Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Tidak Bisa Lebih


__ADS_3

Rasanya Olivia gugup sekali akan masuk ke kelas, lebih tepatnya Ia gugup karena akan bertemu Dilon. Setelah mengumpulkan keberanian, Ia pun masuk sambil menundukkan kepala enggan menatap sekitar.


Baru saja duduk di bangkunya, terlihat ada sepasang kaki berdiri di sebelah mejanya. Tanpa sadar Olivia menelan ludah kasar, dari wangi parfume nya sudah bisa Ia tebak siapa itu walau tanpa melihat wajahnya.


"Gue telepon tiga kali tapi ponsel lo gak aktif, tadinya mau jemput dan berangkat bareng. Kenapa gak diangkat?" tanya Dilon dengan nada suara rendahnya.


"Gak papa, lagi gak pegang HP aja," jawabnya asal.


Dilon lalu menarik salah satu kursi tidak jauh dari sana, lalu duduk di sebelah Olivia. "Kenapa lagi? Jangan bilang lo hindarin gue."


"Enggak kok, sudah ah pelajarannya--" Perkataan Olivia terhenti saat Dilon malah mengangkat dagunya hingga membuat pandangan mereka pun bertemu.


Setelah bertatapan beberapa saat, Olivia menepis kasar tangan pria itu lalu kembali menundukkan wajah. Sudah bisa dipastikan gerak-geriknya ini akan membuat Dilon curiga, apa pria itu pun akan menotis kenapa matanya bengkak?


Untungnya sebelum Dilon bertanya, seorang dosen masuk ke kelas dan menyuruh semua mahasiswanya duduk di tempat masing-masing. Dilon pun dengan terpaksa pergi dan pindah, membuat Olivia dapat bernafas lega sejenak.


"Sebelum kita mulai pelajarannya, silahkan kumpulkan dulu tugas yang Bapak kasih beberapa hari lalu, tugasnya berkelompok kan?"


Olivia pun segera menyiapkan semua, tugasnya yang Ia kerjakan kemarin dengan Dilon untungnya sudah selesai. Ia pun beranjak untuk memberikan beberapa kertas yang sudah di kumpulkan menjadi satu itu ke depan bersama murid lain.


Sempat Olivia melirik Dilon lagi, tapi hanya sekilas karena Ia selalu gugup menatap lama lelaki itu. Pelajaran pun dimulai, Olivia mencoba fokus belajar dan melupakan sejenak masalahnya.


Waktu berjalan dengan cepat, pelajaran pertama pun selesai juga dan pelajaran selanjutnya akan dimulai setengah jam lagi. Olivia memilih beranjak dan akan pergi dari kelas, tapi sayangnya Dilon lebih cepat menghalanginya.

__ADS_1


"Olivia, ayo bicara!" ajak Dilon sambil menahan tangannya.


Tadinya Olivia menolak dan berusaha menghindar, tapi Dilon tetap kekeuh dan menariknya pergi keluar kelas. Sepanjang perjalanan di Koridor, Olivia merasa sedikit malu karena banyak yang melihat, mereka sepertinya para fans Dilon.


Ternyata pria itu membawanya ke taman belakang, duduk di bawah bangku yang ada di bawah pohon. Suasana di sana lumayan sepi, walau bukan hanya mereka saja di sana. Olivia menggigit bibir bawahnya merasa saat ini Ia tidak akan bisa menghindar lagi.


"Lo kenapa sih gini lagi? Apa gue ada salah?" tanya Dilon yang merasa gemas sendiri melihat sikap perempuan itu dari tadi pagi, terlihat sekali menghindarinya.


Olivia pun baru mengangkat kepala membalas tatapan pria itu, "Bukannya kita memang harusnya begini ya? Kita kan bukan siapa-siapa."


Kedua mata Dilon sempat terbelak mendengar itu, syok sendiri dengan pernyataan menohok Olivia. Sebelah sudut bibirnya terangkat, merasa sakit hati sendiri dihadapkan pada kenyataan itu. Pertanyaannya, lalu apa dengan kemarin?


"Gak mungkin tiba-tiba lo berubah gini, kenapa? Pasti ada sesuatu kan? Atau mungkin si Septian tahu kita deket lagi?!" tanya Dilon menuntut, yakin ada ke ganjalan dengan perubahan sikap Olivia.


Dilon mengusap wajahnya kasar merasa tidak menerima dengan perubahan sikap Olivia. Memang kalau benar seharusnya begitu, tapi bukan ini yang Dilon harapkan. Ia kira hubungannya dengan Olivia akan semakin baik.


Dengan kasar Dilon duduk di sebelah perempuan itu, menatap nya berusaha ingin membaca isi pikirannya kalau bisa. Tetapi lagi-lagi selalu menghindari kontak mata, membuat Dilon frustasi saja.


"Terus maksud kemarin lo bilang begitu apa hah? Lo mau ngasih gue harapan palsu atau lo cuman bohong?" tanya Dilon miris.


"Aku.. Aku memang jujur masih ada rasa sama kamu, tapi kita kayanya gak bisa lanjutin karena aku sudah jadi milik laki-laki lain. Lebih baik begini saja, menjadi orang asing," jawab Olivia berat.


Tatapan Dilon terlihat menyendu, "Bukannya lo gak cinta sama si Septian? Lo terpaksa sama dia, kenapa lo tetap mau bertahan?"

__ADS_1


"Awalnya mungkin memang begitu, tapi perlahan aku mengerti kalau ini mungkin yang namanya takdir. Seharusnya aku bisa menerima dia, selama ini Septian selalu memperlakukan aku dengan baik."


Olivia memejamkan matanya sambil menggerutu di dalam hati tidak ikhlas sekali mengatakan ini. Memang benar Ia seharusnya bersikap begitu, tapi perasaan tidak bisa dipaksakan dan rasanya sulit saja mencintai Septian.


Lewat ekor matanya, Olivia melirik Dilon. Ada perasaan tidak enak di hatinya melihat tatapan sendu lelaki itu, apa sakit hati dan merasa terhina karena Ia seperti mempermainkan perasaannya?


"Maafin aku Dilon," ucap Olivia pelan. Ya Ia harus meminta maaf.


Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Suasana ini tentu sangat tidak nyaman, tapi sepertinya memang harus diselesaikan dan dibicarakan dengan baik.


"Oke kalau lo maunya gitu, kita mending kaya gini aja. Tapi gue gak akan kaya dulu, gue bakal tetap berusaha dapetin lo lagi dengan cara apapun. Lo sendiri sekarang udah tahu gimana perasaan gue, jadi gue gak akan bohongin itu." Setelah mengatakan itu, Dilon pun beranjak dari pergi dari sana.


Sedangkan Olivia sekarang sedang berusaha menahan tangisnya, antara merasa sedih dan terharu. Ternyata Dilon tidak semarah itu padanya, bahkan katanya ingin memperjuangkannya. Olivia merasa tidak enak hati karena Ia malah berbohong.


Tidak mau terlalu larut dalam kesedihan, Olivia menghapus air matanya dan akan kembali ke kelas juga karena pelajaran akan segera dimulai. Saat beranjak Ia malah terkejut karena melihat ada Kirana berdiri tidak jauh darinya, saat bertatapan perempuan itu pun terlihat terkejut.


Kirana lalu berjalan menghampirinya dan tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral padanya, "Ini buat kamu," katanya.


"Hah? Buat apa ya?"


"Gak papa, mungkin aja kamu haus." Kirana lalu mengusap bahunya, "Aku tadi sempat lihat kamu sama Dilon, kayanya kalian lagi ada masalah ya. Semangat ya Olivia."


Tanpa bisa ditahan, sudut bibir Olivia berkedut dan tersenyum tipis. Sepertinya tidak salah kalau Ia mulai membuka diri dan berteman dengan orang-orang baru, tidak bisa sendiri dan menutup diri terus.

__ADS_1


Keduanya lalu pergi dari sana menuju kelas bersama. Kirana terus mengajaknya mengobrol, membuat perasaan sedih yang Olivia rasakan pun perlahan menghilang. Mungkin berteman dengan Kirana tidak buruk juga.


__ADS_2