
"Sebentar ya Om angkat telepon dulu," pamit Kai beranjak dari duduk nya, sepertinya cukup privasi karena sampai masuk ke kamar.
Daniella pun memutuskan akan membersihkan bekas makan mereka. Terlihat senyuman di bibir nya terus terukir karena merasa senang bisa menghabiskan waktu berdua bersama Kai di apartemen nya.
Baru saja akan menyalakan air di wastafel, suara ketukan pintu apartemen terdengar. Ia sempat melirik ke arah kamar, tapi Kai tidak keluar dan sepertinya masih sibuk. Akhirnya Ia pun yang memutuskan membuka pintu.
Kedua matanya terlihat berbinar senang karena yang datang adalah Ayana, Ia melihat nyan lewat layar monitor kecil. Sebelum membuka pintu, Daniella sempat merapihkan rambut nya dahulu. Ia akan memanas-manasi Ayana.
"Hallo Ayana!" sapa Daniella ceria saat membuka pintu dengan lebar nya.
Ekspresi wajah Ayana terlihat langsung berubah menjadi bingung melihat ada remaja itu di apartemen sang pacar. "Daniella, kenapa kamu di sini?"
"Hm memangnya kenapa? Aku dari sore juga di sini, main dengan Om Kai." Daniella sengaja menekan kata main, inginnya sih si Ayana itu salah paham.
"Apa hanya berdua saja?" tanya Ayana memastikan sambil menelan ludah nya kasar.
"Iya dong hanya berdua dari tadi, kamu sendiri kenapa kesini?" Tidak sengaja Daniella melirik kresek dengan brand makanan terkenal di tangan Ayana. "Apa kamu mau makan dengan Om Kai? Sayang sekali kami barusan selesai makan, bahkan dia yang masak."
Melihat raut sedih di wajah Ayana, malah membuat Daniella menyeringai semakin lebar. Pasti perempuan itu sedih dan cemburu, berarti rencananya memanasi berhasil.
Kebetulan sekali pikirnya Ayana datang kesini saat Ia di sini.
Merasakan pintu yang di tahannya terbuka lebih lebar, membuat Daniella menoleh dan ternyata ada Kai. Ia pun bergeser agak mundur, ingin mendengar percakapan di antara dua orang itu.
__ADS_1
"Loh Ayana, ada apa kesini? Tumben gak ngabarin dulu," tanya Kai.
"Tadinya aku pengen makan malam bareng kamu di sini, tapi Daniella bilang kalian sudah makan ya tadi. Sayang banget, aku kalah cepat," jawab Ayana dengan suara bergetar nya. Berpura-pura bersikap biasa saja itu tidak mudah.
Kai terlihat mengusap tengkuknya tanda tidak enak. "Em iya sih tadi kami sudah makan, tapi gak papa aku bisa makan lagi kok. Ayo masuk."
"Gak usah, aku mau pulang aja. Kamu juga kan selalu jaga pola makan, jangan terlalu berlebihan. Maaf ya aku ganggu." Setelah mengatakan itu, Ayana pun berbalik dan melangkah pergi dari sana dengan kepala menunduk.
Baru saja Kai akan mengejar, tangannya malah ditahan Daniella. "Om mending kita nonton film yuk," ajak nya.
"Nonton? Enggak nanti saja. Om mau bicara dulu sama Ayana, kamu juga siap-siap sebentar lagi Om antar pulang."
Sayangnya Kai sulit sekali ditahan, dan Daniella pun melepaskan juga. Gadis remaja itu terlihat menggerutu pelan merasa kesal, sudah pasti Kai mengejar Ayana akan menjelaskan dan tidak mau terjadi salah paham.
Beralih pada Kai, saat ini Ia sampai berjalan cepat mencari Ayana, cepat sekali pikir nya pergi. Untungnya sebelum lift tertutup, Ia pun berhasil masuk dan berdua dengan kekasihnya itu di dalam.
Kai lalu memposisikan tubuhnya menjadi menghadap perempuan itu. "Aku anter sampai bawah ya," Bujuk nya.
"Gak usah, aku bisa sendiri karena sudah biasa lakuin apapun sendiri, pacar aku kan sibuk," tolak Ayana sambil memalingkan wajah.
Mendengar sindiran begitu, membuat Kai jadi tidak enak hati. Selama menjadi kekasih Ayana memang selalu sibuk, jarang sekali sepertinya mereka bisa bersama atau bersikap normal layaknya pasangan kekasih.
Kai bahkan cukup mengagumi sikap dewasa Ayana dan mandiri nya, hebat juga perempuan itu bisa bertahan bersama dirinya yang cuek menjalani hubungan. Walau begitu, bukan berarti Kai mempermainkan perasaan. Tetapi Ia memang seperti ini.
__ADS_1
Dengan ragu, Kai membawa sebelah tangan perempuan itu ke genggamannya. "Ayana, apa kamu marah lihat Daniella tadi di apartemen aku?"
"Bukan marah, aku gak tahu perasaan ini gimana, rasanya campur aduk. Aku pengen bersikap biasa saja dan gak mikir aneh-aneh, tapi karena aku tahu dia suka sama kamu, buat aku gak bisa berpikir jernih," jawab Ayana yang baru mau membalas tatapannya.
"Kamu jangan salah paham, aku dan Daniella gak ngelakuin hal aneh-aneh kok. Tadi dia minta aku jemput sekolah karena Papa nya gak bisa, terus dia katanya laper jadi aku masakkin. Setelah ini, aku akan langsung anterin dia pulang."
Ada perasaan lega yang Ayana rasakan karena Kai menjelaskannya cukup detail, dan Ia pun bisa mudah percaya karena perasaan cinta. Inilah yang namanya hubungan serius, selain itu mereka juga sudah dewasa jadi harus bersikap sewajarnya juga.
Setelah sampai di lantai bawah, keduanya keluar dari lift sambil Kai tetap menggenggam sebelah tangan Ayana menuju keluar. Setelah itu tidak ada obrolan lagi, sedang menyelam dengan pikiran masing-masing.
"Terus jadinya gimana, kamu mau tetap pulang? Padahal kamu sudah jauh-jauh datang ke sini cuman mau makan bareng aku," tanya Kai.
"Gak papa deh, aku mau makan sendiri aja nanti di apartemen. Kamu kan gak bisa makan banyak, gak tega aku kalau perut kamu jadi begah," kata Ayana pengertian.
Kai lalu memeluk wanita itu, Ia hanya merasa terharu dengan sikap pengertian kekasihnya ini. Sempat menduga jika Ayana akan ngambek dan marah, tapi tahu kalau selama mereka bersama pun tidak pernah bersikap seperti itu.
Kai jadi membedakan Ayana dengan perempuan lain, mungkin akan sangat berbeda. Ayana adalah tipe orang penyabar, kalau perempuan lain pasti tidak akan tahan ada di posisi nya, apalagi ada cobaan di depan mata. Daniella, remaja yang tergila-gila kepada Kai.
"Makasih ya Ayana sudah percaya sama aku," bisik Kai sambil mengelusi punggung nya.
Ayana terlihat mengangguk pelan sambil mengeratkan pelukan mereka. "Tapi aku minta sama kamu untuk jaga kepercayaan aku ini dan jangan pernah kecewain aku, karena kalau itu terjadi hati aku pasti akan sangat sakit," sahut nya.
"Iya sayang."
__ADS_1
Tanpa kedua orang itu sadari, ada seseorang yang memperhatikan dari jauh. Ya benar itu adalah Daniella, berdiri di tangga depan pintu utama gedung sambil melipat kedua tangannya di dada. Ekspresi wajahnya terlihat datar, padahal perasaannya sekarang seperti remuk.
"Ck aku pikir akan ada adegan dramatis kaya di film-film, ternyata tidak ada ya?" gumam nya seorang diri, agak kesal karena rencananya tidak sepenuhnya berhasil.