
Dilon memperhatikan Olivia yang sedang makan ramennya dengan lahap, bibirnya bahkan sampai belepotan kuah merahnya itu. Dengan perhatian Ia pun membawa selembar tisu lalu mengusap sekitar bibir Olivia agar bersih.
"Kamu beneran gak mau pesen juga? Emangnya gak laper ya?" tanya Olivia yang entah sudah ke berapa kali.
"Beneran, gue kan lagi diet," jawab Dilon sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan.
Olivia lalu memperhatikan tubuh pacarnya itu, "Ngapain diet? Badan kamu sudah bagus gitu, gak buncit juga," tanyanya bingung.
"Sekarang gue jadi jarang nge gym, makanya perut ada lemak sedikit, jangan sampai deh gemuk." Dilon dengan santainya menaikkan baju kaosnya, memperlihatkan perutnya yang bahkan masih ada sixpack.
"Hush ih Dilon, gimana kalau dilihat orang?!" tegur Olivia panik sendiri sambil memperhatikan sekitar yang ramai, entah ada yang lihat atau tidak.
Dilon hanya terkekeh kecil menganggap jika kekasihnya itu sedang cemburu dan tidak mau Ia melihatkan keseksiannya pada perempuan lain. Dilon tidak berniat seperti itu, hanya ingin nenggoda Olivia sebentar.
Mereka tadi sudah berkeliling Mall, acara belanja Olivia mungkin ada dua jam lebih. Perempuan itu baru berhenti saat mengeluh lapar, lalu memilih makan ramen Jepang ini. Tetapi Dilon tidak ikut makan, Ia kan sedang diet.
"Pulang dari sini ke rumah gue ya, masih siang juga," ajak Dilon, rasanya masih ingin menghabiskan waktu bersama pacarnya itu.
"Hm boleh, tapi di rumah kamu mau ngapain?"
Dilon mengedikkan bahunya acuh, "Ya terserah nanti aja, sudah di sana juga suka lupa waktu," jawabnya.
Olivia mengangguk mengiyakan, tidak masalah juga Ia main ke rumah Dilon karena sudah sering juga. Lagi pula masih siang, kalau di rumah sendirian juga akan kebosanan.
Selesai Olivia menghabiskan makanannya, keduanya langsung beranjak untuk pulang. Sebelah tangan Dilon menggenggam tangan Olivia, sedang satu tangannya lagi memegangi lima paperbag dengan bermacam brand, belanjaan pacarnya itu.
"Hehe makasih ya Dilon sudah temenin aku shopping, kamu juga sampai bayarin semua belanjaan aku," ucap Olivia merasa senang.
__ADS_1
"Hm sama-sama, yang penting lo seneng, gue juga ikut senang. Lagian duit gue banyak, jadi gak akan miskin," celetuk Dilon sombong.
Olivia hanya tertawa kecil mendengar itu, mengakui kalau Dilon memang sangat royal kepadanya. Sudah lama Olivia tidak menjalin hubungan, saat punya pacar langsung yang sempurna seperti ini, seperti sebuah keajaiban.
Tiga puluh menit kemudian mereka pun sampai juga di rumah Dilon. Saat masuk langsung menuju lantai dua ke kamarnya. Seperti biasa keadaan rumah selalu sepi, Olivia memperhatikan sekitar sedang mencari seseorang.
"Sebenarnya gue ngantuk banget, semalam habis main game di rumah si Ian," kata Dilon sambil mengusap tengkuknya.
"Ya sudah kalau ngantuk tidur aja, kamu juga pasti capek tadi habis nemenin aku belanja," ucap Olivia tidak masalah.
"Tapi lo jangan dulu pulang ya, kalau bosen boleh lakuin apa aja," pinta Dilon.
"Iya," angguk Olivia.
Pria itu memilih tidur di sofa panjang, katanya kalau di ranjang takut terlalu nyaman sampai tidur lama. Olivia pun memilih bermain ponsel, melihat-lihat hasil gambarnya yang beberapa Ia ambil bersama Dilon saat di Mall. Tentu saja Olivia harus upload di sosial medianya.
"Olivia, kamu sedang di sini?" Aiden yang menyapa duluan, pria itu seperti biasa selalu tersenyum ramah padanya.
Olivia menyalami tangan Aiden terlebih dahulu, "Iya Om, sudah lumayan agak lama hehe. Dilon di atas, tapi dia tidur, katanya ngantuk semalam habis bergadang," jawabnya.
"Kasihan kamu pasti kebosanan, Dilon bawa kamu main kesini, tapi dia nya malah tidur."
"Hehe gak papa Om, lagian kami juga baru pulang dari Mall, habis jalan-jalan," ujar Olivia menjelaskan.
"Oh begitu ya, pantesan," gumam Aiden sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Olivia memainkan jari tangannya sambil menatap pria paruh baya itu agak gugup. Ada hal yang ingin Ia bicarakan dengan Papanya Dilon ini, tapi khawatir tanggapannya diabaikan atau malah Ia dibilang jangan ikut campur.
__ADS_1
Tetapi kalau Olivia tidak ungkapkan, merasa tidak tega kepada Dilon. Ya Ia lakukan demi kekasihnya itu, Olivia juga kan sudah bertekad waktu itu untuk membuat hubungan keluarga mereka menjadi baik.
"Om, ada waktunya sebentar gak? Aku mau bicara sesuatu sama Om," ucap Olivia memberanikan diri.
"Boleh-boleh, lagian Om juga lagi nyantai di rumah, sambil nunggu Erika yang akan kesini," jawab Aiden langsung.
Mereka pun memilih mengobrol di halaman belakang, sambil melihat pemandangan yang indah dan asri. Tidak lupa sebelumnya meminta pada pembantu membawakan minuman dan minuman, untuk menemani agar obrolan lebih santai.
"Jadi ada apa Olivia? Kamu kelihatan gugup gitu, santai saja," tanya Aiden.
"Ini tentang Dilon," jawab Olivia.
"Hm ada apa dengan dia? Apa dia berbuat sesuatu yang tidak mengenakkan pada kamu?"
Olivia segera menggeleng membantah, "Bukan itu Om, tapi.. Ada hubungannya juga dengan Om. Maaf sebelumnya kalau aku terlalu ikut campur, tapi hati aku merasa gak enak melihat dia begitu."
Aiden merasa percakapan ini akan serius, apalagi katanya berhubungan dengan dirinya. Aiden lalu meminum kopinya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering, sambil menunggu Olivia melanjutkan perkataannya lagi.
"Beberapa hari lalu aku gak sengaja lihat wajah Dilon yang lebam dan memar, saat aku tanya dia jawab karena dipukul Om. Dilon juga jelasin kenapa Om bisa sampai pukul dia. Aku tahu Dilon salah, tapi aku merasa gak tega lihat dia dikasari." Olivia langsung memejamkan matanya setelah mengatakan itu.
Perempuan itu tidak tahu tanggapan Aiden kepadanya setelah ini, reaksinya pun apakah akan sesuai dugaannya atau tidak. Tetapi Olivia merasa bangga karena dirinya sudah berani mengungkapkan, hatinya pun terasa lebih lega. Karena ini waktunya memang tepat, mereka bisa bicara berdua.
"Om hanya merasa kecewa saja kalau dia sudah membuat masalah seperti itu, apalagi sampai berkelahi. Yang dia pukul kan sampai masuk rumah sakit, Om hanya ingin Dilon tidak seperti itu, tapi dia itu keras kepala sekali," kata Aiden merendahkan hatinya.
"Aku yakin Dilon bisa lebih sabar, tapi semua itu juga harus dimulai dari Om. Mungkin Dilon yang pemberontak seperti itu hanya sedang mencari perhatian, atau juga mendapat tekanan. Kalau luka batinnya terobati, aku yakin Dilon akan berubah," ucap Olivia panjang lebar.
Aiden langsung dibuat terdiam mendengar itu, dadanya seperti ada yang menghantam sesuatu yang berat. Pria paruh baya itu tentu paham dengan maksud perkataan Olivia, yang meminta dirinya memulai semuanya, agar Dilon pun bisa berubah.
__ADS_1