
"Hah enggak ada kok!" Bantah Vanessa sambil tersenyum kikuk, ekspresi wajahnya itu kentara sekali sedang berbohong.
Olivia lalu semakin mendekati perempuan itu dan menatapnya dalam, "Vanessa jangan bohong dong, ayo jujur aja. Aku penasaran banget gimana Dilon sekarang, soalnya dari kemarin kita belum kontekan."
"Kenapa? Kalian lagi marahan ya?" tanya Vanessa memberanikan diri, tapi langsung mengatupkan bibir merasa malu sendiri.
Dengan terpaksa Olivia pun mengangguk pelan, "Iya kami sempat ada masalah beberapa hari lalu," jawabnya.
Sebenarnya Vanessa ingin tahu lebih banyak sebenarnya masalah apa yang terjadi di antara pasangan kekasih itu, karena Dilon juga seperti enggan cerita. Tetapi sepertinya Ia tidak perlu tahu, toh bukan siapa-siapa.
Vanessa lalu berdehem pelan, "Dilon bilang dia lagi ke luar kota beberapa hari, ada urusan," ujarnya.
"Loh kemana? Harusnya kan dia sekolah, sebentar lagi kan ujian," sahut Olivia.
"Ke Surabaya, iya di sana katanya Neneknya sakit jadi mau beberapa hari di sana." Vanessa berusaha terlihat serius, agar Olivia itu tidak curiga.
Benarkah? Olivia merasa sedih karena pria itu tidak memberitahunya. Memang sih mereka sedang marahan, tapi Olivia merasa sedih karena Dilon malah bilangnya hanya pada Vanessa. Tetapi Ia pun terlalu gengsi untuk menanyakan lebih dulu, salah sendiri.
Dengan langkah gontai Olivia pun berbalik untuk masuk ke bilik kamar mandi, membuang hajatnya sebentar. Ia terus melamun memikirkan Dilon, sepertinya Olivia harus menurunkan perasaan gengsinya itu untuk mengabari Dilon terlebih dahulu. Ia benar-benar tersiksa.
Saat keluar dari toilet, ternyata Vanessa itu belum pergi, "Kok masih di sini?" tanyanya sambil mencuci tangan di wastafel.
"Hehe gak papa, nungguin kamu aja. Ada sesuatu yang mau aku tanyain," kata Vanessa.
"Bilang aja."
__ADS_1
Vanessa terlihat gugup mengatakannya, "Em Olivia, apa Dilon sempat buat masalah berat?"
"Hm maksudnya?" Olivia jadi bingung sendiri ditanyai seperti itu.
"Kaya ngelakuin kejahatan gitu, atau buat onar mungkin? Kamu kan pacarnya, pasti tahu lah sedikit tentang kebiasaan dia," jawab Vanessa yang masih membuat Olivia belum paham.
"Balap liar gitu?" tanya Olivia memastikan, karena menurutnya itu juga salah satu kebiasaan Dilon yang cukup melanggar.
Tetapi Olivia merasa bingung kenapa Vanessa menanyakan itu, apakah terjadi sesuatu pada Dilon? Anehnya setelah memikirkan, perasaan Olivia jadi tidak enak. Kekasihnya itu baik-baik saja kan?
"Sudah bel masuk, yuk ke kelas sekarang," ajak Vanessa mengalihkan obrolan.
Olivia menatap kepergian perempuan itu dengan ekspresi bingung nya, merasa Vanessa itu agak aneh hari ini. Ingin menanyakan lebih, tapi Vanessa terlihat terus menghindar. Semoga aja Vanessa tidak menyembunyikan sesuatu.
Olivia pun kembali ke kelas, ternyata Syifa dan Tasya pun sudah di sana lebih dahulu. Mereka bahkan membayarkan pesanannya, Olivia pun langsung membayarnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Tadi di toilet memang lebih lama karena mengobrol dengan Vanessa.
Entah keberanian dari mana, Olivia pun malah menghampirinya, "Selamat sore Pak," sapanya ramah lalu menyalami tangannya.
"Sore juga Olivia, kenapa belum pulang? Kayanya sebentar lagi hujan, harus cepat-cepat pulang," kata Pria paruh baya itu.
"Hehe iya Pak ini juga mau kok, jemputannya lagi di jalan. Bapak sendiri mau pulang juga?" tanya Olivia balik.
"Iya ini mau, tapi saya akan ke kantor polisi dahulu," jawabnya dengan raut wajah menjadi muram, "Kamu sudah ke sana?"
Olivia mengernyitkan keningnya ditanyai seperti itu, kenapa juga Ia harus ke kantor polisi? "Maaf gimana ya Pak maksudnya?"
__ADS_1
Melihat kebingungan di wajah remaja itu membuat si kepala sekolah merasa bingung. Apa jangan-jangan Olivia tidak tahu sesuatu tentang cucunya? Setahunya gadis ini adalah pacar dari Dilon. Kabar ini tentu tersebar cepat, dan Ia sebagai kepala sekolah juga ikut tahu.
"Apa tidak ada yang memberitahu kamu tentang Dilon? Dia kan ditangkap polisi, ada seseorang yang melaporkan dia karena kasus kekerasan," ucapnya memberitahu.
Perlahan kedua mata Olivia terbelak, betapa terkejutnya Ia mengetahui ini. Detak jantungnya pun menjadi cepat, bahkan nafasnya mulai tidak tertatur. Ingin sekali Olivia tidak percaya, tapi yang mengatakan itu adalah orang penting. Kepala sekolah sekaligus Kakek nya Dilon. Tidak mungkin juga bercanda.
"Bapak serius? Dilon ditangkap polisi?" tanya Olivia memastikan lagi, suaranya terdengar gemetar.
Pria paruh baya itu mengangguk pelan, "Iya, saya juga kaget pas dengar kabarnya tadi pagi. Dia sudah ditahan dari kemarin malam, si pelapor ingin Dilon ditahan cepat," jawabnya.
Tunggu, apa jangan-jangan yang melaporkan adalah Septian? Sepertinya begitu, karena tadi katanya kasusnya adalah kekerasan. Bisa saja Septian merasa tidak terima karena Dilon sudah memukulnya dua hari lalu, bahkan ini bukan yang pertama kali.
Sekarang Olivia ingin menemui Septian, Ia tidak akan langsung pulang dan akan ke rumah sakit dahulu tempat dimana Septian dirawat. Mereka harus bicara dan menyelesaikan ini. Olivia memang belum bisa melihat Dilon yang ditahan, tapi Ia pikir harus menyelesaikan inti permasalahannya dulu.
"Terima kasih ya Pak sudah memberitahu saya, jujur saja saya tidak tahu sama sekali karena kami memang sedang lost kontak. Nanti saya pasti akan menemui Dilon. Tapi apa Bapak bisa bantu dia untuk bebas?" Olivia sangat berharap banyak, lagi pula keluarga pria itu kan orang-orang penting dan banyak uang. Masih ada harapan kan?
"Untuk itu sekarang akan kami bicarakan dulu dengan orang tua Dilon, ya semoga saja masalahnya ini cepat selesai dan dia bisa bebas lagi. Semoga juga yang melaporkannya itu bisa diajak berdamai, walau meminta banyak kompensasi," jawab pria paruh baya itu.
Olivia mengangguk paham, sepertinya nanti keluarga Dilon pun akan bertemu Septian untuk membicarakan ini. Tidak apa, Olivia yang akan lebih dahulu bicara dengan lelaki itu. Ia pun pamitan pada kepala sekolah nya, lalu pergi dari sana dengan langkah cepat.
Untungnya jemputannya juga sudah datang, Olivia pun masuk ke dalam mobil dan meminta supirnya itu untuk mengantarnya ke rumah sakit dahulu. Semoga saja Septian pun masih di sana. Padahal kemarin Septian sempat menawarkan dirinya untuk datang, tapi Olivia tolak mentah-mentah.
Entahlah apa kini kedatangannya masih diterima atau tidak.
"Permisi mbak apa di sini ada pasien bernama Septian Hardi?" tanya Olivia pada resepsionis di depan.
__ADS_1
"Sebentar ya saya lihat dulu," kata suster itu dan mulai mencarinya di komputer. "Ada mbak, tapi kalau boleh tahu anda siapanya ya? Soalnya tidak bisa sembarangan orang berkunjung ke sana."
"Saya teman sekolahnya, saya mau jenguk dia," jawab Olivia tanpa ragu. Untungnya suster itu percaya karena mungkin melihat seragam sekolahnya. Setelah diberitahu kamar inap nya, Olivia pun segera menuju ke sana.