Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Menegaskan Hatinya


__ADS_3

"Olivia, kamu gak papa kan?" tanya Syifa segera menghampiri nya.


Tasya pun ikut memperhatikan tubuhnya, "Apa kamu ada yang luka pas misahin mereka?"


"Enggak ada kok, aku baik-baik aja. Tapi.. Aku gak tahu sekarang harus gimana," jawab Olivia putus asa.


Ada dua orang yang sedang Olivia pikirkan saat ini, yaitu Dilon dan Septian. Kira-kira bagaimana keadaan dua lelaki itu sekarang? Septian sudah dibawa ke rumah sakit, tapi Dilon bagaimana?


"Aduh sudah deh Oliv, jangan mikirin mereka dulu. Kamu juga lagi sakit, kamu harus pulihin dulu kesehatan kamu," kata Tasya dan langsung diangguki Syifa.


Kedua sahabatnya itu lalu menyuruhnya untuk istirahat lagi, tapi Olivia beralasan jika dirinya sudah tidak terlalu lemas. Tetapi Olivia tidak akan ikut pelajaran, Ia memutuskan akan pulang saja.


Tetapi sebelum pulang, Olivia berencana mencari Dilon untuk bicara dulu dengan kekasihnya itu. Sayangnya Dilon tidak ada di sekolah, salah satu temannya memberitahu jika pria itu pergi dengan mobilnya.


"Terus sekarang gimana dong? Kamu mau langsung pulang aja?" Syifa dan Tasya dari tadi setia menemaninya, katanya takut Olivia tiba-tiba pingsan.


"Aku gak akan langsung pulang, aku akan ke rumah sakit dulu lihat Septian, untuk mastiin aja gimana kondisi dia sekarang," jawab Olivia memutuskan.


Syifa dan Tasya sempat bertatapan, mereka pun mengeluarkan isi hatinya, "Em Oliv, kayanya mending gak usah deh. Kalau Dilon tahu, dia pasti bakalan makin marah."


"Tapi Septian juga terluka parah karena Dilon, dan aku sebagai pacar Dilon gak enak rasanya kalau biarin dia gitu aja. Tenang aja, aku bisa urus semuanya kok," ucap Olivia bersungguh-sungguh.


Ya semoga saja Dilon tidak tahu, karena pasti pria itu akan semakin marah dengan tindakannya ini. Tetapi Olivia tidak ada rencana apapun, hanya ingin sekali menjenguk Septian saja, setelah itu tidak lagi.


Untuk ke rumah sakit, Olivia memilih memesan taxi online. Tadi Ia sudah bertanya pada salah satu guru dan langsung diberitahu dimana Septian dirawat. Hampir setengah jam lamanya, akhirnya Ia pun sampai juga.


Tok tok!

__ADS_1


"Permisi Septian, ini aku Olivia. Apa boleh masuk?" tanyanya meminta izin.


"Masuklah Olivia!" teriak Septian dari dalam.


Saat Olivia membuka pintu, pandangannya langsung bertemu Septian yang sedang duduk di atas ranjang. Pria itu terlihat senang dengan kehadirannya, sampai melambaikan tangan dan tersenyum lebar.


Olivia pun membalas senyumamnya dengan tipis, lalu berjalan mendekat dan berdiri di sisi ranjang. Ternyata kamar rawat Septian khusus untuk satu pasien, pria itu kan orang kaya jadi bisa membayarnya cepat.


"Olivia, kamu jenguk aku? Aku seneng banget kamu datang ke sini," ujar Septian jujur.


"Aku cuman khawatir aja takut kamu kenapa-napa. Tadi kamu sudah ditangani dokter, jadi gimana katanya?" tanya Olivia.


"Ya kamu lihat sendiri hidung aku di perban, hidung aku patah makanya sampai keluar banyak darah. Tapi sekarang sudah agak baikan, gak terlalu sakit juga," jawab Septian sambil menunjuk hidungnya.


Olivia dibuat meringis mendengar itu, merasa linu sendiri walau hanya membayangkannya. Apalagi mengingat Septian saat di sekolah, wajahnya sampai berlumuran darah.


"Sebenarnya aku agak kesel sama dia, pengennya dia juga rasain kaya aku. Tapi yah sudahlah, mungkin tadi aku juga salah sudah pancing emosi dia." Ternyata Septian mengakui kekalahannya, benar-benar pria sejati.


Olivia terdiam beberapa saat baru mengingat itu. Ya benar juga, Septian juga salah karena memancing Dilon duluan. Jika pria itu tidak membuat Dilon cemburu dan pergi, kejadian ini pun pasti tidak terjadi.


Melihat pria itu yang terlihat agak kesusahan membawa segelas air putih, Olivia pun membantunya dan memberikan. Septian lagi-lagi dibuat tersenyum dengan kebaikan perempuan itu, walau hanya hal kecil tapi membuatnya semakin jatuh cinta.


"Septian, ini aku kembalikan bukunya," ucap Olivia sambil mengeluarkan buku novel itu.


"Loh memangnya sudah selesai bacanya? Cepet juga," tanya Septian bingung, Ia saja membutuhkan waktu sampai satu minggu.


Olivia menggeleng, "Belum, baru baca sedikit. Tapi Dilon tahu aku pinjem buku dari kamu, dia marah sampai kita sekarang masih marahan."

__ADS_1


Lagi-lagi Dilon dan Dilon, membuat Septian menggerutu di dalam hati karena merasa kesal. Pria itu selalu mengganggu kedekatannya dengan Olivia. Padahal Ia dan Olivia merasa memiliki banyak kesamaan.


Septian sadar sih dirinya pun salah karena masuk dalam hubungan percintaan orang lain. Tetapi dirinya adalah lelaki yang gigih, jika sudah mencintai seseorang pasti akan terus berusaha mendapatkannya. Tidak peduli sekalipun sudah punya pacar.


"Jadi kalian sudah marahannya dari kemarin ya? Aku kira tadi saat dia mergokin kita di UKS, " celetuk Septian sambil mengambil buku itu.


"Iya aku juga gak tahu dia bakal nemuin kartu nama kamu di buku itu. Aku sudah bilang cuman pinjem, tapi dia tetep marah dan lebih baik aku balikin aja ke kamu," ucap Olivia pahit.


"Dilon emang pe cemburu, mungkin dia gak mau pacarnya deket sama cowok lain karena memang banyak yang tertarik sama kamu." Entah apa maksud Septian mengatakan itu.


Olivia sempat melirik jam tangannya, tidak terasa sudah mau jam dua belas siang lagi. Baru kali ini Ia pulang sekolah cepat, ya ini pun izin sakit, tapi percayalah tubuhnya sudah lebih baik sekarang.


"Septian, aku mau bilang sesuatu. Boleh gak nanti jangan bilang begitu lagi pada Dilon?" pinta Olivia menekan rasa gengsinya.


"Maksud kamu?"


"Seperti tadi, pas kamu bilang kalau kamu suka sama aku di hadapan Dilon. Aku pikir sikap kamu itu kurang etis, kamu terlalu berani, padahal kamu juga pasti tahu kalau tindakan kamu itu tidak benar."


"Maaf aku harus bilang begini, tapi aku akan tegaskan kalau kita cuman teman. Aku baik sama kamu, bukan berarti aku suka sama aku. Aku sudah punya pacar, dan Dilon adalah laki-laki yang aku cintai," jelas Olivia panjang lebar.


Setelah mengatakan itu Olivia menghenbuskan nafasnya lega, perasaannya pun jadi lebih baik setelah mengungkapkan isi hatinya. Tujuannya sekarang selain menjenguk Septian, ingin mengatakan ini juga.


Saat Olivia menatap mata Septian, bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Olivia tidak mau dibilang kepedean, tapi apakah Ia sudah membuat Septian patah hati?


Tetapi Olivia memang harus jujur seperti ini, menegaskan sikapnya juga pada Septian karena tidak mau pria itu semakin berharap padanya. Olivia sadar, seharusnya dari awal Ia menjaga batasan.


"Kamu cepat sembuh ya Septian, sekali lagi aku minta maaf atas nama Dilon. Kalau gitu aku permisi pulang dulu, sampai nanti," pamit Olivia lalu keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2