Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Tidak Bisa Lebih


__ADS_3

Diomelin seperti itu oleh Dilon, membuat Vanessa merasa sedih dan tersinggung. Biasanya jika pria itu marah, Vanessa selalu menanggapi santai dan tidak memasukan ke dalam hati. Tetapi kali ini Dilon terlihat serius, tatapannya juga sangat tajam.


"Kalau aku jawab jujur, aku emang gak suka lihat kamu sama dia. Aku cemburu Dilon, sekarang aku ngerasa kamu semakin jauh dan gak perhatiin aku terus," jawab Vanessa.


"Terus kamu maunya bagaimana? Aku terus perhatiin kamu begitu? Kita cuman berteman Vanessa, jangan terlalu bergantung terus sama aku," ucap Dilon yang merasa mulai lelah dengan sikap sahabatnya itu.


Kedua mata Vanessa perlahan berkaca-kaca, tangisannya pun pecah dan Ia menangis cukup keras. Perasaannya sekarang campur aduk sekali, merasa sedih harus menerima kenyataan ini.


Bagi Vanessa, sekarang dirinya hanya memiliki Dilon. Apakah pria itu merasa kerepotan harus menjadi temannya? Seolah dirinya hanya beban saja. Padahal Vanessa sangat bergantung pada Dilon, memberikan kepercayaannya pada pria itu.


"Vanessa sudah jangan menangis, bicaralah sesuatu. Aku akan dengar semua keluh kesah kamu," ujar Dilon sambil menepuk-nepuk bahunya berusaha menenangkan.


Tetapi bukannya malah berhenti menangis, Vanessa semakin terisak lalu memeluk Dilon. Sedangkan Dilon hanya menghela nafas berat, membiarkan sebentar sampai perempuan itu lebih tenang. Kalau Olivia melihat, pasti akan salah paham lagi.


"Dilon, aku cuman punya kamu. Jangan tinggalin aku, aku gak bisa hadapin dunia ini sendirian. Kamu jangan tinggalin aku," pinta Vanessa lirih.


"Aku gak akan pergi jauh Vanessa, tapi aku harap kamu juga tahu bagaimana batasan di antara kita. Apalagi sekarang aku sudah punya pacar, kamu juga harus bisa menghargai dia," ucap Dilon.


Rasanya sulit sekali jika harus melakukan itu, Vanessa inginnya memiliki Dilon seorang. Setelah merasa tangisannya berhenti, Vanessa pun meregangkan pelukan lalu menatap pria itu dalam.


"Dilon, aku gak tahu apa kamu selama ini sadar atau tidak. Aku sudah suka sama kamu dari dulu, aku menganggap kamu orang yang spesial di hati aku," ucap Vanessa menurunkan egonya, jika terus dipendam hatinya akan terus sakit.


Mendapatkan pernyataan cinta dari sahabatnya sendiri membuat Dilon merasa bingung harus berbuat apa. Kalau boleh jujur, Dilon memang merasa jika Vanessa ada rasa tertarik kepadanya, dan baru kali ini di ungkapkan.


"Vanessa maaf aku--"

__ADS_1


"Bohong, masa kamu gak ada perasaan apapun sama aku? Pasti ada Dilon, kita sudah bersama dari lama. Pasti ada kan?" tanya Vanessa berharap.


Melihat tatapan penuh harap perempuan itu, membuat Dilon jadi tidak tega untuk menolaknya. Tetapi kalau berbohong, hubungan ini akan semakin rumit. Sepertinya Dilon harus jujur dan pertegas saja.


Pria itu terlebih dahulu melepaskan pelukan Vanessa, memundurkan duduknya memberi jarak. Dilon harus menyelesaikan ini, Ia tidak mau membuat Olivia semakin salah paham dan tersakiti. Mempertahankan hubungan itu nomor satu.


"Maaf Vanessa, tapi dari dulu sampai sekarang perasaan aku tetap sama. Kita teman, tapi aku sudah menganggap kamu keluarga. Perasaan sayang aku hanya itu saja, tidak lebih," ujar Dilon dengan ekspresi seriusnya.


"Kenapa? Apa aku gak seperti tipe ideal kamu? Aku harus apa Dilon supaya kamu bisa suka sama aku?" tanya Vanessa memohon.


Dilon menggeleng, "Jangan begini Vanessa, jangan memohon begitu pada laki-laki. Kamu perempuan, jangan rendahkan diri kamu sendiri untuk mengejar cinta seseorang."


"Tapi aku beneran cinta banget sama kamu Dilon, perasaan aku pun dari dulu tetap sama," lirih Vanessa dengan kepala menunduk.


"Aku yakin suatu saat kamu juga akan bertemu laki-laki yang baik, yang bisa menerima kamu," ucap Dilon memberikan dukungan.


"Tapi yang seperti kamu tidak akan ada dua nya Dilon," kata Vanessa dengan tatapan sendunya.


Dilon lalu memegang bahu perempuan itu sambil menatap ke dalam matanya, "Jangan cari yang seperti aku, setiap orang itu memiliki kelebihannya masing-masing. Kamu juga harus bahagia Vanessa, jangan terus larut dalam kesedihan ini."


Rasanya perasaan Dilon lega sekali setelah mengatakan itu, semua isi hatinya pun sudah di ungkapkan. Berharap Vanessa ini bisa mengerti, karena ini juga untuk menyelamatkan persahabatan mereka.


Dilon sayang pada Vanessa, tapi pandangannya hanya sebatas keluarga saja. Dilon menemani Vanessa karena merasa tidak tega perempuan itu sekarang hanya tinggal sendirian, sebagai teman yang baik tentu harus menemaninya terus.


"Tidak mudah untuk bisa melupakan seseorang, tapi aku akan berusaha," ucap Vanessa sambil berusaha tersenyum, walau hatinya sakit.

__ADS_1


"Terima kasih Vanessa sudah mengerti," ucap Dilon bangga sendiri.


Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam, merasa canggung satu sama lain. Mereka baru saja sudah mengeluarkan isi hati masing-masing, bagaimana tidak canggung? Biasanya selalu santai, tapi kali ini suasananya terasa berbeda saja.


"Kamu gak akan ngejar Olivia? Dia pasti marah kamu malah diam di sini," tanya Vanessa tiba-tiba, apakah perempuan itu benar sudah ikhlas dengan hatinya?


"Gak papa aku pergi?" Dilon meminta izin, karena tidak mau perempuan itu setelah Ia tinggalkan malah semakin sedih.


"Gak papa, sudah sana pergi!" Vanessa bahkan mendorong punggung Dilon, seperti mendukungnya.


Percayalah sekarang Vanessa hanya sedang pura-pura kuat, hatinya masih cemburu melihat perjuangan pria itu pada orang yang dicintainya. Tetapi Vanessa harus mulai membiasakan diri, nanti juga hatinya pasti akan baik-baik saja. Dan jika itu benar, itu berarti Vanessa sudah melupakan Dilon.


Dilon lalu pamit pulang, sempat khawatir Vanessa itu kenapa-napa setelah Ia tinggalkan, tapi perempuan itu pasti tidak akan se ceroboh itu juga. Sekarang tujuan Dilon adalah rumahnya Olivia, sudah pasti pacarnya itu ada di sana.


Di perjalanan tidak lupa Dilon membeli sebuah buket bunga yang dihias dengan cantik. Pemilik toko bunganya bilang bunga secantik ini pasti bisa meluluhkan kekasihnya yang marah, ya semoga saja benar.


"Permisi Pak, bisa bukain gerbang gak? Saya mau ketemu Olivia," tanya Dilon pada salah satu satpam yang berjaga di depan gerbang.


"Aduh maaf Den Dilon, tapi Bapak tidak bisa bukain pintunya. Tadi Non Olivia bilang kalau anda datang, jangan diizinkan masuk," jawab satpam itu jujur dengan ekspresi wajah tidak enaknya, takut menyinggung.


Mendengar jika dirinya ditolak, membuat Dilon merasa sedih, senyuman di bibirnya pun langsung hilang. Sepertinya kali ini Olivia benar marah, padahal Dilon ingin menceritakan sesuatu agar pacarnya itu tidak salah paham lagi.


"Kalau gitu bisa titip bunga ini gak Pak? Bilang ya dari saya," pinta Dilon lalu memberikan buket bunga itu lewat celah di gerbang.


"Iya Den nanti Bapak antarkan," angguk Satpam itu berbaik hati.

__ADS_1


__ADS_2