
Dilon merasa bingung karena setelah jam pelajaran masuk tidak melihat Olivia juga. Apakah pacarnya itu tidak sekolah hari ini? Dilon pun memutuskan menyalakan ponselnya, membuka salah satu kontak yang sengaja Ia mode senyapkan, yaitu nomor Olivia.
Melihat ada beberapa panggilan dan pesan dari pacarnya itu, membuat Dilon merasa tidak enak karena sudah Ia abaikan. Mau bagaimana lagi, Ia kan sedang marah pada Olivia. Keributan kemarin sangat membekas, bahkan Dilon masih memikirkannya sampai sekarang.
"Pssttt Dilon, Olivia kemana?" tanya Tasya dari bangkunya.
Dilon mengedikkan bahu tidak tahu. Ia terlihat acuh, padahal nyatanya juga merasa khawatir memikirkan pacarnya itu. Tetapi egonya terlalu tinggi. Hanya saja kali ini Dilon janji, jika Olivia menghubungi nya lagi tidak akan Ia abaikan.
Di jam istirahat Dilon pun keluar dari kelas dengan langkah gontai. Tidak ada Olivia di sekolah rasanya sangat membosankan, walau hanya melihat wajah perempuan itu saja sudah membuatnya merasa senang.
"Loh Dilon, Ibu kira tadi kamu yang jagain di UKS," ucap Bu Rita-Wali kelasnya menghampirinya.
"Hah? Ngapain juga saya di UKS Bu?" tanya Dilon bingung. Memang sih Ia suka bolos, tapi kan dari pagi Ia ikut pelajaran.
"Memangnya kamu gak tahu? Olivia kan sakit, tadi pagi pas di hukum karena telat dia tiba-tiba pingsan di lapangan."
Kedua mata Dilon langsung terbelak mendengar itu, detak jantungnya pun menjadi cepat, "Ibu serius? Itu beneran Olivia?!" pekiknya.
"Iya memang Olivia, guru yang jaga UKS juga tadi pagi sudah kabarin Ibu. Kamu memangnya belum lihat dia di UKS? " tanya Bu Rita bingung, biasanya kan Dilon itu selalu bersama Olivia terus.
"Belum Bu, em ya sudah saya mau ke sana sekarang. Makasih ya Bu sudah ngasih tahu." Setelah mengatakan itu, Dilon pun langsung berlari pergi dari sana.
Bisa-bisa nya Ia baru tahu ini, merasa menjadi kekasih yang tidak berguna. Salah Dilon sendiri yang tidak mau menanggapi Olivia, jadinya Ia sekarang merasa menyesal. Nanti Dilon harus minta maaf.
__ADS_1
Dilon pun membuka pintu ruang UKS dengan kasar, nafasnya terlihat memburu karena dari tadi berlari. Pandangannya pun langsung jatuh pada Olivia yang berbaring di ranjang, tapi yang mengejutkan di sana ada Septian.
"Dilon?" panggil Olivia dengan suara lemahnya. Perempuan itu pun berusaha mendudukan tubuhnya, Septian yang melihat itu malah mau membantunya.
Senyuman miris terukir di bibir Dilon saat melihat pemandangan itu. Perasaan khawatir dan menyalahkan diri sendiri langsung berganti dalam sekejap menjadi perasaan marah. Dilon lalu mendekat dan menghempaskan tangan Septian yang memegang Olivia.
"Ngapain lo di sini sialan? Lo bener-bener gak tahu diri ya, dia itu udah punya cowok!" ucap Dilon marah.
Septian menarik sebelah sudut bibirnya sambil mengusap tangannya yang sedikit sakit, "Ya Olivia memang punya pacar, tapi kasihan di saat dia sakit begini pacarnya malah gak peduli," katanya menyindir.
"Cih gue juga baru tahu dia sakit, kalau gue tahu dari awal gue temenin dia di sini." Dilon mengepalkan kedua tangannya, "Lo mending pergi deh, muak gue lihat wajah lo!" usir nya.
"Gue yang lebih dulu di sini Dilon, kayanya Olivia juga gak masalah gue di sini. Kasihan dia dari tadi sendirian, mending lo aja yang pergi!" balas Septian tanpa rasa takut.
Olivia yang merasa suasana di sana semakin panas membuatnya khawatir. Melihat ekspresi wajah menahan marah Dilon, membuatnya yakin jika sepertinya sebentar lagi akan ada keributan.
"Dilon kamu jangan salah paham, Septian juga baru datang kok," ucap Olivia menjelaskan, tidak mau kekasihnya itu berpikir terlalu jauh.
"Tapi lo terima aja dia di sini buat temenin lo, lo suka ya sama dia sampai biarin dia gitu aja? Dasarnya kecentilan, lo itu udah punya cowok!" dengus Dilon sambil menatapnya tajam.
Saat Olivia akan menggapai tangan pria itu, Dilon malah menjauhkan, "Gue kira kemarin lo bener-bener bakal tepatin janji lo, tapi mana? Lo bohong Oliv, gue kecewa sama lo."
Dada Olivia sampai bergetar saat mendengar itu, hatinya pun menjadi sakit. Dilon mengatakannya dengan suara rendah, tapi sangat menusuk hati. Tatapan pria itu pun padanya menjadi perasaan kecewa, membuat Olivia merasa bersalah.
__ADS_1
"Ya sudah Dilon kalau lo gak mau temenin Olivia, gue bisa kok jagain dia di sini. Kalau lo emang udah gak mau sama dia juga, gue akan dengan senang hati terima dia," kata Septian dengan senyuman penuh kepuasannya.
Kini amarah Dilon sudah memuncak, apalagi Septian itu terus memanasi nya dengan sengaja. Dilon lalu melompati ranjang itu dan menerjang Septian yang duduk di kursi sampai membuatnya terjatuh.
Dilon segera duduk di atas tubuh Septian dan mulai memukuli wajahnya. Ternyata Septian cukup pintar, pria itu segera melindungi wajahnya dengan kedua tangan. Pukulan Dilon tentu sangat keras, pria itu benar-benar sangat marah ternyata.
"Dilon berhenti, tolong-tolong!!" teriak Olivia berusaha berteriak keras.
Melihat Dilon yang semakin beringas memukuli Septian yang sudah tidak berdaya, membuat Olivia berusaha berdiri ke pintu untuk meminta tolong. Untungnya sedang jam istirahat, jadi murid di dekat sana yang mendengar pun langsung menghampiri.
Ternyata sangat sulit untuk memisahkan dua lelaki itu, apalagi kekuatan Dilon sangat kuat sampai harus ditahan empat orang. Keributan heboh itu tentu saja menarik perhatian banyak murid lain, koridor di dekat UKS pun menjadi ramai.
"Ya Tuhan Septian!" pekik Olivia terkejut saat melihat ke arah pria itu yang terbaring lemah di lantai.
Saat Olivia berjongkok di sebelah tubuhnya, barulah Ia bisa melihat dengan jelas keadaan Septian. Hidungnya sampai mengeluarkan darah yang cukup banyak, sepertinya patah. Seragam putihnya pun jadi kotor karena bercak darah.
"Ada apa ini?" teriak Bu Rita yang baru datang. Tadi dipanggil beberapa murid, katanya Dilon berkelahi dan Ia pun segera kesini.
"Bu tolong panggil ambulance, Septian dia.." Olivia sampai tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena terlalu gemetar melihat keadaan pria itu yang bersimpah darah.
Bu Rita pun segera menyuruh seorang murid memanggil guru lain untuk membantu membawa Septian ke rumah sakit. Beberapa yang lain lalu segera menggotong Septian keluar. Dan kini suasana di UKS pun sudah tidak se ramai tadi.
Saat pandangan Olivia bertemu dengan Dilon, perasaannya campur aduk sekali. Olivia merasa kecewa dan marah, tapi itu juga yang dirasakan Dilon sekarang. Merasa tidak mau emosinya kembali naik, Dilon pun berusaha melepaskan diri lalu pergi dari sana.
__ADS_1
***
Siapa yang salah nih?