
Seperti janjinya waktu itu, sepulang sekolah Olivia akan langsung menjenguk Dilon di lapas. Di perjalanan Ia sempat membeli fast food kesukaan kekasihnya itu, berpikir jika Dilon pasti sudah lama tidak mencicipi makanan enak karena berada di sana.
Melihat pria itu yang lagi-lagi di antar seorang penjaga, membuat Olivia mengembangkan senyuman. Walaupun sekarang Ia tidak menangis, tapi percayalah hatinya sakit dan berusaha sekuat tenaga menahan tangisan. Olivia tidak mau membuat Dilon kepikiran.
"Hei aku datang lagi, gak papa kan?" tanya Olivia setelah Dilon duduk di depannya.
"Ck pertanyaan apa itu? Malahan yang paling aku tunggu-tunggu itu kamu, setiap waktu aku terus mikirin kamu," jawab Dilon agak ketus.
Olivia pun tertawa kecil, "Hehe iya-iya, aku juga kangen sama kamu makanya jenguk lagi kesini. Hei aku bawa makanan kesukaan kamu, sama kopi nya juga."
Melihat kekasihnya itu menyimpan kresek dengan nama brand makanan juga minuman kesukaan nya, membuat Dilon terpingkal sendiri. Memang ada-ada saja, tapi membuatnya juga terharu karena Olivia adalah yang paling pengertian.
Kebetulan Dilon memang belum makan malam karena belum waktunya, hari ini rasanya senang sekali karena bisa makan-makanan enak. Untungnya penjaga pun mengijinkan, walau tadi sempat mengecek karena khawatir ada kecurigaan sesuatu.
Saat Dilon menggigit ayam goreng itu, kedua matanya langsung terpejam menikmati, "Emm enak banget, kaya makanan surga," celetuknya yang mengundang tawa Olivia.
"Apaan sih? Lebay banget," kata Olivia jadi malu sendiri karena ada penjaga di dekat pintu.
"Hei aku serius, ini enak banget." Dilon lalu sedikit mencondongkan tubuhnya, "Makanan di sini hambar, gak enak banget, kaya makanan kucing," bisiknya.
"Ya sudah habiskan yang ini, biar nanti gak perlu makan lagi," ucap Olivia yang tidak tega sendiri. Ia memang belum pernah makan-makanan penjara, tapi sudah bisa dibayangkan tidak enak.
__ADS_1
Melihat pacarnya itu yang makan dengan lahap, membuat Olivia senang menontonnya juga. Dengan perhatiannya Olivia juga terkadang membersihkan mulut Dilon yang belepotan makanan sanking terlalu lahapnya makan.
Olivia merasa bingung melihat Dilon yang terlihat santai saja, tidak pernah menunjukan ekspresi sedih di depannya. Kenapa? Padahal Olivia yang hanya melihatnya saja kepikiran, karena keseharian Dilon harus berubah menjadi tidak nyaman begini.
"Kamu tidur gimana? Apa disediakan kasur di sini?" tanya Olivia penasaran.
"Enggak, cuman pakai tikar aja," jawab Dilon.
Kedua mata Olivia terbelak, "Serius kamu?!" pekiknya.
"Hm, makanya badan aku sakit-sakit. Nanti kalau hukumannya sudah resmi, aku mau pesen sel khusus aja deh, yang ada kasur sama televisi nya," celetuk Dilon sambil terus melanjutkan makan.
Kernyitan dalam terlihat di kening Olivia, merasa kesal mendengar itu, "Kamu ngomong apa sih? Kok ngomongnya gitu? Harusnya kamu yakin dong bakal keluar dari sini, malah sudah rencanain hal konyol begitu!"
Dilon bisa langsung menyimpulkan jika Olivia merasa sedih kepadanya, tidak tega juga melihatnya seperti ini. Entahlah apa Dilon harus bersyukur atau bagaimana, karena musibah yang menimpanya ini membuat hubungan mereka semakin baik. Dilon bahkan bisa melihat sedalam apa perasaan perempuan itu padanya.
"Sayang jangan nangis, sorry aku cuman bercanda," ucap Dilon sambil menggigit pipi bagian dalamnya.
"Ck bercanda kamu gak lucu sama sekali! Pokoknya kamu gak boleh lama-lama di sini, harus yakin juga sebentar lagi akan keluar. Lagian sebentar lagi ujian kelulusan, kamu harus ikut juga!" tegas Olivia tanpa menerima bantahan.
Padahal bukan maksud Olivia menyuruh pria itu segera keluar karena untuk mempersiapkan ujian, tapi hanya tidak mau saja Dilon berlama-lama di dalam penjara. Pria itu sangat bebas, pasti tertekan sekali karena hari-harinya malah harus diam di dalam sel.
__ADS_1
Mereka juga pasti merindukan saat-saat romantis bersama, Jalan-jalan atau terkadang hanya nongkrong saja. Banyak juga hal menyenangkan lain di luar sana, dari pada hanya diam di penjara. Di sini kan sudah pasti tidak akan bisa main ponsel juga, akan bosan sekali.
Obrolan mereka lalu terhenti saat penjaga menghampiri, "Maaf mengganggu, tapi jam jenguk sudah habis," katanya memberitahu.
Helaan nafas berat terdengar keluar dari celah bibir kedua orang itu, merasa sedih karena mereka harus berpisah lagi. Tidak terasa sekali, sanking terlalu menikmati kebersamaan. Makanan Dilon juga belum habis semua, tapi percayalah pria itu sudah tidak ada nafsu makan lagi.
"Aku pulang dulu ya, besok janji bakal ke sini lagi. Kamu yang sabar ya Dilon, aku yakin sebentar lagi kamu akan keluar dari sini," ucap Olivia lalu memeluk pria itu erat.
Dilon mengusapi punggungnya, "Iya sayang, makasih ya sudah jengukin aku."
Melihat pria itu yang digiring penjaga lagi masuk ke ruangan lain, membuat Olivia tidak bisa menahan air matanya. Dadanya terasa sesak sekali, tenggorokannya pun tercekat karena dari tadi menahan tangis. Setelah Dilon pergi, akhirnya Ia keluarkan juga.
Olivia merasa tidak tega dengan keadaan kekasihnya itu. Melihat Dilon yang selalu terlihat baik-baik saja di depannya, malah membuatnya yakin jika sebenarnya pria itu tidak baik-baik saja. Ingin sekali Olivia memeluknya terus, tapi tidak bisa.
Di lorong perjalanan menuju keluar, Ia malah tidak sengaja mendengar obrolan dari salah satu ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Suaranya itu terasa familiar, saat Olivia mengintip ternyata itu Om Aiden-Papanya Dilon. Mungkin dengan pengacaranya.
"Saya sudah bertemu lagi dengan pelapor, tapi keputusan dia tetap sama yaitu tidak mau berdamai dan kasus ini tetap berjalan. Polisi juga sudah memutuskan sidang akan dimulai minggu depan, hukuman Tuan Dilon sudah di tentukan dari sekarang," ucap pengacara yang memakai kaca mata itu.
Raut wajah Aiden terlihat semakin muram, "Kenapa dia tidak mau berdamai? Uang kompensasinya sudah kamu tawarkan kan? Apa kurang?"
"Tidak Pak, saya sudah tawarkan terus, tapi dia tetap menolak dan dengan sombongnya malah bilang jika uangnya lebih banyak. Sepertinya Tuan Dilon dengan si pelapor memiliki hubungan yang buruk, jadi saya rasa ini akan sangat sulit," jawab pengacara itu.
__ADS_1
Olivia yang mendengarkan dari luar merasa semakin terbebani dan tidak tega. Ternyata Septian tidak mau berdamai juga, bahkan sidang akan segera dimulai. Melihat kasusnya kali ini, Olivia merasa hukumannya pun akan cukup berlipat.
"Aku harus bagaimana?" tanyanya seorang diri. Di saat putus asa begini, lagi-lagi Ia malah terpikirkan dengan tawaran Septian waktu itu.