
"Apa itu? Kenapa ada nama si pecundang?" tanya Dilon mulai sensi.
"Dilon ini em.." Olivia merasa bingung harus mencari alasan apa, di posisi terpojok seperti ini otaknya malah tidak bisa mencerna apapun.
Dilon kembali merebut kertas itu dengan kasar dari tangan Olivia, melihatnya jelas lagi untuk memastikan. Merasa memang benar itu adalah nama Septian, membuat Dilon meremas nya kasar, emosinya pun mulai naik.
Pria itu lalu beralih menatap tajam kekasih nya, meminta penjelasan lewat tatapannya. Melihat Olivia yang malah menghindari kontak matanya, membuat Dilon kesal karena terlihat sekali jika Olivia seperti ingin menghindar.
"Jelaskan apa maksudnya ini? Tunggu, jangan bilang teman yang lo maksud itu si Septian? Ini buku dia kan?" tanya Dilon mulai menduga.
"Dilon tenang dulu ya, aku akan jelasin tapi kamu jangan sela oke?" bujuk Olivia sambil membawa kedua tangan pria itu.
"Oke gue dengerin, coba jelasin semuanya sekarang. Awas aja ya lo kalau bohong!" kata Dilon dengan suara ketusnya.
Dan dengan berat hati Olivia pun mulai menjelaskan jika dirinya memang meminjam buku dari Septian. Olivia beralasan jika Ia sangat penasaran dengan buku itu, dan kebetulan sekali Septian menawarkan karena memiliki.
"Tadi lo habis dari rumah dia kan?" sela Dilon di tengah cerita Olivia, tidak bisa menahan diri menanyakan yang satu ini.
"Itu--"
Dilon pun langsung menarik kasar tangannya, lalu menggeleng pelan dengan tatapan kekecewaan pada Olivia. Sekarang perasaan kecewa itu bertambah, merasa sedih dan tidak menyangka saja Olivia sampai sejauh itu.
"Tapi Dilon, Septian bilang dia lupa lagi simpan bukunya dimana. Dia juga pengen aku lihat perpustakaan di rumahnya itu, apalagi kami punya hobi yang sama yaitu baca," jelas Olivia berusaha menjelaskan.
"Oh jadi kalian punya banyak kesamaan ya? Ya sudah, kayanya kalian cocok kalau bersama," ucap Dilon sinis.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Olivia tersentak sendiri mendengar itu.
"Lo sampai bela-belain bohong sama gue cuman mau pergi ke rumah dia, kenapa gak jujur? Takut gue marah ya? Ya sudah pasti sih. Tapi gue lebih marah dan kesel karena lo udah bohong sama gue!" kata Dilon tajam sampai menunjuk wajah Olivia.
Olivia menggigit bibir bawahnya, merasa bingung harus bagaimana lagi. Dilon memang sering marah, tapi kali ini entah kenapa ekspresi wajahnya itu terlihat berbeda. Melihat tatapan kekecewaannya itu, membuat Olivia jadi merasa bersalah.
Saat Olivia akan menggapai lagi tangannya, Dilon menepis kasar lalu berdiri dari duduknya. Dengan sekuat tenaga pria itu berusaha mengatur nafasnya yang memburu, percayalah sekarang rasanya Dilon ingin mengamuk.
"Dilon aku cuman pinjem buku kok, aku sama Septian gak ada hubungan apapun, kita cuman temen," ucap Olivia masih berusaha membujuk.
"Halah bohong, terus kenapa lo baru pulang jam segini? Dari pulang sekolah lo di rumah dia kan? Ngapain aja kalian? Gak mungkin gak ngapa-ngapain," sahut Dilon.
"Maksud kamu apa?" Olivia lalu ikut berdiri, merasa tersinggung dengan perkataan Dilon. Pria itu menuduhnya yang aneh-aneh?
Dilon lalu mendorong pelan bahu perempuan itu dengan telunjuknya, "Dua jam lo di rumah dia, gak mungkin ngapa-ngapain. Kalian pasti berduaan kan di kamar?" tuduh nya.
Dilon lalu bertepuk tangan sambil tersenyum sinis mendengar itu, sepertinya yang satu ini benar. Dadanya semakin sakit saja, perasaannya saat ini campur aduk sekali. Antara marah, kecewa dan cemburu menjadi satu.
Pria itu hanya tidak menyangka saja Olivia berani melakukan ini padanya, "Lo tahu kan hubungan gue sama dia gimana? Maksud lo apa deketin dia?"
"Aku gak deketin Septian ataupun ada maksud lain. Sudahlah Dilon, lagian aku cuman pinjam buku doang, kamu jangan lebay deh!" dengus Olivia yang kesal terus di pojokkkan. Menurutnya pria itu sangat berlebihan sekali jika sudah cemburu.
"Apa lo bilang? Lebay? Sekarang coba balikin posisi, gimana kalau gue yang gitu ke cewek lain?" tantang Dilon.
Mendengar itu membuat Olivia tersentak dan langsung memikirkan. Jika Dilon melakukan itu, sepertinya Ia tidak akan terima dan marah. Ya walau Dilon juga tidak melakukan apapun, tapi tetap saja Olivia tidak terima.
__ADS_1
Menyadari dirinya salah, Olivia pun kembali mendekati Dilon sambil meminta maaf. Tetapi pria itu tidak mau di sentuh nya, bahkan Dilon membawa lagi tas nya dan akan pergi keluar.
Sebelum Dilon membuka pergi, Olivia pun segera memeluknya dari belakang. Kata maaf terus keluar dari bibir nya, Olivia merasa menyesal dan mengakui jika dirinya sama saja seperti tidak menghargai Dilon dengan pergi ke rumah lelaki lain.
"Lepasin, gue mau pulang." Nada suara Dilon kini sudah tidak setinggi tadi, tapi yakin emosinya belum surut.
"Dilon maafin aku hiks, aku janji gak akan begini lagi. Besok aku akan kasihin lagi bukunya ke Septian, aku juga gak akan deketin dia lagi. Maafin aku ya?" Bujuk Olivia, perempuan itu sekarang sudah menangis.
Tetapi ternyata Dilon tidak mudah luluh, apalagi untuk masalah yang satu ini. Dengan sekuat tenaga, Dilon pun berhasil melepaskan tangan Olivia di perutnya. Ia lalu melangkah cepat untuk pergi dari sana, tapi saat akan keluar rumah malah berpapasan dengan Papanya Olivia.
"Loh Olivia, kenapa kamu menangis?" tanya Kevin terkejut, Ia lalu beralih menatap Dilon, "Kamu apakan anak saya? Kenapa dia sampai menangis? " tanyanya marah.
"Maaf Om saya permisi pulang," ucap Dilon.
Kevin yang merasa remaja itu ingin menghindar membuatnya semakin emosi, "Hei Dilon, awas ya kamu kalau nyakiti anak saya!" teriaknya.
Melihat Olivia yang akan mengejar Dilon, Kevin pun segera menahan tangannya. Putrinya itu sempat minta di lepaskan, dengan air matanya yang belum surut juga. Hatinya sakit sekali melihat anak kesayangannya menangis begitu, baru Ia lihat lagi.
"Sudah Olivia, kenapa kamu ini malah mau ngejar dia? Biarkan saja laki-laki pengecut seperti dia itu, jangan menjadi perempuan yang lemah begini!" kata Kevin.
"Papa gak tahu yang sebenarnya!" ucap Olivia kesal, Papanya malah menghalangi membuat Olivia takut kehilangan Dilon.
"Lalu memangnya kenapa sama kalian? Kenapa kamu menangis? Pasti dia kan yang sudah buat kamu menangis, siapa lagi kalau bukan Dilon?" tuduh Kevin.
Ya namanya orang tua, pasti yang dibela tetap anaknya. Apalagi Kevin juga belum tahu permasalahannya, hanya menduga jika putrinya itu tidak salah, sedangkan Dilon yang Ia salahkan.
__ADS_1
***
Waduh gimana nih sama hubungan mereka ya?