Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Merasa Dejavu


__ADS_3

Betapa terkejutnya Olivia melihat Dilon ada di hadapannya, bagaimana bisa tahu juga jika dirinya habis jatuh dari motor? Melihat tatapan khawatir pria itu, dengan mengecek tubuhnya juga membuat hati Olivia menghangat. Merasa terharu saja karena Dilon seperti takut dirinya kenapa-napa.


"Aww!" ringis Olivia saat pria itu sedikit menekan tangan kanannya.


"Apa yang ini yang sakit? Mana lagi?" tanya Dilon dengan tatapannya yang masih sama.


Olivia lalu membuka telapak tangan kanannya, terlihat ada goresan cukup dalam dan masih ada sedikit darah. Ekspresi wajahnya dibuat menyedihkan mungkin, seolah sedang mengadu pada orang yang tepat.


Dilon pun terlihat meringis melihat itu, tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ternyata sapu tangan. Dilon dengan baiknya mengikatkan sapu tangan itu sampai luka di telapak tangan Olivia pun tertutupi.


"Mau ke rumah sakit? Harus diperiksa, takut kenapa-napa," tanya Dilon.


"Gak papa kok, sakit cuman pas jatuhnya aja," Jawab Olivia menolak, merasa luka pun tidak terlalu parah.


Dilon terlihat menghembuskan nafasnya kasar, "Makanya kalau lagi hujan itu jangan paksain nyetir motor, kalau misal gak bisa jangan sok, lihat sekarang malah jatuh!" omelnya.


"Ish habisnya aku tuh takut cuman sendirian di Kampus, semua temen-temen sudah pulang!" bela Olivia dengan setengah menjerit merasa kesal karena diomelin.


Dilon terlihat menggelengkan kepala, ingin sekali menyahut jika dirinya juga belum pulang dan tanpa perempuan itu ketahui, Ia diam-diam memperhatikannya terus. Hatinya tidak nyaman saja meninggalkan Olivia sendirian, dan keputusannya tepat saat mengikuti perempuan itu pulang.


"Ya sudah sekarang ayo pulang!" ajak Dilon sambil berdiri lagi.


"Pulang gimana? Motor aku mati, badan aku juga sakit-sakit gak kuat nyetir," kata Olivia memelas.

__ADS_1


"Gue yang anterin pulang lah, gue masih punya hati," celetuk Dilon menurunkan ego nya. Tidak tega juga membiarkan Olivia pulang sendirian, sekarang saja pasti masih syok.


Olivia menatap pria itu berbinar, "Serius kamu mau anterin aku pulang? Makasih ya," ucapnya tulus.


Dilon hanya berdehem lalu mengulurkan tangannya, sempat menduga Olivia tidak akan menerima, tapi ternyata perempuan itu menerima ukuran tangannya dan Ia pun membantunya berjalan pelan sampai ke mobilnya yang terparkir tidak jauh di sana.


Keadaan di luar masih hujan deras, bahkan genangan air di jalanan pun mulai terlihat dan sepertinya akan banjir. Setelah Olivia duduk di kursinya, Dilon pun segera memutar dan ikut masuk lalu menyalakan mesin mobilnya . Tadi Ia sudah bicara pada seseorang menitipkan motor Olivia, dan nanti akan diambil seseorang.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan lagi, keduanya sama-sama menyelami pikiran masing-masing. Bisa merasakan satu mobil bersama lagi membuat rasanya dejavu teringat masa lalu, hanya saja memang suasananya tidak secanggung ini.


"Dilon, kok kamu bisa tahu kalau aku jatuh dari motor? Jangan-jangan kamu diam-diam ngikutin aku di belakang ya?" tanya Olivia memutuskan menanyakan karena terus kepikiran.


Dilon terlihat meremas setir mobilnya, merasa gugup dituduh seperti itu, "Haha ngapain juga gue ngikutin lo? Jangan kepedean deh. Gue juga lagi di jalan pulang, terus malah gak sengaja lihat motor lo di sisi jalan," jawabnya bohong.


"Oh ya? Memangnya kamu tahu gimana motor aku?"


Untuk membunuh keheningan dan rasa gugup, Dilon malah menyalakan musik dengan volume yang agak keras. Entah kebetulan atau bagaimana, musik yang diputar adalah Dejavu dari penyanyi Olivia Rodrigo. Arti lagu itu kan sangat menusuk hati bagi pasangan yang baru putus.


"Hei Olivia, jangan kepedean ya atau baper. Gue baik nolongin lo bukan perhatian atau masih ada rasa, gue.. Gue cuman punya rasa kemanusiaan aja," kata Dilon yang sepertinya merasa malu sudah bersikap se care itu tadi, baru menyesal sekarang.


Olivia langsung menoleh, tatapannya terlihat memicing pada pria yang sedang menyetir itu. Merasa kesal tiba-tiba, padahal memang awalnya Ia sempat baper dengan perhatian Dilon. Jadi menolongnya hanya karena rasa kemanusiaan bukan perasaan lebih?


"Enggak tuh, aku juga gak kepikiran gitu!" ketus Olivia menanggapi, Ia pun akan meninggikan ego nya.

__ADS_1


"Hm baguslah, lagian harus inget kalau sekarang sudah punya tunangan, jangan sampai deh baper sama cowok lain," sahut Dilon kembali meledek.


Untungnya tidak lama mobil sampai juga di depan gerbang rumahnya. Olivia menghembuskan nafasnya kasar mengurangi perasaan kesal di hatinya. Kalau saja Dilon tidak mengatakan itu, Ia jadi tidak akan kesal begini.


Sebelum turun Olivia sempat menoleh pada Dilon, tidak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah itu Ia pun turun dan berlari kecil untuk sampai ke rumahnya. Dilon juga sepertinya langsung pulang.


Saat masuk ke dalam rumah, Olivia langsung bernafas lega. Kebetulan Mamanya sedang lewat, menyadari dirinya sudah pulang langsung menghampiri. Olivia pun langsung menunjukkan ekspresi memelas nya.


"Ya ampun Olivia kenapa baru pulang jam segini? Kamu bilang acaranya selesai jam lima an," tanya Keisha menginterogasi.


"Iya memang jam segitu, tapi kan hujan jadi aku pulang lebih lama. Mama tadi aku di perjalanan pulang sempat jatuh dari motor, badan aku sekarang sakit-sakit," adunya.


Kedua mata Keisha terlihat terbelak terkejut, Ia pun langsung memegang bahu Olivia dan memperhatikan badannya, "Ya ampun kok bisa sih? Kasihan anak Mama, terus kamu gak papa kan? Mana yang sakit?"


Mamanya pun menariknya untuk duduk di sofa di ruang tamu, memanggil pembantu membawakan minuman dan kotak obat. Olivia pun menjelaskan dengan detail kondisinya saat ini, juga menceritakan juga kenapa dirinya bisa sampai terjatuh.


Sempat Keisha akan mengajak ke rumah sakit untuk mengecek lebih lanjut, khawatirnya ada komplikasi atau luka dalam. Tetapi Olivia menolak dan mengatakan baik-baik saja, selain itu luka paling parah hanya di telapak tangannya yang sampai berdarah.


"Ya sudah nanti jangan bawa motor sendiri, biar dianter supir saja ke kampusnya. Terus sekarang motornya dimana?"


"Motornya ditinggal di sana, nanti ada yang ngambil. Bagian depannya agak penyok, mungkin bakal ada goresan juga," Jawab Olivia lalu tersenyum kikuk khawatir dimarahin.


Keisha langsung terpikirkan sesuatu, "Terus kamu pulang sama siapa tadi? Kalau kaya gitu pasti ada yang anterin kamu kan?"

__ADS_1


Olivia menelan ludahnya kasar ditanyai begitu, tidak mungkin Ia menjawab jujur kalau Dilon lah yang mengantarnya pulang, takutnya membuat masalah baru.


"Aku di anter temen Kampus sih," Jawabnya tidak bohong sepenuhnya juga.


__ADS_2