Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Hari Baru


__ADS_3

Olivia memperhatikan Dilon yang sedang makan dengan lahap di depannya. Selesai jalan-jalan perut mereka terasa keroncongan, memutuskan singgah di sebuah restoran khas makanan Sunda yang cukup terkenal.


"Semua makanannya enak, kalau kaya gini kayanya aku bakal makan banyak deh," kata Dilon dengan mulut penuhnya.


"Ya sudah habiskan dulu yang itu, tenang aja nasinya juga masih banyak kok," ucap Olivia. Dengan baiknya Ia menyimpan sepotong ayam goreng lagi di piring Dilon, membuat kekasihnya itu tersenyum lebar.


Sekarang Dilon tidak akan makan-makanan hambar khas penjara lagi, bisa makan-makanan enak seperti dulu. Suasana ini bagi pria itu tentu sangat mengharukan. Walaupun baru ditahan hanya beberapa hari, tapi tetap saja rasanya seperti lama sekali.


Selain makanan enak yang tidak bisa Ia temui, juga orang-orang yang dikasihinya. Seperti keluarga, teman-teman apalagi pacarnya ini. Dilon lalu menghentikan makannya sejenak, Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menyimpanhya di atas meja.


"Hm apa ini?" tanya Olivia lalu membawa benda berukuran kecil itu. Ternyata itu foto dirinya dengan Dilon, saat mereka sedang makan es krim bersama.


"Aku bawa foto itu ke sana, dengan itu bisa sedikit ngobatin kangen aku sama kamu," jawab Dilon dengan senyuman tipisnya.


Olivia tersentak mendengar itu, Ia pun menatap kekasihnya dalam. Detak jantungnya tanpa bisa ditahan menjadi cepat. Perlahan kedua matanya pun berkaca-kaca, merasa terharu karena Dilon sampai membawa foto mereka ke dalam sel.


Hanya ini saja sudah membuat Olivia bisa menyimpulkan jika Dilon memang sangat mencintainya. Sayangnya kebersamaan mereka ini tidak akan lama, bisa saja mungkin ini juga yang terakhir kalinya mereka bisa semesra ini.


"Memangnya polisi gak marahin kamu bawa barang dari luar?" tanya Olivia mengalihkan obrolan, berusaha agar Ia tidak menangis juga.


"Enggak lah, lagian banyak juga yang bawa foto keluarganya ke dalam sel. Mereka juga sama-sama kangen sama orang yang di sayanginya," jawab Dilon santai sambil melanjutkan lagi makannya.

__ADS_1


Olivia lalu terpikirkan sesuatu, "Terus kenapa kamu gak bawa foto Papa sama Mama kamu?"


Dilon malah tertawa kecil, merasa lucu saja mendengar itu, padahal tidak salah juga sebenarnya. "Aku pengennya foto kita, karena orang yang paling aku sayang sekarang ya kamu, Olivia."


Deg!


Merasa matanya semakin panas, membuat Olivia memutuskan beranjak dan izin ke toilet sebentar. Ia pergi bukan ingin buang air kecil atau apa, melainkan ingin mengeluarkan air matanya. Merasa sedih melihat se dalam apa pria itu mencintainya.


Sungguh Olivia tidak tega jika harus memutuskan Dilon, karena Ia juga sangat mencintai kekasihnya itu. Bisakah Olivia langgar saja persyaratan dari Septian? Tetapi Ia takut, jika pria itu nekad dan melakukan hal buruk para Dilon. Olivia tidak mau melihat Dilon kenapa-napa lagi.


"Hiks maafin aku Dilon, maafin aku!" isaknya di dalam kamar mandi.


Setelah mengeluarkan semua air matanya dan keadaannya lebih tenang, Olivia memutuskan kembali menghampiri Dilon. Pria itu cerita sudah menghabiskan dua piring nasi, dan perutnya sekarang kekenyangan. Olivia hanya tersenyum saja, sambil menyembunyikan perasaan sedihnya.


"Memangnya kamu gak mau lanjut makan? Dari tadi kamu cuman makan sedikit loh," tanya Dilon balik, nasi di piring Olivia bahkan masih setengah tersisa.


"Hehe enggak, sebenarnya aku gak terlalu laper sih. Cuman gak tega aja lihat kamu yang kelaperan," jawab Olivia lalu tertawa kecil.


Dilon hanya teraenyum tipis lalu mengangguk setuju untuk langsung pulang. Tidak terasa mereka juga sudah jalan lumayan lama, karena sekarang langit sudah berganti warna menjadi jingga menandakan hari sudah sore. Walaupun begitu, pastinya tidak akan pernah ada rasa puas.


Kali itu pun untuk pertama kali Dilon pinjam uang pada Olivia untuk membayar makan mereka tadi. Dilon kan tidak bawa apapun, jadi sekarang Olivia yang menanggung. Olivia sendiri tidak masalah sih, sekali-kali juga membalas. Selama ini kan biasanya Dilon yang keluar uang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Dilon, keduanya masuk sambil berpegangan tangan. Ternyata di ruang tamu ada kedua orang tua Dilon, sedang mengobrol dengan mantan pengacara nya. Katanya kasusnya benar-benar sudah selesai, jadi Pak Hendra pun tidak bekerja lagi.


"Kalian dari mana? Kelihatan seneng gitu ekspresi wajahnya," tanya Erika sambil tersenyum memperhatikan pasangan muda yang duduk di depannya.


Dilon dan Olivia saling bertatapan sebentar, "Dia ajak aku jalan-jalan, terus kami juga sempat makan di luar. Rasanya baru keluar penjara itu benar-benar seneng banget sih," jawab Dilon.


Aiden lalu berdehem agak keras, "Dilon lain kali jangan melakukan hal di luar batas lagi, kamu juga harus menjaga sikap. Papa gak mau ini terulang lagi, mengerti?!"


Walaupun nada suara Papanya terdengar agak keras dan tegas, tapi bukan berarti Aiden sedang marah pada putranya itu, hanya ingin menasehati nya saja. Dilon pun mengangguk menurut saja, karena tadi Olivia pun sempat bicara begitu kepadanya. Ya Dilon pikir dirinya memang harus bisa mengontrol emosinya sekarang.


"Apa kamu sudah bertemu Septian? Kamu harus bicara dengan dia, minta maaf lah dan berterima kasih karena dia sudah cabut laporan kamu," perintah Aiden.


"Tapi--" Dilon ingin protes dan enggan melakukan itu, tapi perkataannya tertahan merasakan genggaman di tangannya. Olivia menatapnya dalam, arti tatapan itu bermakna banyak hal dan membuat Dilon pun mengangguk mengerti.


Walaupun ini bukanlah kesalahan Dilon sepenuhnya, tapi baiklah nanti Dilon akan bicara dengan si Septian itu. Entahlah apa yang akan terjadi nanti, tapi Ia pastikan tidak akan terjadi keributan karena malas juga harus berurusan dengan laki-laki baperan itu. Bisa-bisa Dilon dilaporkan lagi.


Setelah mengobrol lama dengan kedua orang tuanya, Dilon dan Olivia pun pindah ke lantai atas menuju kamarnya. Dilon langsung melompat ke atas ranjang, berbaring di sana dengan perasaan senang. Akhirnya Ia bisa tidur di kasur empuk lagi, badannya pun tidak akan sakit-sakit lagi.


Olivia yang melihatnya hanya terkekeh kecil, hari ini Dilon benar-benar seperti anak kecil, "Dilon, aku mau pulang sekarang ya soalnya sudah sore. Gak papa kan?" izinnya.


"Hm ya sudah deh gak papa, besok juga kita ketemu di sekolah. Ujian kan?"

__ADS_1


"Iya, kamu harus ikut ya soalnya kan ini penting." Olivia akui Dilon itu tebal muka, karena pria itu tidak malu untuk menunjukan diri di umum lagi walaupun sudah terjerat hukum. Tetapi untuk yang satu ini sepertinya lebih bagus memang bersikap acuh.


Sebelum benar-benar pergi, Olivia sempat mengecup pipi Dilon sebagai tanda perpisahan. Di bawah pun tidak lupa pamit lagi pada kedua orang tua Dilon, setelahnya benar-benar pergi.


__ADS_2