
Seperti kata Dilon tadi siang saat di taman yang mengajaknya pulang bersama, kini Olivia sudah terjebak di dalam mobil pria itu. Ia menerima nya dengan senang hati, kenapa? Lumayan menghemat uang jajan nya.
"Loh kok malah belok sih? Ini kan bukan arah ke rumah aku," monolog Olivia bingung sendiri, Ia pun menolehkan kepala meminta penjelasan pada Dilon yang menjalankan mobil.
Dilon pun membalas senyumamnya dengan lebar, "Jalan-jalan dulu yuk, masih siang juga," ajaknya.
"Jalan-jalan ke mana? Kalau bisa jangan di luar gitu, panas soalnya." Itu berarti Olivia menerima ajakannya tanpa penolakan sedikit pun?
Menurutnya tidak masalah lah, lagi pula kalau langsung pulang ke rumah akan sangat membosankan. Ya walau ada sedikit rasa was-was di hatinya, takut saja jika mata-mata Septian mengetahui ini.
Semoga saja tidak mengikutinya.
Ternyata lelaki itu mengajaknya ke Mall, entah akan apa nanti di dalam. Untungnya Dilon mengajak ke Mall yang tidak terlalu ramai, jadi membuat Olivia agak tenang. Gerak-geriknya ini seperti sedang selingkuh saja.
Eh tunggu, bukankah memang seperti itu ya?
"Kamu ngajak aku kesini mau apa?" tanya Olivia meminta penjelasan.
"Terserah kamu mau apa, aku pasti ikutin. Mau shoping juga pasti aku temenin," jawab Dilon sambil mengedikkan bahunya.
"Serius nih? Terus yang bayarin juga kamu kan?" tanya Olivia sambil menunjuk wajah Dilon, tapi tidak lama tertawa kecil, "Enggak-enggak, aku bercanda kok."
"Gak papa, santai aja. Nanti aku bayarin," kata Dilon enteng.
Olivia hanya tersenyum mendengar itu, tidak akan melakukannya karena menurutnya akan cukup lancang. Bukankah mereka sekarang bukan siapa-siapa? Kalau dibayarkan, Ia akan merasa menjadi perempuan matre dan murahan.
Bukan masuk ke tempat make up atau kecantikan, tapi Olivia malah masuk ke dalam toko boneka. Ada berbagai macam boneka, dengan ukuran berbeda juga. Perempuan itu terlihat lucu sekali berjalan kesana kemari melihat-lihat.
__ADS_1
"Kenapa masuk kesini?" tanya Dilon yang mengintili di belakang.
Olivia hanya menoleh sekilas lalu kembali memperhatikan sekitar, "Tertarik aja lihat boneka, lucu-lucu," jawabnya singkat.
"Kaya anak kecil aja," ledek Dilon pelan, takut menyinggung Olivia dan jadi ngambek.
Untungnya tidak sampai menyinggung, malahan Olivia memeletkan lidah padanya membalas ledekan. Langkah Perempuan itu terhenti di salah satu rak, dengan berjinjit membawa satu boneka di rak bagian ke tiga.
Ukurannya sedang, boneka bentuk beruang yang memakai baju hangat itu terlihat lucu. Apalagi ternyata bagian kupluk jaket nya bisa dibuka dan dipasang lagi, benar-benar membuatnya asik sendiri.
Dilon yang memperhatikan itu pun langsung peka, "Mau beli yang itu? Gak yang besar aja, biar kalau dipeluk makin puas," tanyanya.
"Aku gak bilang bakal beli ini, cuman lucu aja," kata Olivia membela diri, tidak mau dibilang sedang mengkode minta dibelikan.
"Tapi kamu suka kan? Sudah ambil aja, ayo bayar!" ajak Dilon.
Setelah boneka nya di bungkus di paperbag besar, tidak lupa Dilon membawanya. Saat keluar dari toko boneka itu, baru Ia serahkan pada Olivia. Tetapi perempuan itu malah diam menatapnya tanpa menerima.
Dilon pun kembali membuka suara ada yang aneh, "Kenapa? Ini sudah aku beliin boneka nya."
"Dilon tapi aku gak minta dibeliin, aku ke sana cuman mau lihat-lihat aja tadinya. Harganya lumayan mahal," ucap Olivia merasa keberatan.
Dilon yang mendengar itu menghela nafas berat, lalu memegang kedua bahu Olivia agar menghadap nya dan menatap ke balik matanya. Untuk beberapa saat, keduanya malah asik sendiri menyelami bayangan di mata masing-masing.
"Anggap aja ini sebagai hadiah kecil dari aku, aku inget dulu jarang banget ngasih kamu hadiah," ujar Dilon dengan senyuman tipisnya.
Kernyitan terlihat di kening Olivia, merasa mengganjal mendengar itu. Tetapi kalau misal Dilon ingin menebus masa itu, bukankah sudah terlambat karena sekarang mereka sudah jadi orang asing? Sepertinya tidak perlu juga.
__ADS_1
Sebelum Olivia membuka suara lagi, jari telunjuk Dilon malah menutup bibirnya membuatnya pun terdiam lagi. Sepertinya pria itu tidak mau mendengar alasan apapun darinya, akhirnya Olivia pun menerima itu.
"Ya sudah deh, makasih ya," ucap Olivia dengan senyumannya. Tidak bohong Ia memang senang dibelikan boneka lucu itu, ternyata Dilon juga sangat peka.
Selanjutnya keduanya pun melanjutkan acara jalan-jalan itu, boneka di paperbag itu masih Dilon yang bawa karena cukup besar, kasihan kalau Olivia yang bawa.
Tujuan mereka setelah itu ke Timezone, akan bermain dan bersenang-senang di sana. Terlebih dahulu Dilon mengisi kartu bermain nya untuk dirinya bersama Olivia, sepertinya mereka akan main sepuasnya di sana.
Tidak lupa di sela keasikan itu, Olivia mengambil video atau gambar sebagai kenang-kenangan. Rasanya sangat menyenangkan bisa main berdua dengan Dilon, terkadang mereka juga berlomba.
"Wah kita dapetin kartunya banyak banget, kayanya bisa dapet hadiah gede nih," kata Dilon yang menyatukan kartu hadiah dari permainannya bersama Olivia, ada mungkin satu pelukan dirinya.
Olivia mengangguk setuju, "Iya bisa dapet hadiah yang gede nih, semoga aja. Jadi mainnya juga mau udahan?"
"Sudahan ya, lihat kamu aja sampai keringetin gitu. Kita main sudah mau dua jam loh di sini."
Mendengar itu membuat Olivia pun repleks melihat jam tangannya, sekarang sudah sore ternyata. Tidak terasa sekali, sanking menikmati waktu jalan-jalan nya dengan Dilon. Tidak menyesal menerima tawaran.
Tadinya akan Dilon saja yang mengantri untuk menukarkan kartu bermain nya, tapi Olivia malah ingin ikut karena katanya ingin memilih hadiahnya. Padahal Dilon suruh duduk tadi karena khawatir kelelahan, tapi tidak masalah juga sih.
Setelah dihitung oleh mesin, ternyata kartu mereka hampir mencapai seribu. Keduanya pun langsung bertos ria merasa senang dan bangga karena sudah mengumpulkan sebanyak itu. Mereka pun dipersilahkan memilih hadiah di rak ke empat, dimana barang-barang cukup besar.
"Kamu mau apa? Hadiahnya buat kamu aja, jadi kamu yang pilih," kata Dilon kembali bersikap gentle.
Olivia sempat melirik pria di sebelahnya beberapa saat dengan senyuman tertahan. Merasa terharu dan senang saja dengan sikap Dilon yang gentle begini, tidak tahukah pria itu sudah membuat detak jantungnya menjadi cepat? Ya siapa juga yang tidak akan berdebar di perlakukan begitu.
Setelah melihat-lihat lagi, pilihan Olivia pun jatuh pada sebuah lampu belajar dengan bentuk bintang. Terlihat cantik, apalagi kalau dinyalakan lampu nya. Tetapi Ia malah memberikan itu pada Dilon, membuat si pria bingung.
__ADS_1
"Tadi kan kamu yang ngasih aku boneka, jadi aku kasih itu untuk kamu. Simpen di meja belajar ya, biar jadi penyemangat," kata Olivia lalu mengedipkan sebelah matanya, membuat Dilon kini yang berdebar.