
Baru saja Dilon akan menariknya pergi, langkah pria itu tertahan karena Olivia seperti menahan diri. Saat menolehkan kepalanya ke belakang, baru melihat jika ternyata Olivia ditahan Septian. Melihat itu membuat Dilon menarik sebelah sudut bibirnya.
"Ngapain lo sentuh-sentuh cewek gue? Lepasin!" sentak Dilon.
Septian terlihat belum pulih sepenuhnya, wajahnya juga masih merah, "Jangan sakitin Olivia, dia gak salah apa-apa," katanya.
"Siapa lo berani nyuruh-nyuruh gue? Dia cewek gue, terserah gue mau lakuin apa aja sama dia!" Dilon terlihat seperti pecundang sekali saat mengatakan itu.
Merasa khawatir keadaan semakin memanas, membuat Olivia sepertinya harus menengahi takutnya terjadi keributan lagi. Olivia lalu memutar pergelangan tangan kirinya yang di tahan Septian tadi, membuat pria itu menatapnya terkejut.
Melihat itu membuat Dilon menarik sebelah sudut bibirnya merasa senang karena merasa Olivia lebih memilih dirinya. Memang sok kepedean sekali si Septian itu, mentang-mentang tadi Olivia sudah menolongnya.
"Septian mending kamu kembali ke kelas aja, tapi kalau kamu gak enak badan ke UKS aja istirahat dulu," ucap Olivia dengan suara tenangnya.
"Terus kamu gimana? Aku takut dia apa-apa in kamu," kata Septian pelan, entahlah apa Dilon mendengar atau tidak.
"Aku gak akan kenapa-napa kok." Olivia tidak yakin sendiri, tapi Dilon juga sepertinya tidak akan melakukan hal aneh-aneh kepadanya.
Septian terlihat enggan untuk pergi dan meninggalkan perempuan itu dengan Dilon. Ia hanya takut Dilon melakukan hal jahat pada Olivia, ya walau statusnya itu adalah pacarnya.
"Ssthh lama banget ngobrolnya, sudah sana mending lo pergi aja, atau mau gue tendang?" tanya Dilon tajam.
Melihat Olivia yang menatapnya dalam seperti memerintah untuk pergi, membuat Septian terpaksa menuruti dan pergi dari sana. Berharap di dalam hati semoga perempuan itu baik-baik saja, entah sudah berapa kali Olivia membantunya.
"Sekarang lo ikut gue, lo harus dihukum Tuan Putri," bisik Dilon di telinganya.
Olivia hanya menurut saja saat Dilon menarik tangannya pergi entah kemana. Suasana sekolah benar-benar sepi, tadi saja saat Dilon dan Septian ribut tidak ada yang melerai.
Ternyata pria itu membawanya masuk ke UKS, bahkan Dilon terlihat mengunci pintunya dan memasukan benda kecil itu di saku celananya. Olivia lalu di dorong ke ranjang, tapi Ia segera duduk lagi.
"Dilon, kamu kenapa bawa aku kesini?" tanya Olivia berusaha terlihat tetap tenang, walau sebenarnya detak jantungnya cepat sekali sekarang.
__ADS_1
"Gue cuman mau bicara aja sama lo, kenapa lo tadi bilang begitu?" Dilon menarik salah satu kursi lalu duduk tepat di depan Olivia dengan jarak yang dekat.
"Dilon aku gak bermaksud, aku tadi cuman gak tahu aja harus apa buat misahin kalian," jawab Olivia bersungguh-sungguh.
Tatapan Dilon memicing belum menerima, "Jadi lo serius mau minta putus atau gimana?"
"Enggak Dilon, aku gak serius. Niat aku cuman mau misahin kamu aja, aku takut perbuatan kamu itu malah jadi boomerang buat kamu," kata Olivia berusaha meyakinkan.
Saat Olivia menggapai tangannya, Dilon malah menjauhkan sambil memalingkan wajahnya. Ekspresi ngambeknya itu memang terlihat lucu di mata Olivia, tapi Ia tahu Dilon sekarang benar-benar marah.
"Di banding si Septian yang ambil motor gue, gue lebih marah pas lo bilang mau putus," ujar Dilon masih belum menatap.
Olivia menggigit bibir bawahnya, "Dilon maafin aku, tapi aku mohon jangan begitu lagi. Aku aja yang lihatnya takut."
"Ck dia emang pantes, lagian si Septian itu ternyata orangnya munafik. Bisa-bisanya dia ngibulin kita," dengusnya kasar.
Melihat emosi pacarnya itu belum surut, membuat Olivia bingung harus melakukan apa. Ia lalu terpikirkan sebuah ide, dengan berani Olivia lalu beranjak dan beralih duduk di atas pangkuan Dilon.
"Dilon sudah ya jangan marah lagi, aku kan sudah minta maaf," ucap Olivia.
"Emangnya minta maaf aja cukup?" tanya Dilon agak ketus.
"Terus harus gimana lagi biar kamu gak marah? "
Seringai lalu terukir di bibir Dilon, sebelah tangannya lalu terangkat mengusap pinggang ramping Olivia. Pikiran lelaki itu memang liar, apalagi Olivia seperti sengaja menawarkan diri lebih dahulu.
"Kiss me," pinta Dilon.
"Jangan aneh-aneh deh, ini di sekolah. Gimana kalau ada CCTV? " tanya Olivia sensi.
"Gak ada, lo tenang aja. Di sini juga kita cuman berdua, ayo buruan!" desak Dilon yang terlihat tidak sabaran.
__ADS_1
Sebenarnya permintaan pria itu tidak terlalu sulit, tapi Olivia agak ragu karena harus memulai lebih dahulu. Tetapi karena tidak mau melihat Dilon marah terus, dengan terpaksa Olivia pun melakukan.
Olivia memilih memejamkan matanya, lalu dengan perlahan mendekatkan wajahnya mencoba mencium bibir Dilon. Belum sempat bibir keduanya bertemu, ketukan pintu yang keras dan berulang kali dari luar membuat mereka terkejut.
Olivia langsung turun dari pangkuan Dilon lalu merapihkan penampilan nya. Sempat melirik kekasihnya itu yang menggeram pelan seperti merasa kesal, Dilon lalu beranjak untuk membukakan pintu.
"Loh jadi ada orang ya di dalam? Kalian sedang apa di sini?" tanya guru piket yang menjaga UKS hari ini.
"Pacar saya sakit Bu, dia tadi mimisan," jawab Dilon sambil merangkul bahu Olivia mendekat.
"Ya ampun, terus sekarang gimana? Masih mimisan?" tanya guru itu pada Olivia.
"Su-sudah enggak kok Bu, sudah berhenti," jawab Olivia gagap sanking gugup harus berbohong. Untungnya Ia langsung konek, jadi guru itu tidak akan curiga kan?
"Mau minum obat gak?" tawar guru itu.
"Gak usah Bu, gak pusing juga. Sekarang kita mau balik ke kelas, sudah ketinggalan satu jam pelajaran." Olivia berusaha tersenyum agar terlihat semakin meyakinkan.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kalau misal mimisan lagi istirahat aja di UKS ya."
Olivia dan Dilon mengangguk, lalu mereka pun keluar dari UKS sambil tetap berangkulan. Setelah merasa agak jauh dan tidak dilihat, Olivia pun langsung melepaskan rangkuan tangan Dilon.
"Hei nanti pulang sekolah gue tagih ya," kata Dilon sambil menghentikan langkahnya.
Olivia pun ikut berhenti, walau jaraknya sudah tidak terlalu dekat dengan Dilon, "Apaan?" tanyanya bingung.
Dilon tidak menjawab, tapi melihat pria itu yang memanyunkan bibirnya membuat Olivia langsung konek. Perempuan itu menggelengkan kepala lalu berbalik dan berjalan cepat pergi dari sana.
"Hei Oliv, lo mau kemana? Lo ngerti gak gue minta apa? Awas aja ya kalau nanti pas pulang kabur, gue susul sampai ke rumah lo!" teriak Dilon tanpa tahu malu.
***
__ADS_1
Hai temen-temen yang baik, mampir yuk ke buku baru aku judulnya "Aku Istrimu atau Pembantumu". Ceritanya gak kalah seru loh