
Mereka akan nonton di TV berukuran besar yang ada di kamarnya, genre horror sepertinya tidak akan membosankan. Setelah menyiapkan semua perlengkapan menonton, keduanya pun duduk di karpet bulu bersender ke sofa di belakang.
Olivia yang merasakan Dilon terus bergeser mendekatinya, membuatnya pun menatap malas lelaki itu, Dilon pun langsung tersenyum kikuk lalu beralasan,
"Dingin hehe," katanya modus.
"Kalau dingin matiin aja AC nya, tempat masih luas ya," ucapnya namun tidak melakukan tindakan, seperti membiarkan saja.
Saat film dimulai, keduanya pun mulai fokus menonton sambil memakan snack yang sudah disiapkan tadi. Kebetulan Olivia dan Dilon sama-sama suka genre ini, jadi tidak akan terlalu takut juga.
Keduanya tampak fokus nonton, walau sesekali Dilon melirik Olivia. Entah kenapa bagi lelaki itu wajah cantik Olivia terasa lebih menarik. Merasakan tangan keduanya bersentuhan saat membawa keripik, repleks bertatapan.
"Kenapa gak buka snack yang sendiri?" tanya Olivia menahan rasa gemas, dari tadi ada saja pikirnya tingkah Dilon ini.
Dilon menggeleng pelan lalu menjilati jari tangannya yang belepotan bumbu, "Berdua makannya lebih enak, suapin dong!" pintanya.
"Ck!" Olivia berdecak pelan, tapi tetap melakukan itu.
Melihat Dilon yang langsung tersenyum puas setelah Ia suapin keripik, membuatnya malah dibuat mengulum senyuman berusaha menahannya. Olivia kan memang gengsian menunjukkan perasaan, berbeda dengan Dilon yang tidak malu-malu.
Saat film sudah di pertengahan jalan, Olivia bisa merasakan Dilon menyenderkan kepala di bahunya. Ia pun melirik sekilas lelaki itu, tapi yang terlihat hanya rambutnya saja. Apakah tertidur?
"Olivia, kamu gak ngerasa perasaan aneh pas kita lagi berduaan begini?" tanya Dilon tiba-tiba.
Sebelah alis Olivia terangkat, merasa bingung tidak mengerti, "Ngerasa aneh gimana?"
"Perasaan gak nyaman atau gak tenang karena berduaan sama cowok lain, sedangkan status kamu kan sekarang tunangan orang lain," Jawab Dilon.
Olivia merasa tertohok mendengar itu, dibuat terdiam beberapa saat. Ia pun melihat Dilon yang kembali menegakkan duduknya, lalu menatapnya dalam.
__ADS_1
Perkataan Dilon tadi seperti sebuah pengingat baginya yang selama ini memang terkesan acuh pada Septian. Posisinya saat ini memang rumit sekali, Olivia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Dilon lalu membawa sebelah tangan Olivia, "Kalau kamu gak merasakan itu, berarti hati kamu memang gak ada untuk dia. Jujur, kamu malah nyaman kan sama aku?"
"Apaan sih? Sudah ah ayo kita nonton lagi!" ucap Olivia berusaha menghindar, tapi Dilon malah bergeser semakin mendekat membuat Olivia terpojok.
Mata keduanya kembali bertemu, namun kini dengan posisi yang cukup dekat. Film di depan sudah tidak di pedulikan lagi, karena merasa ini yang lebih penting.
"Aku cuman pengen dengar jawaban itu saja, setelah itu aku akan diam," ucap Dilon mendesak, karena jika jawabannya sesuai Ia pun bisa tenang.
Olivia memilih memalingkan wajahnya, setiap bertatapan dengan Dilon selalu membuat detak jantungnya menjadi cepat. Dengan perasaan gugup, Ia pun memutuskan menjawab jujur,
"Iya memang aku lebih nyaman sama kamu, aku bahkan gak mikirin perasaan Septian kalau tahu sejarang aku lagi berduaan sama kamu."
Perlahan bibir Dilon melengkungkan senyuman, merasa terharu dan bahagia karena jawaban itu seperti yang diinginkannya. Itu berarti Olivia memang tidak mencintai Septian, dan lebih memilih dirinya.
Sanking tidak bisa menahan bahagia, Dilon malah mengecup cepat bibir Olivia. Melihat ekspresi terkejut perempuan itu, membuat Dilon pun langsung tersadar dan terkejut sendiri dengan tingkah berani nya,
Olivia terlihat memicingkan matanya, "Dasar laki-laki tukang cari kesempatan, modus!" ledek nya.
Tadinya Dilon kira dirinya akan mendapat tamparan karena sudah bersikap kurang ajar, tapi melihat Olivia yang diam saja sambil terus memalingkan wajah, membuatnya merasa tidak akan mendapatkan itu.
Tunggu, jangan bilang Olivia tidak marah Ia kecup? Kalau begitu, tadi Ia tidak lepaskan saja.
Tetapi karena tidak mau membuat masalah, Dilon pun kembali duduk di tempatnya tadi dan kini menjaga jarak. Bibirnya terlihat berkedut dari tadi menahan senyuman, tidak bisa menahan rasa bahagia.
"Jadi lupa lagi alur nya gimana, ketinggalan scene lumayan banyak," gumam Olivia dengan helaan nafas berat.
Dilon sempat melirik perempuan itu, jadi tidak enak sendiri karena Ia yang sudah mengganggu, "Ekhem ya sudah tidak usah dilanjut nonton saja, gimana kalau kita ngobrol aja?"
__ADS_1
"Gak mau, lagian ngobrolon apa?" Tiba-tiba Olivia malah jadi terpikirkan sesuatu, sepertinya ide lelaki itu tidak buruk juga. Olivia kini tidak malu lagi menatap ke arah Dilon, dan mereka pun kembali bertatapan.
"Dilon kamu jangan bohong, pasti sekarang sudah punya pacar kan?" tanya Olivia penasaran. Pria itu sering menggombali perempuan, dan pasti mereka pun langsung dibuat jatuh cinta.
"Hm kenapa tanya itu?" Padahal Dilon inginnya Ia yang bertanya, masih banyak yang ingin Ia ketahui tentang Olivia dan Septian.
"Ck sudah jawab saja, kamu sekarang punya pacar kan?" tanya Olivia sensi, nada suaranya jadi naik satu oktaf merasa grmas malah ditanya balik.
Tadinya Dilon akan membantah tuduhan itu karena memang Ia tidak jadian dengan perempuan mana pun. Tetapi melihat wajah penasaran Olivia, entah kenapa jadi ingin sedikit menggodanya.
Sekalian Dilon juga ingin memastikan lagi, karena jika sesuai maka itu berarti Olivia memang benar masih mencintainya. Ya walau nanti pasti akan sedikit membuat tersinggung.
Dengan santainya Dilon pun menjawab, "Punya sih, ada beberapa malahan."
Bola mata Olivia terlihat terbelak sebentar, tidak lama tawa sinis pun terdengar, "Wah-wah ngatain aku aja gak setia, sendirinya juga gak setia!" ledek nya.
Malahan menurut Olivia pria itu sangat parah, karena arti dari beberapa kan itu sudah menyangkut beberapa orang. Itu berarti pacar Dilon bukan hanya satu, entah kenapa Olivia jadi kesal sendiri karena merasa seperti sedang di permainkan.
Dengan ketus Olivia pun berkata, "Sudah sana pulang, gak baik ya cowok orang tapi malah berduaan sama cewek lain!" usir nya.
"Hahaha kamu juga sama saja Olivia, malahan kamu sudah tunangan. Gak papa lah kita cocok, Sama-sama berhianat," katanya menohok.
Olivia pun tentu semakin sensi mendengar itu, tidak terima saja, padahal kenyataannya memang begitu. Ia pun berdiri dari duduknya, berkacak pinggang di depan Dilon.
"Gak usah ikut campur ya, mending kamu urusin aja tuh pacar-pacar kamu yang pasti butuh belaian dan kasih sayang kamu. Ckck dasar playboy, dapat karma baru tahu rasa!" cecarnya.
Tetapi Dilon malah tertawa, membuat Olivia mengernyitkan kening bingung. Jangan bilang menertawakannya? Membuatnya tersinggung saja. Dilon lalu ikut berdiri dan menghadap Olivia.
"Enggak kok, aku bohong. Aku gak punya pacar, tapi sekarang lagi usaha dapetin, gak tahu sih apa bakal berhasil luluhin atau enggak," katanya dengan tatapan dalam pada Olivia, membuat perempuan itu jadi berdebar.
__ADS_1
Jangan bilang yang sedang diperjuangkan Dilon itu Olivia?