Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Seperti Dipermainkan


__ADS_3

Karena langkah kaki Dilon cukup lebar, membuatnya dengan cepat menyusul Olivia dan berhasil menahan tangannya. Saat kekasihnya itu menoleh padanya, tatapannya terlihat menahan marah dan kecewa, membuat Dilon tersentak sendiri.


Olivia pun berusaha melepaskan tangannya. "Lepasin!" desisnya.


"Olivia, kenapa kamu bisa di sini? Gimana bisa kamu tahu aku lagi ada di sini?" Sebenarnya masih banyak yang ingin Dilon tanyakan, juga kenapa perempuan itu tahu alamat tempat rahasia ini.


"Memangnya kenapa, kaget ya aku bisa datang kesini? Kamu sih mana mungkin ngasih tahu aku, kamu aja selalu sembunyi-sembunyi gini sama aku. Dilon, kita pacaran bukan sih?" tanya Olivia dengan suara paraunya.


"Kenapa ngomongnya gitu? Kita pacaran lah. Oke aku minta maaf karena gak bilang ini sama kamu, tapi aku beneran harus ikut balapan ini. Tapi kamu tenang saja, sudah selesai kok dan aku baik-baik aja," jawab Dilon berusaha meluluhkan hati perempuan itu.


Olivia lalu menarik kasar tangannya, dan kali ini pun berhasil melepaskan diri. Wajahnya berpaling merasa kesal dengan respon pria itu, bukan jawaban inilah yang Ia harapkan. Merasa tidak puas saja dengan jawabannya itu.


Memang Dilon tidak kenapa-napa, seperti ke khawatirannya jika pria itu ikut balap liar. Tetapi tetap saja Olivia tidak mentolerir, karena baginya kejadian buruk itu tidak ada yang tahu. Bisa saja sekarang masih baik-baik saja, tapi bagaimana dengan nanti.


Dilon lalu satu langkah mendekat. "Sayang, maaf ya? Aku tahu kamu pasti kesel karena aku gak minta izin sama kamu," bujuknya.


"Sekarang pasti kamu seneng ya bisa dapetin motor kesayangan kamu itu lagi dari Septian? Selamat ya. Aku gak bisa bayangin kalau misal dia yang menang, apa kamu bakal ngasih aku gitu aja ke dia?" tanya Olivia menohok.


Bukannya langsung membantah, Dilon malah dibuat salah fokus dengan salah satu kata Olivia. Tunggu, bagaimana perempuan itu tahu jika lawannya tadi adalah Septian? Bukannya nama pria itu saja tadi tidak disebutkan ya? Perlahan Ia pun bisa langsung menyimpulkan sesuatu.

__ADS_1


"Olivia, apa kamu tahu aku lagi di sini dari dia? Si Septian yang ngasih tahu kamu kan?" tanya Dilon balik.


Olivia terlihat memutar bola matanya malas, malah berpikir jika Dilon itu sedang menghindari pertanyaannya tadi. "Jawab dulu pertanyaan aku tadi, kalau dia yang menang apa kamu bakal serahin aku ke dia? Lalu aku yang jadi pacar Septian?"


"Enggak lah, aku gak akan biarin itu terjadi. Aku aja tadi kesel banget denger dia bilang gitu, tapi aku gak mau buat keributan. Sumpah aku juga gak tahu kalau kamu lagi ada di sini, kalau aku tahu aku pasti belain kamu kok," jawab Dilon tegas.


Tetapi walau begitu, tetap saja Olivia merasa kecewa dan merasa jika dirinya dijadikan bahan taruhan, entah itu atas kesepakatan mereka berdua atau salah satu saja. Buktinya sekarang Dilon saja yang menang bisa mendapatkan lagi motornya, lalu bagaimana jika Septian yang menang?


Merasakan pria itu kembali membawa tangannya membuat mereka kembali bertatapan. "Sekarang jawab pertanyaan aku, kenapa kamu bisa tahu aku di sini? Apa si Septian yang ngasih tahu kamu?"


"Aku memang tahu dari seseorang, tapi aku gak akan kasih tahu kamu. Dia malah baik karena laporin ini ke aku, kalau pacar aku ini emang banyak tingkah dan bohong sama aku," Jawab Olivia dengan suara tertahan.


Olivia menyentak tangannya hingga terlepas dari Dilon. "Untuk sekarang aku pengen sendiri dulu, jangan ganggu aku dengan cara apapun. Kalau kamu lakuin itu, aku akan lebih marah!" Setelah mengatakan itu, Ia pun pergi dari sana.


Dilon tadinya akan mengejar, tapi kembali terhenti mengingat perintah Olivia tadi. Setelah melihat perempuan itu semakin jauh, Dilon langsung membanting helmnya ke tanah dan berteriak kesal. Mengumpat beberapa kali, merutuki kebodohannya.


Dilon mengerti kenapa Olivia bisa marah, selain Ia bohong juga perempuan itu merasa dijadikan bahan taruhan. Padahal Ia juga marah dan tidak terima dengan permintaan konyol si Septian tadi, bisa-bisanya meminta pacarnya jika menang. Yang ada Ia akan berikan bogeman.


Perhatian Dilon teralih melihat teman-teman nya menghampiri nya. "Dilon, lo gak papa? Mana cewek lo?" tanya mereka.

__ADS_1


"Dia udah pulang, Olivia bilang sekarang lagi gak mau diganggu, kayanya dia beneran marah sama gue." Dilon lalu mencengkram rambutnya kasar. "Sialan, siapa sih yang ngasih tahu dia gue di sini? Jadi Olivia juga harus lihat."


Tetapi teman-teman nya pun bilang mereka tidak tahu, bahkan Ian yang pertama menemukan saja kaget ada Olivia di tempat seperti ini. Mendengar itu membuat Dilon semakin yakin saja jika yang melaporkan sepertinya Septian. Mengingat pria itu, membuat emosinya kembali naik.


"Mana si pengecut itu? Gue harus kasih pelajaran sama dia!" desis Dilon dengan kedua tangan terkepal.


Teman-teman nya saling berpandangan, mereka bisa langsung paham jika yang Dilon sebutkan itu adalah Septian. Ian lalu bilang jika Septian dengan teman-teman geng nya sudah pergi beberapa menit lalu, motor yang Dilon minta kembali pun sudah di simpannya di depan.


"Sialan dasar pengecut, dia kabur setelah buat gue sama Olivia berantem. Emang anak itu harus dikasih pelajaran, ternyata dia belum kapok juga!" geram Dilon.


Refal lalu menepuk bahu Dilon berusaha menenangkan. "Tenang aja Lon, kita semua bakal bantuin lo kok," katanya.


Tetapi Dilon malah menggeleng. "Gak usah, ini urusan gue sama si cunguk itu. Kalau kalian ikutan, yang ada nanti dia juga manggil teman-teman nya terus kita bisa aja tawuran hebat. Gue pengen nyelesain ini sama si pengecut itu!" gumamnya pelan.


Dilon baru kali ini bertemu orang yang tidak tahu diri dan munafik seperti Septian, benar-benar licik juga. Septian itu melakukan berbagai cara untuk bisa menghancurkan nya, juga merebut kekasihnya. Entah semua itu terjadi karena Septian merasa dendam kepadanya atau bukan.


Tetapi Dilon tidak akan membiarkan Ia dikalahkan, selama ini Ia selalu menang dalam hal apapun. Dilon juga tidak akan membiarkan Olivia pergi begitu saja, apalagi ada yang merebutnya. Ia harus memikirkan cara supaya memberi pelajaran pada si Septian itu.


"Gue pulang duluan. Makasih Fan sudah minjemin motor lo, mesinnya bagus juga," kata Dilon yang sekarang sudah lebih tenang. Pria itu pun pamit pergi pada teman-teman nya.

__ADS_1


__ADS_2