
"Coba jelaskan dari awal bagaimana kejadian nya," tanya Bu Rita.
Vanessa pun yang lebih cepat membuka suara, "Dia Bu, dia nuduh saya terus jambak rambut saya duluan," tunjuk nya memprovokasi.
Olivia yang mendengar itu tentu saja merasa tidak terima, Ia pun memukul tangan Vanessa yang berani-beraninya menunjuknya. Benar-benar ular sekali Vanessa itu, malah menyalahkannya.
"Heh aku bukan nuduh lah, emang bener kamu yang buat aku jatuh," ucap Olivia meluruskan. Ia lalu menujukkan sikunya yang memar pada Bu Rita.
"Vanessa apa benar kamu yang jailin Olivia? Sampai buat dia jatuh begitu," tanya Bu Rita.
"Em saya--"
"Sudahlah ngaku aja, emang sudah jelas juga itu ulah kamu. Dia tuh katanya emang gak suka sama saya Bu, iri dia soalnya cintanya bertepuk sebelah tangan sama Dilon," kata Olivia setengah meledek Vanessa.
"Enak aja bertepuk sebelah tangan, aku yakin Dilon juga ada rasa suka sama aku!" balas Vanessa tidak mau kalah.
"Oh ya? Terus kalau emang bener dia suka sama kamu, kenapa jadiannya malah sama aku? Aku tebak, kalian dari dulu sampai kapanpun bakalan cuman tetep berteman aja!" Rasanya Olivia puas sekali sudah meledeki Vanessa.
Brak!
"Haduh sudah dong, kalian itu emangnya gak cukup apa tadi ribut di kelas? Malah dilanjutin lagi di sini," tegur Bu Rita pusing sendiri. Memang dasar anak zaman sekarang, ributnya karena cinta.
Olivia dan Vanessa pun langsung terdiam dengan kepala menunduk merasa sedikit takut mendengar teguran keras dari wali kelasnya itu. Sebenarnya sih merasa belum puas melampiaskan isi hati, tapi pasti akan semakin dimarahi.
"Kalian itu perempuan, termasuk murid baru juga di sini. Tapi kenapa bisa-bisanya berkelahi? Apalagi ini di sekolah loh," kata Bu Rita menahan marah.
"Maaf Bu," ucap Olivia dan Vanessa bersamaan.
"Apalagi kalian ini anak didik Ibu, kabar ini pasti akan menyebar cepat ke yang lain. Sudah kelas akhir, tapi malah buat keributan. Kalau misal ada masalah pribadi, kan bisa dibicarakan nanti di luar."
__ADS_1
"Padahal kejadian awalnya sebenarnya hanya masalah kecil, tapi karena kalian terlalu emosional jadi ribut dan bertengkar. Lihat rambut kalian acak-acakan, wajah kalian juga ada lecet dan luka. Terus sekarang bagaimana?" Nafas Bu Rita sampai naik turun setelah berkata panjang begitu.
Kedua mata Olivia tanpa bisa ditahan berkaca-kaca, merasa menyesal karena sudah terbawa kesal sampai melakukan tindakan memalukan seperti ini di sekolah. Tidak terbayang kalau orang tuanya tahu.
Selama ini Olivia adalah anak yang berprestasi, selalu membanggakan kedua orang tuanya. Olivia juga tidak tahu jadi se emosional ini pada Vanessa, mungkin karena perempuan itu selalu gatal pada pacarnya.
"Bu Rita, saya benar-benar minta maaf. Saya janji tidak akan melakukan yang kedua kalinya, saya juga siap melakukan hukuman apapun. Tapi bisakah Ibu jangan beritahu orang tua saya?" pinta Olivia memohon sambil mengatupkan tangan.
"Kamu memang akan dapat hukuman, tapi Ibu tetap akan beritahu orang tua kamu!" tegas Bu Rita.
"Bu saya mohon jangan, mereka pasti kecewa kalau dengar ini. Saya benar-benar minta maaf."
Sebenarnya Bu Rita tidak tega melihat Olivia yang seperti mau menangis begitu, sekarang anak itu pasti ketakutan. Tetapi Ia tentu harus tetap mengabari kejadian ini pada wali mereka.
"Cih dasar lebay!" ledek Vanessa sambil mencebikkan bibir, merasa lucu saja melihat akting Olivia.
Olivia sempat melirik tajam perempuan itu, tapi Ia mencoba tenang dan tidak mau terbawa emosi lagi. Kurang ajar sekali Ia dikatai lebay, toh Olivia memang tidak mau orang tuanya tau Ia berantem di sekolah.
"Ibu akan bicarakan dulu dengan kepala sekolah, karena semua tentu ada di tangan beliau dan BK kelas tiga. Tapi Ibu akan usahakan kalian tidak sampai di skorsing karena pasti akan tertinggal pelajaran," kata Bu Rita.
Ternyata wali kelas mereka sangat baik, bahkan tadi pun tidak memarahi dengan keras, hanya tegas. Apalagi keduanya adalah anak didiknya, tentu saja Ia harus membantu.
"Makasih banyak Bu, semoga kami tidak sampai di skorsing. Sekali lagi minta maaf karena sudah buat masalah," ucap Olivia pelan.
"Ibu harap ini tidak terjadi lagi ya. Kalian bisa selesaikan dulu masalah pribadi, tapi setelah itu berbaikan. Tidak enak punya musuh satu kelas, kalian kan keluarga," ujar Bu Rita.
Cukup lama mereka berada di ruangan guru itu, banyak yang Bu Rita berikan nasihat pada keduanya. Tetapi Bu Rita tahu jika Olivia dan Vanessa adalah anak baik-baik dan tidak bermasalah di luar, jadi Ia pun akan membelanya nanti.
"Dor!"
__ADS_1
Olivia sedikit terperanjat melihat Dilon yang tiba-tiba muncul dari salah satu koridor. Pria itu terlihat tersenyum lebar sampai menunjukkan deretan giginya. Olivia pun hanya membalas senyuman tipis saja, tapi kembali murung.
"Bu Rita marahin lo ya?" tanya Dilon.
"Bukan marahin, tapi dia cuman negur baik-baik dan bilang ke kita untuk gak begini lagi," jawab Olivia menjelaskan yang sebenarnya.
"Terus apa katanya lagi? Apa dia bakal skorsing kalian?"
"Enggak tahu, tapi Bu Rita bilang bakal bicarain nanti sama Kepala sekolah sama BK kelas tiga. Dia bilang bakal usaha supaya kita gak sampai di skorsing."
Dilon terlihat beberapa kali celingukan memperhatikan sekitar, untungnya di sana sepi karena sedang jam pelajaran. Tiba-tiba Dilon membawa Olivia ke pelukannya, dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Sabar ya, gue yakin Bu Rita bakal lakuin yang terbaik. Jangan terlalu dipikirin, gue juga gak mau lihat lo sedih terus," ucap Dilon berusaha menenangkan.
"Bu Rita bilang bakalan ngasih tahu Mama sama Papa, aku takut Dilon," lirih Olivia mengadu.
Dilon menggigit pipi dalamnya jadi ikut kepikiran, "Tenang ya, gue bakal usahain bantu jelasin nanti."
"Maksudnya?" tanya Olivia sambil meregangkan pelukan.
Tetapi bukannya menjawab, Dilon malah mencolek hidung Olivia membuat perempuan itu merengek. Dilon juga sempat mengejek luka cakaran di pipinya, Pura-pura bilang jika wajahnya jadi jelek.
"Tapi gue salut sama lo, gak nyangka gue punya cewek bar-bar kaya lo. Kayanya bukan gue aja yang kaget pas lihat lo berantem tadi sama Vanessa, tapi semua orang. Lo kan kalem banget selama ini," kata Dilon sambil tertawa kecil.
Olivia memukul tangan pria itu pelan, "Ck habisnya aku kesel banget sama Vanessa, wajah aku sakit banget pas jatuh ke lantai. Jahilnya itu keterlaluan!" gerutunya.
"Sorry ya sayang, nanti gue bakal bicara sama dia," ujar Dilon sambil mengusap kepalanya pelan.
"Kamu bakal marahin dia kan?" tanya Olivia penuh harap, merasa Dilon itu memang harus membelanya dan memarahi Vanessa.
__ADS_1
Tetapi lagi-lagi Dilon hanya tersenyum lalu menarik tangannya pergi dari sana. Bukannya ke kelas, Dilon malah mengajaknya ke UKS. Katanya mau mengobati luka Olivia.