
Firasat Olivia benar, jika kepindahan Vanessa ke sini bukanlah rencana bagus. Sekarang perempuan itu terus mengintilinya dan Dilon, membuat matanya sakit saja. Ingin sekali Olivia usir, tapi tidak enak.
"Dilon nanti pulang sekolah anterin aku ke makam Nenek ya, aku kangen sama Nenek," pinta Vanessa dengan wajah dibuat sedihnya agar Dilon iba.
"Iya, nanti kalau udah anterin dia pulang," jawab Dilon. Dia di sini tentu saja Olivia.
Olivia menggigit bibir bawahnya, jadi maksudnya mereka hanya akan pergi berdua? Membayangkan Vanessa yang akan mencari kesempatan pada Dilon, apalagi tanpa dirinya, membuat dada Olivia panas sendiri.
"Ekhem aku juga mau ikut," kata Olivia berdehem agak keras.
"Serius mau ikut? Gimana kalau di sana malah bosen?" tanya Dilon. Ia sih tidak masalah, alasannya tidak menawarkan juga karena takut Olivia kebosanan.
"Enggak lah, lagian kamu juga di sana gak akan lama kan?" tanya Olivia balik.
Olivia sempat melirik Vanessa yang duduk di depannya lewat ekor mata. Bibirnya lalu menyunggingkan senyuman sinis melihat wajah cemberut perempuan itu, pasti sebentar lagi juga mau protes.
"Aku kan ngajaknya cuman sama kamu Dilon, sudah mending kamu anterin dia pulang aja dulu nanti," ujar Vanessa mengkode.
"Gak papa dong aku juga ikut, kan sekalian ziarah. Kamu harusnya sebagai keluarga seneng dong ada yang mau ziarah ke makam Nenek kamu," sahut Olivia tidak mau kalah.
Vanessa semakin cemberut mendengar itu, "Terus kalau dia ikut, aku sama siapa perginya?" tanyanya protes.
Dilon menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat keributan di antara dua perempuan itu. Ia juga sedang memikirkannya sekarang. Vanessa ini sudah pasti akan kekeh ingin dengannya, tapi Dilon juga tidak tega meninggalkan Olivia.
"Ya kamu pakai taxi online aja, motor Dilon gak akan cukup," jawab Olivia agak ketus.
"Gak mau lah, kamu aja sana yang naik taxi. Lagian kan aku yang ngajak Dilon duluan, eh tiba-tiba kamu mau ikut," kata Vanessa ikut ketus.
"Aku harus ikut, soalnya takut Dilon di gondol maling," ucap Olivia menyindir.
Kedua mata Vanessa langsung terbelak, "Maksudnya apa ya bilang gitu? Jadi aku malingnya?!" pekiknya protes.
__ADS_1
Melihat keributan semakin panas, Dilon pun langsung berdiri untuk melerai. Dua perempuan itu memang tidak akur, Dilon juga salah karena mengumpulkan mereka di satu tempat yang salah.
"Sudah dong kalian itu kenapa sih? Begitu aja di bikin repot. Gue kan bisa pulang dulu, terus balik lagi kesini bawa mobil," ucap Dilon menyelesaikan.
"Tapi kasihan kamu kalau balik ke rumah dulu, kan jauh," kata Vanessa iba.
"Ck gak papa, gue bisa ngebut. Bentar doang, tapi kalian harus nunggu," bantah Dilon sambil mengibaskan tangannya di udara.
Merasa tidak mood lagi melanjutkan makan, Olivia memutuskan ke toilet dahulu. Dilon sempat menahan tangannya tidak membiarkan pergi, tapi Olivia beralasan hanya ingin ke toilet. Padahal nyatanya Ia ingin menghindar.
Perempuan itu berjalan di Koridor dengan tatapan kosong, banyak sekali yang Olivia pikirkan. Ternyata benar kata orang, memiliki pacar yang punya sahabat perempuan itu sangat tidak enak. Olivia setiap kali harus menahan cemburu.
Brug!
"Aduh!"
Melihat banyak buku terjatuh di depannya, membuat Olivia terkejut. Astaga Ia melamun sampai tidak melihat jalan, Olivia pun segera berjongkok untuk ikut membantu membawa buku-buku itu.
"Ya ampun maaf ya, aku gak sengaja," ucap Olivia.
Mendengar suara familiar itu, membuat Olivia mengangkat kepala untuk melihat. Senyumannya langsung terukir karena itu adalah Septian. Olivia pun menggeleng kalau dirinya baik-baik saja, malahan bingung kenapa Septian malah menanyakan keadaannya.
"Kamu bawa buku sebanyak ini mau di kemanain?" tanya Olivia.
"Di ke perpustaka in, tadi habis dipakai pelajaran," jawab Septian.
"Jangan bilang kamu belum makan lagi?"
Melihat pria itu yang menggeleng sambil tersenyum polos seperti biasa, membuat Olivia menghela nafas pelan. Septian ini orangnya memang cukup pendiam, orang seperti ini biasanya selalu takut kemana pun sendirian karena tidak memiliki teman.
Olivia jadi ingat dirinya sudah menerima pria itu sebagai temannya, jadi Olivia pun ingin berbaik hati kepada Septian. Akhirnya Ia pun menawarkan diri untuk ikut membantu mengantarkan buku itu ke perpustakaan.
__ADS_1
"Emangnya aku gak ganggu waktu kamu?" tanya Septian yang berjalan di sebelahnya. Pria itu membawa tumpukan buku lebih banyak, tapi lebih baik dari pada tadi.
"Enggak kok, aku juga sudah dari kantin," jawab Olivia sambil mengedikkan bahunya.
"Kamu sudah makan berarti ya?"
"Iya, nanti selesai dari perpustakaan kamu juga makan ya?"
Septian malah tersenyum, merasa senang ada yang menyuruhnya begitu, seperti sedang di perhatikan. Memang sih Olivia itu orangnya baik pada semua orang, dan pasti bukan hanya pada Septian saja.
Setibanya di perpustakaan, mereka terlebih dahulu laporan pada penjaga perpustakaan untuk mengembalikan buku. Guru itu pun memerintah keduanya langsung menata lagi di salah satu rak yang ada di dekat jendela.
"Kenapa gak ada yang bantuin kamu sih? Bukunya kan banyak banget, kamu yang disuruh mereka ya?" tanya Olivia yang bisa langsung menebak.
"Iya, mana ada juga yang mau bantuin aku. Mereka itu sukanya nyuruh-nyuruh aku, lihat aku menderita pasti seneng," celetuk Septian.
"Dasar jahat, ini sama aja kaya bullying. Apa kamu pernah laporan sama wali kelas?"
"Em kayanya wali kelas aku juga tahu aku sering di kucilin, tapi dia gak terlalu peduli dan selalu acuh. Apalagi aku cuman murid pendiam, gak terlalu terlihat," jawab Septian dengan tatapan sendunya.
Olivia menatap kasihan Septian. Sebelah tangannya terulur begitu saja menepuk-nepuk bahu pria itu, memberikan semangat. Saat Septian menatapnya, Olivia langsung tersenyum manis.
"Yang sabar ya Septian, gak lama lagi juga kita lulus dan keluar dari sekolah ini. Aku harap di luar sana, kamu bisa memulai hidup lebih baik," ucap Olivia memberikan semangat.
"Makasih ya Olivia, kamu adalah orang terbaik yang pernah aku temui," kata Septian terharu.
"Iya, kita kan teman jadi harus saling support."
Senyuman di bibir Septian langsung menghilang mendengar itu, Ia serasa di hadapkan pada sebuah fakta jika dirinya memang hanya sebatas teman saja dengan Olivia. Septian terlalu berpikir jauh dan berlebihan, Ia juga harus sadar diri.
"Kamu harus percaya diri Septian, karena sikap takut kamu ini malah dimanfaatkan orang lain. Kalau kamu lebih percaya diri, aku yakin orang lain pun akan segan sama kamu," ucap Olivia.
__ADS_1
Septian mengangguk pelan, "Iya, aku akan coba."
Di tengah asiknya mereka mengobrol, suara pintu perpustakaan yang terbuka keras dengan teriakan seseorang memanggil nama Olivia, membuat keduanya terkejut. Itu Dilon, sepertinya sedang mencari Olivia.