
"Terus sekarang apa kamu lagi deket sama dia? Cepat banget, bukannya kamu baru putus dari Dilon?" tanya Keisha, nada suaranya terdengar jadi agak ketus.
"Bukan gitu Mah, kami cuman temen kok," jawab Olivia membela diri.
"Terus kenapa dia deketin kamu? Mama lihat kayanya Septian itu ada perasaan suka ya sama kamu. Apa dia segigih itu pengen dapetin kamu?"
Olivia menghembuskan nafasnya kasar merasa bingung sendiri menjawab apa, berpikir jika Mamanya itu orang yang cukup pintar membaca situasi. Jujur saja Ia agak malu, bahkan Refan pun yang sahabat Dilon melihat. Olivia jadi merasa orang yang kurang ajar karena bisa dengan cepat move on.
Apakah dirinya setelah ini akan dianggap pemain?
"Apa jangan-jangan dia yang buat hubungan kamu sama Dilon berakhir?" tanya Keisha menduga.
Olivia jadi panik sendiri mendengar itu, "Apaan sih? Bukannya Mama sama Papa yang minta aku putus sama Dilon? Kalian kan katanya gak nge restuin lagi, " celetuknya.
"Tapi--"
"Huft sudah ah, aku gak mau bahas Dilon lagi. Lagian aku sama dia juga sekarang gak ada hubungan apapun lagi, aku mau belajar buat lupain dia," sela Olivia dengan hati yang tegar.
Memang ini pasti tidak akan mudah, melupakan seseorang yang berarti di hatinya sangatlah sulit. Apalagi Olivia masih ada perasaan pada mantan kekasihnya itu, mungkin begitu pun dengan Dilon. Sayangnya mereka memang tidak bisa melanjutkan lagi hubungan.
Keisha mendekati putrinya lalu mengusap bahunya pelan, "Olivia, Mama pikir sekarang lebih baik kamu sendiri dulu, menata hati kamu dan jangan langsung berhubungan sama orang baru."
Ya Olivia juga inginnya begitu, tidak mau dulu pacaran karena untuk menyembuhkan hatinya pasti butuh waktu. Namun Septian kan tidak membiarkannya begitu, pria itu bahkan sudah memintanya menjadi pacarnya dari saat awal persyaratan itu.
__ADS_1
Sebenarnya kalau misal mereka dapat menyembunyikan hubungan secara diam-diam, Ia bisa-bisa saja menjalaninya. Tetapi sekarang entahlah bagaimana, apalagi Refan tadi melihat dan bisa saja melaporkan hal ini pada Dilon dan temannya yang lain.
"Tapi kalau misal Septian itu serius pengen sama kamu, lihat dulu bagaimana perjuangan dia. Mama sih tidak mau terlalu mengekang, karena perasaan kamu ya milik kamu sendiri," lanjut Keisha menasehati.
Olivia mengangguk pelan, "Iya Mah aku tahu, kalau gitu aku ke kamar dulu," pamitnya.
Beberapa hari ini Olivia merasa lelah sekali, entah itu badan ataupun hati dan pikirannya. Inginnya sendiri mengurung diri, tapi selalu saja ada yang mengganggu. Ya walau tahu mereka semua hanya khawatir kepadanya.
Setelah di kamar, perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap kosong langit kamar, jika sedang sendirian begini hal yang paling Ia pikirkan itu ya Dilon. Terbukti jika Olivia memang belum bisa move on.
"Kalau Dilon tahu aku jalan sama Septian, apa dia akan marah atau gak Terima ya? Tapi.. Kita kan sudah putus," gumamnya seorang diri.
Walau begitu, dari dalam hati Olivia menginginkan Dilon merasa cemburu dan tidak terima. Karena itu menandakan jika hatinya masih ada untuk dirinya. Berbeda lagi kalau bersikap acuh, Olivia akan mengira jika Dilon memang sudah melupakannya.
***
Walaupun lelaki itu berdiri membelakangi nya, tapi perawakannya sudah Olivia kenali. Septian. Pria itu menepati perkataannya jika hari ini akan datang menjemputnya, padahal Ia sempat berharap tidak datang.
"Septian," panggil Olivia.
Septian pun berbalik, senyuman lebar langsung terukir di bibir nya, "Hai sayang, sudah siap berangkat sekolah?" tanyanya.
"Hm, tapi aku gak suka kamu manggil aku begitu," ungkap Olivia dari dalam hati. Menurutnya panggilan Septian itu terlalu berani, sedangkan baginya saja hubungan mereka saat ini tidak jelas.
__ADS_1
Septian terlihat menghela nafas, "Ya sudah maaf, aku akan panggil kamu nama saja." Ya untungnya Septian mengalah dan tidak keras kepala.
Karena tidak mau kedua orang tuanya keluar lalu bertemu Septian, Olivia pun segera mengajak pria itu berangkat sekolah sekarang. Kendaraannya masih sama seperti kemarin, mungkin nanti akan membuat heboh sekolah karena ada murid membawa mobil mewah begini. Biasanya Septian selalu membawa motor atau mobil biasa.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, lebih tepatnya Olivia yang terlalu pendiam sampai membuat Septian merasa canggung sendiri memulai. Pria itu tahu saat ini Olivia sedang banyak pikiran, masih butuh waktu untuk bisa mengobati hatinya. Dan Septian akan selalu berada di sisinya, menemaninya.
"Septian nanti aku turun agak jauh dari gerbang sekolah ya, aku belum mau ada yang tahu tentang hubungan kita," ucap Olivia dengan suara dinginnya.
Septian tanpa sadar meremas setir mobilnya, "Kenapa belum mau juga? Sampai kapan? Bukannya perjanjian waktu itu kita meresmikan hubungan setelah ujian selesai ya?"
"Tapi aku rasa ini masih terlalu cepat, apalagi aku dan Dilon baru putus dua hari yang lalu." Olivia lalu membalas tatapan Septian, "Semua orang pasti akan langsung menilai aku buruk, apa kamu mau?"
Ditanyai seperti itu membuat Septian jadi kepikiran sendiri dan tidak enak hati. Padahal Ia tidak sabar sekali mengungkap hubungannya dengan Olivia pada semua orang, apalagi pada Dilon. Olivia selalu saja mengalahkan egonya, perasaannya pun selalu tidak tega.
"Huft oke, aku ngelakuin ini karena gak mau mereka pandang kamu buruk," desah Septian setelah bergulat dengan hatinya.
Tanpa sadar Olivia oun bernafas lega, "Makasih," ucapnya pelan.
Beberapa meter lagi sampai di gerbang sekolah, Septian pun memberhentikan mobilnya di sisi jalan. Olivia tidak langsung turun karena memperhatikan sekitar dulu, saat merasa sudah lenggang dan tidak ada yang Ia kenali, Ia pun bersiap turun dari mobil. Tetapi tangannya malah ditahan, membuat kepalanya menoleh ke belakang.
"Aku ngasih kamu kesempatan lagi untuk nyembunyiin hubungan kita dari semua orang. Tapi kamu juga jangan bersikap dingin apalagi cuek sama aku, ingat kalau kita sekarang pacaran. Mengerti?" kata Septian dengan ekspresi wajah seriusnya.
Olivia hanya berdehem pelan lalu melepaskan tangannya itu. Ia pun segera turun dari mobil Septian dan berlari menyebrang, bersikap layaknya tidak terjadi apapun. Mobil pria itu pun kembali berjalan, membuatnya bernafas lega.
__ADS_1
Kelas dua belas memang tidak diwajibkan pergi ke sekolah lagi, tapi jika ingin memperbaiki nilai pasti datang karena untuk mempersiapkan masuk universitas juga. Entahlah apa nanti Dilon ada atau tidak, mereka pasti akan sangat canggung jika bertemu.
"Semoga aja hari ini gak terjadi apapun." Batin Olivia saat memasuki gerbang sekolah.