Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 10


__ADS_3

"Ma-maaf saya mengganggu," ucap Ayana lalu kembali keluar dan tidak lupa menutup pintunya lagi.


Terlihat seringai terukir di bibir Daniella karena berhasil membuat pacar Om nya itu cemburu. Tetapi Ia terpekik saat tubuhnya di angkat lalu diturunkan dari pangkuan Kai, pria itu pun berdiri sambil merapihkan jas nya.


"Daniella, kamu ini apa-apaan sih? Kan gak enak dilihat orang, Ayana juga pasti salah paham," tanya Kai mengomeli, tapi nada suaranya tidak tinggi.


"Aku gak ngapa-ngapain kok, cuman pengen duduk aja sambil lihat kertas yang lagi Om baca," jawab Daniella pura-pura polos, padahal Ia memang ada niatan terselubung.


"Hah kamu ini memang," desah Kai sambil memijat pelipis nya, rasanya tidak tega kalau memarahi remaja itu.


Melihat Kai yang sepertinya akan keluar mengejar kekasihnya, Daniella pun langsung menahan tangannya dan menariknya duduk di sofa yang ada di sana. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari tas sekolah nya, tadi sempat drive thru memesan ayam goreng.


"Om sudah makan belum tadi siang? Tapi kalau sudah pun, pasti sekarang lapar lagi. Aku pesen buat dua orang soalnya aku juga laper, ayo makan bareng!" ajaknya riang.


Kai memperhatikan ada lumayan banyak makanan di meja. "Tapi Om gak terlalu lapar sih," jawab nya pelan.


"Jangan gitu dong, Om harus tetap makan soalnya aku sudah pesan banyak, aku gak akan bisa habisin sendiri."


Daniella mencomot dua potong kentang goreng dan menyuapkannya pada Kai, pria itu pun menerima saja lalu mengunyah pelan. Ia lalu menyimpan se kotak makanan di pangkuan Kai dan menyuruhnya makan juga.


Awalnya Kai menolak, tapi karena Daniella paksa akhirnya mau makan juga. Melihat Kai yang makan dengan cukup lahap, membuat gadis itu tersenyum senang. Pokoknya akan Ia tahan dulu, biar Ayana di luar semakin overthinking.


Jahat kah Daniella?


"Om kalau kemarin ikut sama aku dan si kembar ke Ancol pasti makin seru," ujar Daniella memulai obrolan lagi.


"Memangnya kalian kemarin ngapain aja di sana? Apa naik wahana juga?" Kai sudah terpancing, dan obrolan ini pasti akan lama.

__ADS_1


"Kita gak naik wahana gitu sih, si kembar bilang sudah bosen ke sana, jadi cuman main pasir di pantai nya," jawab Daniella.


Apapun Ia ceritakan kepada Kai, hal kecil juga dimana Filio yang sampai ngambek karena istana pasir nya dua kali di hancurkan oleh Fiona. Kai pun tertawa-tertawa merasa lucu dan tidak bisa membayangkan.


Saat bersama Kai, Daniella memang lebih banyak bicara dan semakin aktif. Bukankah seseorang jika sedang bersama orang yang disukai pun selalu seperti itu? Tidak terasa, makanan mereka pun habis dengan cepat karena sambil mengobrol.


"Mana katanya tadi gak laper, tapi nasi sama ayam nya sudah habis, tinggal sisa tulang aja," ledek Daniella sambil tersenyum sinis.


Kai pun tersenyum cengengesan malu sendiri. "Hehehe habisnya kelihatan enak dan jadi ke goda, tapi kayanya nanti malam Om gak usah makan malam lagi soalnya sudah kenyang banget," katanya.


"Iya deh bagus, jadi pas sampai di apartemen bisa langsung istirahat," sahut Daniella sambil menyimpan bekas makan mereka di atas meja.


Sebenarnya alasan lain Daniella membawa makanan ke sini adalah mencegah kemungkinan Kai akan makan malam bersama Ayana sepulang dari kantor. Pokoknya Ia akan melakukan berbagai cara supaya dua orang itu sering tidak berduaan.


Jika di kantor, mereka memang cukup profesional. Ayana pun selalu memanggil Kai dengan sebutan formal seperti yang lain, ya walau para karyawan pun tahu jika dua orang itu ada hubungan. Hanya saja di tempat kerja, tetap profesional. Bagus juga sih.


"Kayanya Om gak akan pulang sekarang, masih ada pekerjaan yang belum selesai karena kamu ganggu," jawab Kai.


Daniella pun mengerucutkan bibir nya, padahal Ia ingin sesekali di antar Kai pulang jika selesai main ke sini. Ia juga merasa khawatir kalau setelah dirinya pergi, Kai akan berduaan lagi dengan Ayana.


"Kamu minta jemput Papa kamu saja, bukannya biasanya juga pulang sekolah selalu Papa kamu yang jemput?" tanya Kai.


"Iya nanti aku bakal minta jemput," gumam Daniella pasrah.


Melihat Kai yang beranjak dan kembali duduk di meja kerjanya, membuat Daniella merasa tidak tega kalau harus mengganggu lagi. Kalau Ia melakukan itu, bisa saja jam pulang Kai akan semakin ngaret.


Padahal kedatangannya kesini hanya mengganggu, tapi Kai sedikit pun tidak pernah marah padanya. Itulah hal yang disukai Daniella, kesabaran nya.

__ADS_1


"Om kayanya aku mau pulang sekarang, udah sore juga. Om jangan terlalu malam ya pulang nya, harus istirahat yang cukup," ucap Daniella perhatian.


"Iya pasti, gak papa gak Om antar sampai ke bawah?" tanya Kai.


"Gak papa kok, aku kan bukan anak kecil." Sebelum pergi, Daniella sempat menyalami tangan Kai dan mengucap salam.


Setelah di luar, senyumannya langsung menghilang saat pandangannya bertemu dengan Ayana. Wanita itu beranjak dari duduknya dan terlihat berusaha tersenyum. Dari sorot matanya yang merah itu, apa mungkin habis menangis?


"Sudah selesai Daniella, apa kamu akan pulang sekarang?" tanya Ayana basa-basi.


"Iya sudah selesai berduaan nya sama Om Kai, sudah kenyang juga di dalam," jawab Daniella sambil tersenyum sinis. Apakah Ayana akan salah paham dengan perkataannya ini? Harus sih biar makin seru.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Daniella pun berjalan pergi dari sana. suara sepatu nya sampai menggema di lorong panjang itu, karena di sini tidak ada karyawan lain. Lantai paling tinggi khusus untuk orang yang memiliki jabatan tertinggi di perusahaan.


Beralih pada Ayana, perempuan itu kembali murung dan overthinking apa saja yang sudah tunangannya lakukan di dalam dengan Daniella. Ya Ia tahu gadis remaja itu menyukai Kai, Kai pun sudah mengatakan ini kepadanya.


Ceklek!


"Ayana, kamu tadi mau mengantar apa ke saya?" tanya Kai yang tiba-tiba keluar.


"Dokumen Pak, ini harus di tandatangani segera," jawab Ayana sambil berusaha tersenyum lagi, walau hatinya masih sakit.


Ingin sekali Ia sekarang bersikap layaknya kekasih, tapi selalu ingat nasihat Kai jika sedang di kantor harus bersikap profesional dan tidak boleh menunjukkan keromantisan pada siapapun. Harus menjaga nama baik Kai sebagai CEO.


"Oh ya sudah tolong antar ke dalam, kamu saya tunggu." Setelah itu, Kai masuk kembali dan menutup pintu.


Helaan nafas panjang keluar lewat celah bibir Ayana, Ia harus menahan diri setidaknya sampai jam kerja selesai. Kai pun sepertinya tidak ada niatan mau menjelaskan apapun, atau mungkin juga menunggu waktu yang pas.

__ADS_1


Kesabaran Ayana memang selalu di uji oleh seorang remaja puber.


__ADS_2