
"Aduh Dilon kenapa narik-narik? Tangan aku sakit!" kesal Olivia menggerutu sesampainya mereka di parkiran depan Kafe.
Mendengar itu Dilon pun langsung sadar dan meminta maaf. Ia melihat lagi pergelangan tangan kanan Olivia, terlihat ada bekas cengkraman merah di sana. Dengan baiknya Dilon pun meniup-niup sambil mengusap pelan.
"Maaf, kita obatin ya?" bujuk Dilon.
"Gak usah, nanti aja di rumah sendiri. Lagian kamu kenapa sih? Kaya lagi buru-buru gitu," tanya Olivia bingung.
"Bukan buru-buru, tapi kita harus pulang," jawab Dilon.
"Kenapa? Makanan aku belum habis loh, kita juga baru sebentar di sana."
Karena Dilon akan merasa tidak nyaman berada di sana dengan keberadaan geng motor itu. Tadi saat Olivia ke toilet, mereka tampak berani sekali menghampirinya dan mengajaknya bicara.
Sebenarnya Dilon tidak takut, walaupun Ia hanya sendiri dan mereka bertujuh. Tetapi masalahnya Ia sedang mengajak pacarnya, sialnya nge date mereka salah tempat dan sekarang mereka kenal dengan Olivia.
"Dilon, yang tadi itu temen-temen kamu kan? Jawab aku jujur!" desak Olivia. Ia merasa atmosfer pria itu tampak berbeda saat bersama beberapa lelaki tadi.
"Sebenarnya bukan, makanya aku ajak kamu pulang," jawab Dilon.
"Terus mereka siapa? Kenapa bilangnya temen kamu? Pas aku balik dari toilet juga, kalian sempet ngobrol kan?"
Sayangnya Dilon tidak bisa menjelaskan detail pada Olivia siapa mereka sebenarnya. Kekasihnya itu akan sangat khawatir kepadanya, lalu menyuruhnya ini dan itu. Dilon hanya bisa meminta perempuan itu menjaga diri saja.
"Pokoknya kalau sampai mereka macam-macam atau gangguin lo, bilang sama gue, oke?" kata Dilon sambil memegang bahunya.
"Dilon sebenarnya ada apa? Mereka orang jahat ya?" Entah kenapa, perasaan Olivia jadi tidak enak.
"Gak ada apa-apa kok, cuman gue sebenarnya gak terlalu akrab sama mereka. Lo tenang aja jangan khawatir, gue gak akan kenapa-napa. Tapi karena mereka udah kenal sama lo, jadi lo harus jaga diri."
Olivia lalu mendekat dan memeluk pria itu, menyandarkan kepalanya di dada Dilon dan bisa mendengar detak jantung cepat. Dinasihati seperti ini, membuat Olivia tiba-tiba merasa takut. Tidak akan terjadi sesuatu kan?
__ADS_1
"Kita pulang aja ya?" ajak Dilon sambil mengusap belakang kepalanya.
"Terus kamu juga mau langsung pulang kan? Pulang ya, jangan keluyuran. Gimana kalau kamu ketemu mereka tanpa aku?" Nada suara Olivia terdengar khawatir sekali.
Dilon malah tertawa kecil, "Hei lo tenang aja, pacar lo ini bisa bela diri. Gue bisa kok lawan mereka semua, cuman kalau tanpa lo," katanya sombong.
Bug!
"Ih apaan sih? Gak, kamu gak boleh berantem, apalagi cuman sendirian. Pokoknya setelah kamu anterin aku pulang, kamu juga harus pulang!" tegas Olivia setelah memukul tangan pria itu agak keras.
"Huft iya-iya Tuan Putri," ucap Dilon menurut saja, yang penting Olivia tidak khawatir.
Suasana Kafe terlihat makin ramai, untungnya Dilon dan Olivia sudah mau pulang. Tadi benar-benar sangat menegangkan, Dilon juga harus menahan emosinya agar tidak lupa diri dan membahayakan dirinya juga Olivia.
Nanti Dilon harus bicarakan ini dengan teman-temannya, pasti akan heboh kalau tahu dirinya bertemu dengan musuh bebuyutan mereka. Mungkin ceritanya akan beda jika yang Dilon ajak malam ini bukan Olivia, melainkan geng nya.
"Oh iya Dilon aku baru inget ini," ucap Olivia membuyarkan lamunan Dilon. Pria itu tetap fokus menyetir melihat jalan, namun pikirannya entah kemana.
"Apa?" tanya Dilon.
Mendengar satu nama itu hampir membuat Dilon mengerem mendadak, tapi untungnya Ia bisa mengontrol diri karena pasti akan mencelakakan mereka berdua.
"Ck kok bahas dia sih?!" protes Dilon.
"Hei dengar dulu, tapi katanya itu bukan Septian. Cuman suaranya itu mirip banget, penampilannya ya emang beda banget. Mungkin Septian kalau gak culun bisa seganteng itu juga," cerita Olivia.
Tiba-tiba Olivia merasakan motor yang mereka tumpangi memelan lalu berhenti di sisi jalan, membuatnya bingung dan menegakan duduknya. Olivia lalu membuka kaca helm nya untuk bertanya.
"Kok berhenti?" tanyanya.
"Gue kesel lo malah puji cowok lain, di sini ada cowok lo loh!" sindir Dilon dengan nada agak ketusnya.
__ADS_1
Olivia menggelengkan kepalanya, "Dilon, apa salahnya aku cerita? Lagian aku misal ada unsur muji juga bukan berarti suka atau kagum," jelasnya.
"Tetep aja gue gak suka, apalagi lo bilang si Septian ganteng. Maksudnya apa?!"
"Kamu jangan sedih dong, kan kamu tetep yang paling ganteng," kata Olivia lalu memeluk lehernya dari belakang berusaha merayu.
Dilon ini memang pe cemburu sekali, padahalkan Olivia juga memuji tidak langsung pada Septian, hanya perumpamaan saja. Untungnya pria itu tidak ngambek berlebihan, dan kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak lama mereka pun sampai juga di depan gerbang rumah Olivia, terasa cepat sekali di banding tadi saat berangkat. Olivia pun turun dari motor, lalu mendekat pada Dilon untuk dibantu membukakan helm nya.
"Padahal belum jam sembilan, tapi kita sudah pulang lagi," keluh Olivia kembali.
"Nanti kan bisa kapan-kapan lagi, lagian tadi kita salah cari tempat sih, jadinya malah ketemu sama mereka," sahut Dilon.
"Kamu janji ya langsung pulang, awas saja kalau keluyuran!"
"Gue mau ke rumah temen ya, tapi di sana juga cuman nongkrong doang kok, beneran!" ucap Dilon berusaha meyakinkan.
"Gak akan berantem kan? Cuman gara-gara tadi?" tuduh Olivia penuh curiga.
"Enggak akan, lo tenang aja."
Olivia menghembuskan nafasnya berat dan akhirnya mengangguk memperbolehkan. Biasanya kan anak lelaki malam minggu itu suka nongkrong, tidur juga selalu larut malam. Kasihan kalau Dilon malah diam sendirian di rumah, pasti akan kebosanan.
"Ah iya satu lagi, kamu gak boleh ikut balap liar. Ingat ya Dilon, kamu sudah janji sama aku!" kata Olivia yang hampir masuk ke gerbang rumahnya.
Dilon yang mendengar itu terlihat raut tidak nyamannya, lalu mengangguk pelan. Sayangnya Ia harus melanggar janji, karena sudah ditantang oleh Lucas, anggota geng tadi.
"Sudah sana masuk, salam ke keluarga ya," perintah Dilon sambil melambaikan tangan.
"Kamu hati-hati di jalan, nanti kalau sudah sampai di sana kirim pap biar aku gak terlalu khawatir," ujar Olivia.
__ADS_1
Setelah melihat pria itu mengangguk, Olivia pun masuk ke dalam gerbang rumahnya. Entah kenapa merasa sedikit tidak rela meninggalkan pria itu, rasanya masih ingin berlama-lama bersama Dilon.
Ya semoga saja kekasihnya itu selalu baik-baik saja dan di hindarkan dari mara bahaya. Olivia tidak bisa terus bersama nya, berharap Dilon pun bisa menjaga dirinya sendiri.