
Sekarang semua keluarga sedang mengobrol dengan asik di ruang tamu. Para perempuan bergosip seperti biasa, sedang para lelaki membahas tentang pekerjaan, kebetulan mereka semua adalah seorang pebisnis. Sedang anak-anak se usia Kai sedang bermain game.
Olivia sekarang sedang mencari Septian, ternyata pria itu berada teras rumah sambil merokok. Ia pun berjalan pelan menghampiri, langkahnya terasa sulit karena rok kebaya nya ini. Saat sudah di sebelahnya, Septian pun baru menyadari kehadirannya.
"Septian, kenapa kamu lakuin ini sama aku?" tanya Olivia meminta penjelasan.
Septian terlihat menghembuskan asap rokoknya ke udara, lalu menoleh menatap perempuan itu, "Karena aku cinta sama kamu, makanya aku mau kita ikat dulu hubungan ini dengan bertunangan," Jawabnya santai.
"Cinta? Kayanya bukan deh, menurut aku ini lebih ke gila," sarkas Olivia lalu mendengus kasar.
Ya Septian memang sudah gila, memperlakukan nya dengan seenaknya. Olivia sangat terpaksa menerima perjodohan ini, entah apa yang sudah Septian lakukan sampai kedua orang tuanya pun dengan cepat bisa mempercayainya.
Olivia pun jadi membandingkan dengan Dilon dulu, pria itu juga dekat dengan keluarganya tapi mereka belum terpikirkan untuk sampai ke tahap ini karena perjalanan masih jauh. Bukankah Septian ini terlalu terburu-buru?
"Aku akan kuliah di Amerika, Harvard University. Keluarga aku minta aku kuliah di sana supaya kesiapan aku memimpin perusahaan semakin matang dan bagus. Aku cuman gak mau, saat aku di sana kamu di sini malah berkhianat," kata Septian kembali membuka suara.
"Kapan kamu pergi?" tanya Olivia. Ia sedikit terkejut karena ternyata pria itu akan kuliah jauh di luar negeri.
"Besok aku akan berangkat, dan sebelum itu aku pengen puas-puasin dulu sama kamu. Kita mungkin akan berpisah lama dan fokus belajar, tapi aku pasti kangen banget sama kamu," Jawab Septian dengan tatapan dalamnya.
__ADS_1
Bukankah ini adalah sebuah kesempatan yang bagus untuk Olivia? Karena jika mereka LDR mungkin Ia bisa lebih bebas dan tidak dikekang terus. Sayangnya cincin di jari manisnya ini membuatnya jadi merasa tetap harus menjaga sikap.
Sekarang Olivia mengerti kenapa Septian ingin bertunangan dulu dengannya sebelum pergi ke Amerika. Agar dirinya tidak pindah ke lain hati dan tetap setia. Olivia memang bukan pemain, tapi Ia pun tidak janji karena di hatinya kan masih ada Dilon.
"Walaupun kita berjauhan, aku akan terus awasin kamu. Kalau sampai aku dengar kamu cari kesempatan dengan Dilon, aku bisa lakuin apa saja supaya buat dia jera lagi," ucap Septian serius.
Sebelah sudut bibir Olivia terangkat, "Kamu ngancam aku? Apa kamu ngancam kedua orang tua aku juga sampai mereka setuju kita tunangan?" tanyanya sinis.
"Gak mungkin aku ancam mereka, ya mereka saja yang sudah percaya dan yakin sama aku makanya direstui. Mungkin mereka juga tahu kalau aku memang lebih baik dari mantan pacar kamu itu," jawab Septian menohok, membuat Olivia terdiam.
Setelah itu keduanya terdiam, menyelami pikiran masing-masing. Perasaan keduanya saat ini rasanya campur aduk sekali. Seharusnya acara tunangan menjadi hal yang mengharukan dan membahagiakan, tapi sepertinya tidak kedua orang itu rasakan.
Semua keluarta ternyata sudah menunggu di meja makan besar itu, banyak makanan terhidang di atas meja. Olivia dan Septian lalu duduk bersebelahan, sudah di siapkan khusus oleh yang lain. Setelah itu makan malam pun dimulai.
"Jadi Septian akan kuliah di Harvard? Wah hebat ya, untuk masuk di sana kan tidak mudah. Selamat ya, semoga kamu bisa belajar dengan baik dan betah di sana," kata Kevin yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Septian merasa senang dipuji calon mertuanya itu, "Iya Om, saya juga sempat gak nyangka pas diterima di sana. Besok saya sudah harus berangkat, jadi makanya minta acara dilangsungkan dengan cepat," sahutnya.
Setelah Olivia perhatikan kembali, sepertinya Papanya memang lebih menyukai Septian di banding Dilon dulu. Kedua orang itu bahkan belum kenal lama, tapi mungkin memiliki banyak kesamaan membuat Papanya pun langsung percaya.
__ADS_1
Tetapi kan seharusnya semua itu tergantung pada hati Olivia karena Ia yang menjalankan hubungannya dengan Septian. Walaupun kedua orang tuanya menyukai Septian sekali pun, tapi jika Ia tidak ya akan tertekan.
"Tadinya Septian sempat membahas akan langsung melamar Olivia saja, lalu mengajaknya tinggal di sana bersama. Tapi kami pikir ini terlalu cepat, mereka sepertinya lebih baik fokus belajar dulu," ujar Om Andri yang menjadi wali nya.
Olivia yang mendengar itu dibuat terkejut sampai tersedak makannya sendiri. Septian yang melihat itu dengan sigap memberikan segelas air putih, Olivia pun meminumnya rakus hingga sakit di dadanya menghilang.
Tatapan Olivia lalu langsung menghunus tajam pada Septian, protes karena rencananya yang dibahas tadi terlalu berlebihan dan gila. Untuk sampai ke tahap menikah Olivia akan pikirkan dengan baik, tidak akan sepasrah ini juga.
"Iya Om Tante, sepertinya Olivia juga belum siap menikah, kalau saya sih sebenarnya tidak masalah dan mampu-mampu saja membiayai kehidupan kami. Mungkin dia pikir setelah menikah tidak akan bebas lagi," sahut Septian sambil merangkul bahu Olivia.
Olivia yang dianggap begitu hanya mendengus pelan, Lagi-lagi dirinya di fitnah padahal nyatanya hatinya tidak setuju. Enak sekali Septian itu mengajaknya menikah, mana mau Ia menjalani ibadah panjang begitu dengan orang yang tidak dicintainya.
Sekitar pukul sepuluh malam nya, akhirnya para keluarga besar akan pulang juga. Terlihat senyuman lebar dan ceria di wajah masing-masing, menandakan jika semua merasa ikut senang dan bahagia. Kini dua keluarga itu terikat hubungan.
"Besok kamu akan ke bandara kan antar aku? Jam delapan pagi, aku akan tunggu kamu di sana," ucap Septian penuh harap. Walaupun malam ini sudah bertemu, tapi tetap saja akan rindu jika besok sebelum berangkat tidak diantar.
Olivia berdehem pelan, "Lihat nanti saja, itu pun kalau aku tidak ketiduran," jawabnya acuh tak acuh.
Septian hanya tersenyum tipis sudah biasa mendapat sikap cuek dari kekasihnya ini, maksudnya sekarang tunangannya. Ah rasanya lebih bahagia kalau hubungan mereka sekarang sudah ke tahap ini, walau yang lebih mengikat adalah sebuah pernikahan.
__ADS_1
"Olivia, aku tahu kamu pasti benci banget sama aku karena buat keputusan sepihak ini. Tapi kamu harus tahu kalau aku melakukan ini karena terlalu cinta sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu. Mungkin dengan kita bertunangan dulu, aku di sana bisa lebih tenang," ucap Septian dari dalam hati membuat Olivia terdiam.