
"Gimana kado yang kamu kasih? Om Aiden suka gak?"
Dilon yang dari tadi sedang main game melirik sekilas Olivia yang duduk di depannya. Jangan salah paham, mereka bukan sedang kencan, tapi sedang mengerjakan tugas bersama. Hanya memang santai karena diberikan beberapa hari oleh Dosen.
"Suka," jawab Dilon singkat.
"Terus kamu bilang juga gak kalau aku yang milihin dasi itu?" tanya Olivia berbinar, merasa bangga sendiri karena ikut mempersiapkan ulang tahun pria paruh baya itu.
"Enggak, kenapa harus bilang?" tanya Dilon menohok, membuat Olivia mengerucutkan bibir.
Tidak peka sekali pikir Olivia, Dilon itu. Setidaknya sebut namanya juga di hadapan Om Aiden, dititipkan selamat ulang tahun juga membuatnya senang. Olivia kan ingin terus menjalin hubungan yang baik dengan kedua orang tua Dilon.
Mengingat sesuatu, membuat Olivia pun kembali bertanya, "Oh iya, sekarang usia kehamilan Tante Erika berapa bulan?"
"Baru empat," jawab Dilon singkat lagi tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar ponselnya.
"Aku kira sudah besar, ternyata belum ya. Gak sabar banget kalau Tante Erika lahiran, anaknya pasti bakal lucu. Gimana perasaan kamu bakal punya adik di usia mau dua puluh tahun?"
Dilon terlihat menghembuskan nafasnya kasar, lalu memilih mematikan ponselnya dan memfokuskan pandangan pada Olivia yang duduk di depannya.
Perasaannya merasa mengganjal saja melihat perempuan itu dari tadi terus membahas keluarganya. Untuk apa? Hubungan mereka sudah berakhir. Dilon rasanya muak saja melihat sikap Olivia yang merasa semua baik-baik saja.
"Kenapa lo pengen tahu?" tanya Dilon dingin.
"Em ya aku cuman tanya aja, gak papa kalau gak mau jawab juga." Olivia tiba-tiba menjadi canggung sendiri dengan sikap pria itu.
Dilon lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, "Urusin aja keluarga lo itu, gak usah pengen tahu kehidupan keluarga gue. Sekarang kita orang asing, jangan sok akrab!" bisiknya.
__ADS_1
Dada Olivia seperti dihantam sesuatu yang besar mendengar itu, sama saja mendapat penolakan yang kejam. Bibirnya pun terkatup rapat tidak banyak bicara lagi. Mau bagaimana lagi, Ia memang sangat merindukan keluarga Dilon karena dulu sangat dekat.
Untuk menghilangkan perasaan tercekat di tenggorokannya, Olivia meminum jus nya beberapa kali tapi malah tersedak dan membuatnya batuk-batuk. Olivia sampai malu diperhatikan Dilon terus, tapi batuknya tidak mau berhenti juga.
"Jangan salah tingkah gitu lah," kata Dilon mengejek.
"Apaan sih? Siapa juga yang salah tingkah!" dengus Olivia setelah merasa dirinya lebih baik, dadanya sekarang jadi sakit karena batuk terus.
Dilon lalu beranjak dari duduknya, "Tugasnya masih lama kan di kumpulinnya? Nanti aja deh, malas kalau sekarang."
"Emangnya kamu mau kemana?"
"Jalan lah sama cewek, udah janjian mau nga date," jawab Dilon enteng.
Olivia mengedipkan matanya perlahan mendengar pengakuan Dilon, pria itu terlihat tidak merasa terbebani sudah berterus terang di hadapannya. Olivia berusaha tersenyum, menyembunyikan perasaan sesak di dadanya.
"Sekarang lagi deket sama siapa?" tanya Olivia penasaran, agak malu menanyakan ini takut dianggap kepo.
Olivia mendengus kecil, "Serius? Waw, kayanya ini emang sifat asli kamu ya," ledek nya.
"Lo gak perlu tahu, ini urusan gue. Gue juga gak mau ikut campur sama hubungan lo dan tunangan lo itu!" Setelah mengatakan itu, Dilon pun nelenggang pergi dari sana.
Hembusan nafas lirih keluar lewat celah bibir Olivia, dadanya terasa sesak sekali mendapat banyak cercaan menohok dari Dilon. Sekarang pria itu terkesan bicara kasar kepadanya, tidak mengerti bagaimana isi hatinya.
Olivia menutup laptopnya dan membereskan barang-barangnya untuk pulang juga. Ngenes sekali Ia ditinggalkan Dilon, masalahnya kenapa juga Ia harus sekelompoknya dengan pria itu sih? Setelah merasa semua barang tidak ada yang tertinggal, Olivia pergi dari Kafe yang berada di Mall itu.
Tidak sengaja matanya melihat seseorang yang terlihat familiar di kejauhan, dengan langkah cepat Ia pun berusaha menyusul perempuan itu. Dan saat si perempuan akan turun dari lift tangga, segera Ia pun menahan tangannya.
__ADS_1
Olivia segera menyebut namanya untuk memastikan, "Vanessa, ini kamu bukan?"
"Loh Olivia, gak nyangka bakal ketemu di sini," kata perempuan itu yang sudah pasti benar adalah Vanessa.
Kedua perempuan itu bersalaman sambil membalas senyuman, merasa senang bisa bertemu teman lama itu adalah hal luar biasa, apalagi di tempat ramai seperti ini. Olivia lalu mengajak Vanessa duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari sana, untungnya diterima.
"Kamu gak lagi buru-buru kan Vanessa?" tanya Olivia setelah mereka duduk.
"Enggak sih, lagian ke Surabaya nya juga besok," jawab Vanessa. Perempuan itu memang mendapat beasiswa kuliah di Surabaya, jadi tidak tinggal di Jakarta lagi.
Olivia lalu teringat sesuatu, "Kamu sudah ketemu Dilon belum? Kalian masih berhubungan kan?"
"Masih kok, cuman gak sering soalnya kita sama-sama sibuk kuliah." Raut wajah Vanessa terlihat tidak nyaman saat akan menanyakan sesuatu, "Terus gimana hubungan kamu sama dia? Kalian kan katanya satu Univ."
"Hm ya begitulah, kami gak terlalu akrab sekarang," jawab Olivia jujur.
Vanessa yang mendengar itu menjadi iba sendiri, tidak bisa tahu pasti apa yang terjadi pada dua orang yang dulu sangat romantis itu sekarang. Mereka kan sudah putus dari beberapa bulan yang lalu.
Tetapi jika benar sekarang Olivia dan Dilon jadi tidak akur, sangat disayangkan sekali. Hanya saja Vanessa pun tahu jelas alasan di balik dua orang itu berpisah, ya karena perbedaan kepribadian yang terlalu jelas.
"Dulu Dilon sempat cerita pas putus dari kamu, dia bilang sedih tapi juga lega karena kamu pisah dari laki-laki buruk kaya dia," ucap Vanessa.
Olivia yang mendengar itu tersentak, kedua matanya sampai terbelak sebentar. Ia tidak bisa mengatakan apapun, tapi ingin Vanessa melanjutkan cerita lagi. Karena mungkin hatinya yang sedang sakit bisa terobati.
"Aku saat itu langsung tahu, kalau dia memang tulus mencintai kamu, bahkan mungkin kamu satu-satunya perempuan yang dia sayang," lanjut Vanessa.
Sebenarnya ini agak lucu, padahalkan dulu mereka sangat tidak akur. Tetapi sudah berbaik kan juga, jadi tidak mau menimbulkan permasalahan lagi dan benar-benar ingin memiliki hubungan yang baik walau berjauhan juga.
__ADS_1
"Masa dia bilang gitu, tapi sekarang dia dingin dan kasar banget sama aku. Kenapa ya? Apa dia kesel karena aku mutusin dia?" tanya Olivia sedih.
Vanessa yang tidak tega menggenggam tangan perempuan itu dan mengusapnya seolah ingin memberikan kekuatan. Ia tidak bisa terlalu ikut campur pada hubungan orang lain, tapi berharap Olivia dan Dilon bisa akrab lagi.