Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Sebuah Syarat


__ADS_3

Sebelum masuk ke dalam ruang rawat VVIP itu, Olivia mengatur nafasnya mencoba menenangkan diri dahulu dan tidak terlihat gugup. Ia lalu mengetuk pintunya beberapa kali sambil memanggil nama Septian.


Tetapi Olivia malah terkejut karena yang membukakan pintu adalah seorang pria asing, matanya terlihat memperhatikan dirinya dalam. Baru saja akan membuka suara, pintunya malah ditutup lagi. Tetapi tidak lama terbuka dan muncul lagi.


"Apa kamu bernama Olivia? Ingin bertemu Tuan Septian?" tanya pria itu dengan suara beratnya.


"Iya saya Olivia, apa bisa bertemu dengan Septian? " tanyanya meminta izin. Entahlah orang itu siapanya Septian, tapi wajahnya terlihat tidak asing.


"Boleh silahkan, Tuan sudah menunggu anda dari kemarin," katanya sambil membukakan pintu dengan lebar.


Olivia mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih, sedang lelaki itu keluar dan sepertinya akan memberikan waktu. Saat Olivia berbalik melihat ke ranjang, terlihat Septian duduk menyender di sana sambil memakan buah apel dengan santainya.


Senyuman Septian terlihat lebar melihat kehadiran perempuan itu, "Hei aku sudah duga kamu bakal kesini jenguk aku," ujarnya bahagia.


Olivia hanya tersenyum kikuk, padahalkan Ia datang kesini bukan berniat menjenguk Septian, hanya ingin membicarakan hal penting. Ia lalu mendekat ke arah ranjang, lalu berdiri di sisinya. Septian sedikit pun tidak mengalihkan pandangan darinya.


"Gimana keadaan kamu sekarang Septian? Sudah agak baikan belum?" Olivia memutuskan berbasa-basi dahulu, kalau langsung ke inti rasanya tidak enak.


"Ya kamu lihat sendiri, aku sudah lumayan baik lah, tapi wajah aku masih babak belur gini karena cowok kamu itu." Dilon langsung tertawa kecil setelah menyatakannya, tapi terdengar sinis.


Olivia menunduk sebentar, "Maaf ya Septian untuk itu, aku pikir Dilon juga memang agak keterlaluan."


"Gak papa Olivia, lagian nanti malam juga aku sudah dibolehin pulang kok kata dokter." Melihat wajah sendu perempuan itu, membuat Septian tidak enak sendiri. Walau Ia tahu, perempuan itu bukan kasihan padanya, tapi menanggung kesalahan kekasihnya.


Olivia kembali mengangguk sambil mengucap syukur, karena itu berarti keadaan Septian semakin membaik walau wajahnya itu belum membaik. Ia terdiam beberapa saat, merasa ragu dan gugup untuk mengatakan sesuatu, haruskah sekarang?

__ADS_1


"Em Septian, sebenarnya selain aku kesini jenguk kamu, ada yang mau aku bicarakan juga sama kamu," ungkap Olivia memberanikan diri.


"Ada apa? Apa tentang Dilon?" tanya Septian yang bisa langsung mengerti.


"Iya ini tentang Dilon, apa.. Apa kamu yang laporin dia ke polisi dan nyuruh untuk menangkap dia?"


Tanpa diduga, Septian menjawab dengan cepat, "Iya memang aku, aku yang laporin dia ke polisi. Dia sudah ditangkap kan?"


Deg!


Olivia langsung menelan ludah kasar mendengar jawaban santai dari Septian, tanpa beban sedikit pun. Ternyata benar dugaannya jika Septian lah yang melaporkan Dilon, sekarang Ia bingung harus bagaimana untuk membujuknya supaya bisa melepaskan Dilon.


Tetapi tentu tidak akan semudah itu!


Walaupun Olivia belum menjenguk Dilon di sel, tapi hanya membayangkannya saja sudah membuat sedih dan hatinya sakit. Olivia tidak tega jika Dilon harus mendekam di sel, pria itu pasti tidak terbiasa karena selama ini hidup bebas.


Septian lalu membawa sebelah tangan Olivia ke genggamannya, membuat perempuan itu terkejut sendiri, "Aku bisa saja cabut laporan itu, tapi dengan satu syarat," katanya.


Kedua mata Olivia berbinar, merasa ada harapan, "Apa syaratnya? Apa kamu mau Dilon yang minta maaf langsung? Oke nanti aku bilangin ke dia, aku yakin dia pasti mau kok."


Sebenarnya Olivia tidak mau harus memohon begini, karena dirinya terlihat menyedihkan sekarang. Merasa juga jika semua ini bukanlah kesalahan Dilon sepenuhnya, Septian juga salah karena yang memancing amarah Dilon lebih dahulu.


Tetapi mau bagaimana lagi, posisinya sejarang terpojok kan. Septian punya kuncinya, dan Olivia pun terpaksa harus memohon agar Dilon itu bisa bebas. Ia akan lakukan apapun agar Dilon tidak sampai dipenjara, tidak tega sekali rasanya.


Septian lalu mencondongkan wajahnya mendekat, "Kamu harus jadi pacar aku Olivia, jadi milik aku," katanya serius.

__ADS_1


"Apa?!" Olivia pun repleks melepaskan tangannya yang dari tadi digenggam Septian. Ia tidak salah dengarkan?


"Hanya itu syaratnya agar aku cabut gugatan pada Dilon. Aku baru akan lepasin dia kalau kamu sudah putusin dia dan jadi milik aku. Gimana, gampang kan?" Septian langsung tersenyum puas setelah mengatakan itu, merasa kali ini rencananya akan berhasil mendapatkan hati wanita pujaannya.


Kepala Olivia menggeleng, senyumannya terlihat sinis, "Jangan gila kamu Septian, kamu lagi meras aku ya?!"


"Bukan meras sayang, tapi itu namanya perjanjian. Aku akan kasih kamu waktu kok. Kalau kamu cepat nerimanya, Dilon pun akan cepat bebas. Tapi kalau lama, ya berarti Dilon bakal mendekam lebih lama di penjara," ucap Septian sinis.


Tatapan Olivia terlihat tidak percaya pada Septian, ekspresi wajahnya di matanya kali itu terlihat menyebalkan dan licik. Sungguh Olivia tidak menyangka syarat yang diberikan Septian adalah itu. Bagaimana bisa Ia menjadi pacar Septian, Ia kan pacarnya Dilon.


Entahlah apa Septian itu sudah merencanakan ini atau belum, tapi Olivia pikir Septian sepertinya memang sudah merencanakan ini dari awal. Pria itu benar-benar gila, tidak ada menyerahnya juga. Sekarang Olivia merasa bimbang, dirinya terpojok kan.


Melihat wajah kebingungan Olivia, membuat Septian merasa senang, "Bagaimana? Kamu sudah menentukan jawabannya?" tanyanya.


Tetapi tanpa diduga, Olivia malah menggeleng, "Enggak, aku gak mau mutusin Dilon dan nerima tawaran kamu itu. Aku yakin masih banyak cara lain supaya Dilon bisa bebas," jawabnya keras.


Senyuman di bibir Septian pun langsung menghilang, ekspresi wajahnya pun menjadi serius. Ia kira Olivia akan langsung menerima nya, tapi ternyata memang jangan terlalu berharap. Hanya saja Septian tidak akan menyerah, karena merasa sekarang dirinya sudah hampir mencapai puncak.


"Oh begitu ya, ya sudah terserah kamu Olivia. Kamu dan keluarganya berusaha saja semaksimal mungkin, tapi aku pastikan proses hukum Dilon akan tetap berjalan. Aku juga bisa saja meminta hukuman dia lebih berat. Aku jadi penasaran, apa kamu masih akan setia menunggu dia keluar dari penjara," celetuk Septian.


Olivia menggelengkan kepala, tatapannya terlihat tidak percaya, "Kamu benar-benar licik Septian, kamu pasti sudah rencanain ini kan? Kamu juga salah, tapi kenapa hanya Dilon yang dihukum?!"


Merasa emosinya semakin besar dan tidak terbendung, Olivia memutuskan pergi dari sana dengan langkah lebar. Saat keluar kamar, terkejut karena hampir menabrak laki-laki yang sepertinya asisten Septian. Apakah menguping dari tadi? Tetapi Olivia mengacuhkan dan melanjutkan langkahnya pergi dari sana.


Keputusannya bicara dengan Septian ternyata salah, seharusnya tadi tidak usah datang kesini!

__ADS_1


__ADS_2