sangat butuh perjuangan, untuk bisa berubah menjadi seperti ini pun Septian lakukan demi perempuan itu. Tetapi kenapa tiba-tiba ingin menghindar?
"Septian, kamu dengerkan permintaan aku tadi?" tanya Olivia menegurnya.
"Hah? Em itu, a-aku akan usahakan Olivia. Jadi maksud kamu saat kita di sekolah, kita pura-pura tidak akrab?" Septian menanyakan lagi dengan pahit.
"Ya seperti itulah, pokoknya jangan sampai Dilon lihat kita lagi bersama gini. Apalagi pas di kantin, kamu kan biasanya selalu ikut gabung ke meja aku sama temen-temen."
"Kamu masih boleh kok temenan sama Tasya dan Syifa, tapi kalau lagi ada aku, kayanya kamu gak bisa. Maaf ya Septian kalau aku nyinggung perasaan kamu, aku harap kamu ngerti," kata Olivia panjang lebar.
Dengan terpaksa Septian pun mengangguk, Ia akan berusaha melakukan permintaan Olivia, ya walaupun merasa enggan. Jujur saja setiap berdekatan dengan perempuan itu Ia selalu senang, apakah Septian harus berhenti berharap juga?
"Kalau gitu aku pergi dulu ya Septian, dah!" pamit Olivia sambil melambaikan tangannya.
Septian memperhatikan perempuan itu yang semakin jauh dengan tatapan sulit di artikan nya. Kedua tangannya terlihat terkepal, yang sedang Ia pikirkan sekarang adalah Dilon. Ya karena pria itulah yang membuat Olivia tidak bisa lagi berdekatan dengannya.
Apakah Septian harus menyingkirkan Dilon dulu?
***
Septian vs Dilon nih, Kira-kira siapa ya yang menang?
__ADS_1