
Melihat setangkai bunga disimpan di mejanya, membuat Olivia mengangkat kepala untuk melihat. Tatapannya terlihat dingin pada Dilon yang berdiri di depannya sambil tersenyum lebar, Ia berusaha mengabaikan dan kembali fokus membaca buku.
Dilon terlihat menghela nafas berat karena di abaikan, Ia membawa salah satu kursi lalu duduk di dekat sang kekasih. "Tadi aku jemput kamu, tapi supir bilang kamu sudah berangkat dari pagi banget. Kok gak bilang sih sayang?" tanyanya.
"Terserah aku!" jawab Olivia ketus sambil mengedikkan bahu.
"Ya sudah gak papa, yang penting kamu juga sampai di sini selamat." Dilon kembali membawa bunga mawar itu lalu di dekatkan pada Olivia. "Nih buat kamu, mawar yang cantik untuk pacar aku yang cantik juga."
Olivia memilih menghentikan bacanya dan kembali menatap Dilon, ternyata pria ini tidak menyerah juga untuk meluluhkan hatinya. Kalau seperti ini, bisa-bisa Olivia akan memaafkan dengan mudah. Padahal kesalahan pria itu menurutnya agak keterlaluan.
"Dilon aku sudah bilang kan aku pengen sendiri dulu, jangan ganggu aku!" tegas Olivia dengan ekspresi datarnya.
"Tapi sampai kapan sayang? Kemarin aku bahkan gak ketemu kamu sama sekali karena aku ngasih kamu waktu. Kamu masih ngambek sama aku?" tanya Dilon putus asa, ekspresi wajahnya terlihat memelas tanda sedih.
Olivia menggeleng tidak akan mudah luluh. "Aku pikir kesalahan kamu kali ini keterlaluan, aku gak suka sama orang yang bohong!"
Baru saja akan kembali menjelaskan, Dilon terpaksa harus beranjak karena melihat guru masuk dan pelajaran akan segera dimulai. Pria itu duduk dengan kasar di bangku tepat belakang Olivia. Tidak bisa fokus belajar karena terus memikirkan masalahnya dengan sang kekasih.
Ya Dilon akui dirinya memang salah, tapi kan sudah minta maaf. Apakah harus dirinya berjanji tidak akan balapan lagi? Ah itu sangat berat, tapi jika pun mampu dimaafkan Olivia terpaksa harus Ia lakukan, sekalipun balapan adalah salah satu hobi nya.
"Inget ya anak-anak, kalian harus semangat dan rajin belajar nya karena hanya tinggal beberapa minggu lagi Ujian Kelulusan berlangsung. Kalian juga harus sudah pikirkan matang-matang kemana akan melanjutkan setelah keluar dari sekolah ini. Mengerti?" kata si guru.
__ADS_1
"Mengerti Bu," jawab mereka serentak.
Selama pelajaran itu, Olivia terus fokus memperhatikan. Sepertinya sekarang lebih baik seperti ini saja, apalagi sebentar lagi akan ada Ujian Kelulusan dan ingin memaksimalkan nilai. Olivia pikir jika berpacaran hanya mengganggu saja, nanti Ia juga tidak bisa fokus belajar lagi.
Saat bel istirahat berbunyi, Olivia langsung beranjak pergi bersama kedua sahabatnya keluar dari kelas menuju kantin. Dilon yang melihat itu lagi-lagi menghela nafas berat, terasa sulit sekali untuk meluluhkan hati Olivia. Harus dengan cara apalagi?
Tiba-tiba Vanessa menghampiri bangkunya. "Dilon, kamu sama Olivia lagi marahan ya?" tanyanya penasaran. Ia bisa lihat gerak-gerik dua orang itu dengan baik.
"Hm, ada sedikit masalah dan sekarang dia lagi ngambek." Dilon lalu menatap sahabatnya itu, "Tahu gak cara luluhin cewek?"
"Haha kamu nanya ke orang yang tepat, apalagi kan aku cewek dan pasti tahu lah," jawab Vanessa sambil tertawa lebar. Jika pun benar pasangan kekasih itu sedang marahan, maka Vanessa dengan senang hati akan bantu berbaikan.
Awalnya Dilon merasa enggan jika harus membeli buket bunga besar dan boneka besar juga, Vanessa bilang semua perempuan suka itu dan yakin Olivia tidak akan marah lagi. Tetapi Dilon tidak suka juga kekasihnya itu mendiami nya terus, akhirnya Ia menurunkan rasa malu nya dan akan melakukan itu.
***
Beralih pada Olivia, perempuan itu sekarang sedang makan siang dengan kedua sahabatnya. Syifa dan Tasya saling bertatapan melihat Olivia yang makan tapi dengan tidak nafsu, bahkan mie goreng nya hanya dimainkan dari tadi. Mereka tahu jika Olivia sedang marahan dengan Dilon.
Olivia menghentikan kegiatan konyolnya itu lalu menatap kedua temannya bergantian. "Kalian tahu juga kalau Dilon suka ikut balap liar?" tanyanya. Mereka kan lebih kenal Dilon lebih lama di banding dirinya.
"Tahu sih, denger juga dari beberapa gosip. Dia kan masuk salah satu geng besar di Jakarta, mereka ya pasti selalu ikut begituan," jawab Tasya, ya walau Ia tidak pernah lihat langsung.
__ADS_1
"Huft aku tuh gak suka dia ikut begituan, kan bahaya dan takut nyelakain diri sendiri. Dilon itu susah banget dibilangin, dia malah pergi diam-diam dan bohong sama aku," cerita Olivia sambil menggerutu.
Tasya dan Syifa menganggukan kepala mengerti, jika mereka di posisi Olivia pun pasti akan sama kesalnya. Sebagai perempuan kan pasti hanya ingin yang terbaik untuk kekasihnya. Walaupun misal itu adalah kesukaannya, tapi kan tetap berbahaya dan seharusnya dihindarin.
Di tengah obrolan, tiba-tiba seseorang datang lalu menyimpan beberapa bungkus coklat batangan di depan Olivia. Murid perempuan itu lalu bilang jika coklat itu pemberian dari Septian, kedua teman Olivia pun langsung heboh dan menyoraki nya. Olivia tidak lupa mengucapkan terima kasih pada murid itu.
Ternyata di salah satu coklatnya ada notes dengan tulisan tangan. "Jangan cemberut terus, kalau senyum kan makin cantik," ucap Olivia membacakan.
Syifa dan Tasya pun semakin menggoda nya, sedang Olivia hanya mengibaskan tangan di udara sambil menahan malu dan sedikit salah tingkah. Kenapa Septian melakukan ini ya? Pria itu terasa semakin terang-terangan mendekatinya lagi.
"Aduh Olivia gimana nih? Pasti sekarang lagi bimbang nih hatinya," goda Tasya sambil menaik turunkan alisnya.
"Ihh apaan sih? Enggak juga, biasa aja," jawab Olivia agak ketus. Hatinya tidak bimbang, karena jika bimbang itu berarti hatinya menyukai dua orang di waktu bersamaan.
Syifa lalu mencolek tangannya. "Iri banget deh di perebutin dua cowok ganteng. Yang satu agak bandel badboy gitu, satunya kayanya anak baik-baik dan konglomerat," celetuknya.
Olivia hanya tersenyum tipis mendengar itu, tapi kalau dipikir benar juga, seperti cerita novel saja. Karena Ia baik hati, Olivia pun memberikan dua temannya itu coklat, Septian memberikan tiga jadi Ia bagi-bagi saja karena tidak akan habis sendirian juga.
Tidak sengaja Olivia malah melihat Septian yang duduk tidak jauh dari mejanya, pria itu memperhatikannya dengan senyuman tipisnya. Olivia pun membelas senyumannya hanya bersikap sopan, sambil menganggukan kepala seolah berterima kasih.
Sebenarnya kalau dipikir Septian itu orang yang romantis, tapi sayangnya Olivia sudah punya pacar dan harus menjaga batasan dengan lelaki lain.
__ADS_1