
"Oh ini, kenapa harus dibalikin? Gue masih punya banyak, buat lo aja," kata Dilon tanpa menerima sapu tangannya.
Tetapi Olivia tetap memberikan lagi pada si pemiliknya, Ia membawa sebelah tangan Dilon dan menyimpan sapu tangannya agak kasar. Tatapan mereka pun bertemu lagi, membuat suasana tiba-tiba menjadi canggung.
Olivia memilih menarik tangannya lagi sambil berdehem pelan dan memperhatikan sekitar Kampus yang ramai. Selalu saja jika bertemu pandang dengan mantan kekasihnya itu, detak jantungnya masih cepat menandakan jika dirinya masih suka.
"Terus gimana luka lo? Sudah diperiksa ke dokter kan?" tanya Dilon kembali membuka suara.
"Enggak sih, lagian ini cuman luka kecil. Badan aku juga sudah sehat lagi, gak kenapa-napa," jawab Olivia.
Tatapan Dilon terlihat memicing, "Ck dasar bodoh, sok-sok an kuat. Kalau ke dokter kan bisa tahu lebih dalam lukanya, gimana kalau misal luka yang lo dapetin itu di dalam?!" tanyanya sensi.
"Ish enggak kok, lagian aku cuman jatuh dari motor, udah gitu aja," bela Olivia sambil mengerucutkan bibir tanpa sadar.
Ada perasaan hangat yang Olivia rasakan melihat sikap Dilon seperti itu, seperti sedang mengkhawatirkan dirinya. Bibirnya berkedut berusaha menahan senyuman, tidak bisa bohong dadanya sekarang berdetak semakin tidak karuan.
Walaupun nada suara Dilon selalu ketus, tapi Olivia merasa pria itu memang masih perhatian kepadanya. Apakah Dilon juga masih ada rasa seperti dirinya? Tidak bisa Ia pastikan, lagi pula mereka sudah berpisah lumayan lama.
"Em sudah dulu ya, makasih waktu itu sudah nolongin aku," ucap Olivia menurunkan gengsinya, dan memang sudah sepatutnya juga Ia berterima kasih.
"Gak gratis!" celetuk Dilon.
"Hah maksudnya?" tanya Olivia bingung. Jangan bilang Ia harus bayar lagi?
Dilon tidak langsung menjawab, memperhatikan sekitar sebentar lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana. Tatapannya kembali tertuju pada Olivia, merasa sedikit ragu untuk mengatakan ini, tapi sepertinya ini adalah kesempatannya.
"Lo harus bantuin gue," ucap Dilon.
__ADS_1
"Bantu apa? "
"Bokap gue hari ini ulang tahun, tapi gue belum siapin kado untuk dia. Lo bisa bantu gue nyariin hadiah buat dia kan?"
Kedua mata Olivia terlihat berkedip pelan, merasa speechless dengan pernyataan itu. Awalnya Ia mengira Dilon akan minta uang darinya, tapi ternyata malah meminta bantuan untuk sesuatu. Tanpa bisa ditahan bibirnya melengkungkan senyuman, merasa terharu sendiri.
"Serius kamu mau minta aku buat nyariin kado untuk Om Aiden?" tanya Olivia memastikan lagi.
Dilon berdehem pelan, "Ya itu pun kalau lo mau, tapi kalau gak bisa ya gak papa, gue bisa pergi sama cewek lain," katanya entah apa maksud.
Olivia tentu saja jadi kesal mendengar itu, apa Dilon sedang menantangnya ya? "Ck gimana sih, belum juga aku jawab bilang gitu. Iya-iya aku terima, ayo kita pergi sekarang!" kesalnya.
Jika diperhatikan lagi, Dilon terlihat mengulum senyuman melihat Olivia yang tanpa ragu menerima permintaan darinya itu. Sungguh Ia gengsi sekali tadi harus meminta ini, tapi dari dalam hati merasa hanya Olivia lah yang bisa membantunya.
Keduanya pun pergi dari sana, berjalan bersisian walau masih ada jarak. Tidak mengobrol apapun, terlihat sama-sama kikuk sendiri. Kebetulan nya Olivia hari ini memang tidak bawa kendaraan, jadi sepertinya nanti pulang pun akan diantar Dilon lagi.
Olivia pun menoleh sambil mencebikkan bibirnya mengejek, "Iya-iya tahu kok, makanya aku bayar sekarang," sahutnya.
"Bagus deh kalau sadar, soalnya kan sekarang apa-apa gak gratis!" Oh Dilon terlihat sekali sedang gengsi dan meninggikan ego.
"Emangnya kamu mau ngasih kado apa untuk Om Aiden?" tanya Olivia mengalihkan obrolan.
Dilon mengedikkan bahunya, "Gak tahu, makanya gue minta bantuan lo, cewek kan pinter banget cari hadiah," jawabnya.
Olivia mengangguk senang-senang saja diberikan tugas seperti ini, apalagi hubungannya dulu dengan keluarga Dilon sangat baik dan akrab. Ternyata hari ini Om Aiden sedang ulang tahun, mungkin kalau Ia dan Dilon masih bersama pun tidak akan malu mengucapkan selamat dan ikut merayakan pestanya.
Sesampainya di Mall besar di Jakarta, keduanya pun turun dari mobil. Sore ini entah kenapa pengunjung terasa lebih ramai, mungkin kebanyakannya sedang jalan-jalan. Dilon dan Olivia berkeliling di lantai satu dulu mencari barang bagus dan cocok untuk diberikan pada Om Aiden.
__ADS_1
"Kalau dulu kamu ngado apa untuk Papa kamu?" tanya Olivia.
"Enggak, dulu kan hubungan gue sama Bokap kurang akur," jawab Dilon.
"Tapi sekarang kalian masih baik-baik aja kan?" Karena Olivia akan lega dan tenang jika keluarga pria itu masih rukun, walau dirinya pun sudah pergi.
Dilon hanya berdehem lalu masuk ke salah satu tempat khusus perlengkapan lelaki, Ia juga sering datang ke situ. Olivia yang melihatnya menghela nafas berat, lalu segera masuk menyusul. Mungkin Dilon malu berterus terang, Olivia juga kan sekarang bukan siapa-siapa.
Di tempat itu lengkap sekali barang-barang khusus lelaki. Dari pakaian, sepatu, tas sampai jam tangan juga. Merek nya pun bermacam-macam, ada yang yang mewah ada juga yang biasa. Olivia dan Dilon berkeliling dahulu sambil mencari mana yang cocok.
Langkah Dilon lalu terhenti di sebuah rak sepatu, terlihat berkilauan dan banyak yang mirip dengan gaya Papanya. Melihat harganya yang sampai belasan juta, membuatnya hanya menghela nafas panjang karena sepertinya uang tabungannya akan sedikit terkuras.
Olivia pun menghampirinya, "Kamu mau ngasih kado sepatu untuk Papa kamu?"
"Gak tahu, bingung," jawab Dilon sambil mengedikkan bahu.
"Kok masih bingung sih? Kita sudah setengah jam loh di sini keliling, aku kira kamu sudah dapat barang yang bagus," ujar Olivia sambil berdecak pelan.
Sebenarnya di sini semua barang bagus-bagus, tapi Dilon ini sangat memikirkan dengan baik dan berkhayal jika dirinya membeli barang itu untuk Papanya. Contohnya sepatu, Papanya sudah memiliki banyak juga di rumah dan gaya nya pun hampir sama semua.
Dilon juga sempat tertarik membeli jam tangan karena terlihat keren, tapi tahu kalau Papanya juga sudah punya banyak koleksi jam dari berbagai macam merk. Dilon lalu menghadapkan tubuhnya pada Olivia, akan meminta pendapatnya.
"Kalau menurut lo, gue mending kado apa?" tanyanya serius, mungkin saja kan perempuan itu dapat sesuatu yang bagus?
Olivia langsung tersenyum, "Aku punya beberapa pilihan untuk kamu, dan kayanya Papa kamu juga bakal suka. Ayo ikut!"
Entah sengaja atau repleks, Olivia malah menarik tangan Dilon untuk pergi dan menuju barang pilihannya tadi. Olivia tidak sadar, tapi Dilon yang mendapatkannya langsung tersentak dan menatap tautan tangan mereka dengan detak jantung cepat.
__ADS_1