Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Cari Ribut


__ADS_3

Olivia yang kembali masuk sekolah membuat kedua sahabatnya senang, suasananya terasa berbeda saja saat perempuan itu tidak masuk katanya. Apalagi Tasya dan Syifa hanya berduaan, biasanya Olivia selalu menengahi mereka yang ribut.


Sepulang sekolah, tidak akan langsung pulang ke rumah karena akan mengerjakan tugas kelompok. Baru bisa dikerjakan karena Olivia kan sakit dua hari, untungnya masih ada waktu jadi Olivia bisa ikut dan tidak absen.


"Jadinya kita mau ngerjain dimana?" tanya Raisa menunggu.


"Di rumah aku aja yuk," ajak Vanessa bersemangat, "Gimana Dilon?" tanyanya meminta pendapat.


"Ya terserah dimana aja," sahut Dilon terlihat santai.


Mereka berempat pun berangkat ke rumah Vanessa dengan menaiki mobil Dilon. Tadinya Vanessa ingin duduk di depan, tapi Olivia dengan cepat masuk membuat Vanessa pun terpaksa duduk di belakang bersama Raisa. Ternyata dua perempuan itu belum baikkan.


Di perjalanan tidak lupa membeli beberapa bahan-bahan yang diperlukan kerja kelompok nanti, juga membeli cemilan yang akan menemani. Setelah mendapat semua kebutuhan, kembali melanjutkan perjalanan.


"Rumah kamu sepi banget Vanessa, kamu di sini tinggal sama siapa?" tanya Raisa saat memasuki rumahnya.


"Sendiri, tapi ada satu pembantu deh yang nemenin," jawab Vanessa agak sedih. Dulu Ia tinggal dengan Neneknya, tapi kan Neneknya sudah meninggal beberapa minggu lalu.


"Sebentar ya aku mau ganti baju dulu biar lebih nyaman, nanti bibi datang bawain makanan sama minuman buat kalian. " Setelah mengatakan itu, Vanessa pun naik ke tangga menuju lantai dua.


Mereka akan mengerjakan tugas di ruang santai lantai satu, duduk di karpet bulu yang nyaman. Olivia dan Raisa kembali mengecek bahan-bahan, sedangkan Dilon hanya diam memperhatikan karena tidak terlalu mengerti.


"Setelah dibaca lagi, kayanya buatnya gak terlalu susah," ucap Olivia.


"Iya lumayan lah, tapi semuanya harus ikut kerja ya." Raisa sempat melirik Dilon, hanya satu-satunya laki-laki dan biasanya lelaki kan selalu malas.

__ADS_1


Obrolan mereka lalu terhenti dengan kedatangan Vanessa. Bukan hanya Olivia yang terkejut melihat penampilan Vanessa, tapi Raisa juga. Entah sengaja atau bagaimana, Vanessa itu memakai celana pendek dengan tangtop. Sangat seksi sekali.


Olivia tiba-tiba merasa khawatir, Ia lalu melirik kekasihnya yang ternyata ketahuan juga sedang melirik Vanessa. Sepertinya Vanessa itu sengaja memakai baju seksi karena di sini ada Dilon, juga sekalian membuatnya cemburu.


"Heh Vanessa, kalau pakai baju yang bener dong!" ucap Olivia dengan suara ketus nya.


"Loh emangnya kenapa? Terserah aku dong, lagian kan ini rumah aku juga," jawab Vanessa sambil mengibaskan helaian rambutnya ke belakang.


Olivia menggeram pelan, sekarang Ia mengerti kenapa Vanessa mengajak mereka kerja kelompok di sini. Sepertinya Vanessa sudah merencanakan dari awal, membuat Olivia kesal saja karena merasa tidak berdaya apapun.


"Kenapa sih Olivia natap nya gitu banget? Iri ya sama badan aku yang lebih seksi?" tanya Vanessa lalu tersenyum sinis.


"Iri? Cih badan aku juga gak kalah seksi, cuman emang gak suka ditunjukin dan dipamerin. Soalnya aku orangnya mahal, gak sembarang orang yang bisa lihat badan bagus aku," celetuk Olivia. Setelah mengatakan itu jadi merasa puas.


Merasa khawatir dua perempuan itu ribut, Raisa pun langsung menengahi dan mengajak mereka memulai mengerjakan tugasnya. Raisa pikir saat mengerjakan akan lancar dan baik-baik saja, tapi ternyata ini awal keributan mereka lagi.


Saat melihat Vanessa semakin bergeser mendekati Dilon dan memegang tangannya, saat itu juga emosi Olivia tidak bisa ditahan. Ia membawa buku LKS lalu di pukul kan ke kepala Vanessa, membuat semua orang di sana pun menatapnya.


"Aduh apaan sih Olivia? Gak sopan banget mukul kepala orang!" kesal Vanessa. Ia pun melirik Dilon dengan tatapan memelas, seolah meminta pembelaan.


"Kamu itu yang gak sopan, sengaja ya pakai baju seksi begitu? Mau godain Dilon? Maksudnya apa ya?!" balas Olivia dengan suara kerasnya.


"Kamu itu terlalu berburuk sangka, lagian aku di rumah emang suka pakai baju begini kok!" bela Vanessa dengan ekspresi tidak meyakinkan.


Olivia menarik sebelah sudut bibirnya, "Tapi kamu kan bisa sesuain diri dong, sekarang itu lagi ada orang lain, bukan lagi sendirian. Kalau perempuan baik-baik pasti akan jaga penampilan, gak murahan begini!" katanya.

__ADS_1


"Apa? Kamu bilang aku murahan?!" tanya Vanessa mulai terpancing emosi.


"Iya murahan, sudah tahu Dilon gak tertarik sama kamu dan sudah punya pacar, tapi masih aja ngegodain. Apalagi kalau bukan murahan?!"


Baru saja tangan Vanessa terangkat untuk menampar pipi Olivia, Dilon langsung menahannya di udara. Vanessa sempat protes dan minta di lepaskan, tapi Dilon memilih menurunkannya sambil tetap menahannya untuk berjaga-jaga.


Kepalanya mulai berdenyut pusing mendengar keributan dua perempuan itu. Mau dimana saja, pasti selalu ribut. Dari tadi Dilon hanya diam bukan membiarkan, tapi melihat dulu mereka sampai puas mengeluarkan uneg-uneg.


"Bisa gak jangan berisik? Kalau ribut terus sampai kapan tugasnya selesai?" tanya Dilon dengan nada suara rendahnya.


Tatapan Olivia memicing tajam pada pacarnya itu, "Kamu juga dari tadi diem aja, kenapa? Suka ya lirik-lirik badan dia? Sudah kenyang belum?" tanyanya sinis.


"Ck jangan mulai Oliv, gue diem bukan begitu kok," Bantah Dilon membela diri.


Sungguh Dilon tidak tertarik, walau Vanessa itu terlihat sekali sengaja menggodanya. Jangan salah paham, Ia memang pria normal dan punya nafsu, tapi Dilon tidak tertarik pada hal seperti itu kepada Vanessa. Karena sampai kapanpun selalu menganggapnya keluarga.


"Cih aku gak percaya, Laki-laki kan memang begitu, matanya jelalatan, apalagi dikasih gitu aja sama ceweknya. Kamu pasti malu-malu aja kan karena masih ada aku? Beda lagi kalau misal aku gak ada," ucap Olivia sinis.


Merasa semakin kesal dan marah tapi malas ribut, Olivia lalu membawa tugas kelompoknya dan mengajak Raisa untuk pergi dari sana. Awalnya Dilon menahan, tapi Olivia tetap pergi dan mengacuhkan pria itu.


Helaan nafas kasar keluar lewat celah bibir Dilon, perlahan Ia pun melirik Vanessa yang sedang tersenyum sinis, sepertinya merasa puas sudah membuat dirinya dan Olivia ribut, lalu Olivia yang pergi. Dilon tidak bisa membiarkan ini terus.


"Vanessa, kamu ini kenapa sih?" tanya Dilon masih bisa bersikap tenang.


"Hah? Memangnya aku kenapa?" tanya Vanessa balik sambil menunjuk dadanya.

__ADS_1


"Bukannya aku sudah bilang ya kalau aku nganggap kamu itu gak pernah lebih dari keluarga. Kenapa kamu ini suka banget buat Olivia salah paham? Kamu gak seneng aku bahagia sama dia?" Dilon menatapnya dalam, meminta penjelasan.


__ADS_2