
Walaupun hari minggu, tapi Olivia tetap ikut sarapan dengan keluarganya. Ia sadar mereka dari tadi terus memperhatikan nya, ingin bertanya tapi merasa segan melihat kondisinya saat ini yang terlihat berantakan. Lebih tepatnya wajahnya yang sembab karena semalaman menangis.
Kevin lalu berdehem pelan. "Ekhem Olivia, kamu harus makan yang banyak. Jangan sakit, sebentar lagi kan ujian kelulusan."
"Hm." Olivia hanya berdehem pelan dengan malas.
"Tadi pagi Papa dapat telepon dari seseorang, dia bilang asistennya Septian. Ngabarin kondisinya yang lumayan membaik, tapi belum bisa keluar dan harus tetap dirawat. Kamu mau jenguk dia?" tanya Kevin hati-hati.
Olivia terdiam beberapa saat, tapi Ia segera menggeleng dan tidak mau mengulangi kesalahannya lagi yang hanya akan membuat masalahnya dengan Dilon semakin rumit. Sepertinya Olivia terlalu iba, sampai tidak bisa menjaga batasannya dengan lelaki lain.
Memang Olivia pun tidak sampai selingkuh dan ada main dengan lelaki lain, tapi sekarang Ia sadar jika itu saja tidak menghargai Dilon sebagai pasangannya. Dulu saja Olivia pernah menjenguk Septian dan tidak lama Dilon tahu hingga mereka ribut, jika ini terulang lagi sudah pasti mereka semakin rumit.
"Enggak Pah, aku gak mau," tolak Olivia. Memang ada rasa iba pada Septian, apalagi yang melakukannya adalah pacarnya sendiri. "Kalau misal Papa mau ke sana, aku mau titip permintaan maaf saja pada Septian."
Kevin terlihat menghela nafasnya berat. "Ya sudah tidak apa-apa kalau begitu, nanti mungkin Papa akan jenguk dia ke rumah sakit."
Kedua orang tuanya mengerti, mungkin Olivia hanya tidak mau memperkeruh suasana. Percintaan remaja memang sangat rumit. Terkadang membuat iri karena sangat romantis, tapi jika sudah ada masalah sama-sama meninggikan ego. Itulah kenapa jika menikah harus dipikirkan dahulu.
Selesai sarapan Olivia memutuskan bersantai sejenak di halaman belakang rumahnya. Yang dilihat orang Olivia sedang melihat kolam ikan, nyatanya perempuan itu malah sedang melamun dan kembali memikirkan masalahnya.
Merasakan tepukan di bahunya, membuat lamunan Olivia pun terhenti dan langsung melihat pada Papa nya, "Jangan melamun, nanti kesambet setan," gurau Papanya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Apaan sih Pah? Mana mungkin!" dengus Olivia yang menurutnya konyol. Padahalkan melamun sangat enak.
Melihat putrinya itu yang sedang sedih begini, membuat Kevin sebagai orang tua merasa kasihan sendiri. Sepertinya Olivia memang jangan dibiarkan sendirian, karena pasti akan melamun dan terus memikirkan masalahnya. Dari kemarin bahkan anaknya itu mengurung diri di kamar terus.
"Jadi yang kemarin pukulin Septian sampai babak belur itu Dilon? Papa sampai kaget sendiri dia bisa masukin anak orang ke rumah sakit," ucap Kevin agak menohok.
Olivia sampai tidak bisa berkata-kata disindir begitu, Ia sebagai kekasih Dilon tentu jadi ikut terbawa-bawa. Masalahnya kenapa sih kemarin itu ributnya harus di depan rumah sih, Papanya juga kebetulan sekali saat pulang kerja dan jadi tahu.
"Katanya dia juga sering ikut balap liar ya? Wah Dilon ini benar-benar ya. Papa kira dia anak baik-baik, ternyata bandel juga ya," celetuk Kevin belum puas.
Olivia yang merasa tidak senang akhirnya membuka suara. "Dilon bukan bandel, lagian balap juga itu kan hobinya, tapi sekarang sudah jarang kok," belanya.
"Ya sama saja, kemarin aja dia mukulnya kuat begitu. Papa jadi duga kayanya Dilon itu sering berantem, dia kelihatan ahli banget kemarin," sahut Kevin.
Kevin lalu menghadapkan tubuhnya pada putrinya itu, tatapannya terlihat dalam. "Papa tanya serius sama kamu, apa pernah Dilon kasar sama kamu? Nampar atau mukul?"
"Enggak kok!" Jawabnya langsung.
Sudah Olivia duga jika Papanya akan menduga begitu, hanya karena melihat Dilon bersikap kasar begitu pada orang lain. Nyatanya Dilon sangat penyayang, bahkan selalu memenuhi semua keinginannya. Saat awal-awal dulu Dilon memang agak serem, tapi setelah pacaran sangat baik.
Olivia tiba-tiba menjadi khawatir, takut pandangan kedua orang tuanya pada Dilon menjadi buruk. Memang hubungannya sekarang dengan pria itu sedang tidak baik-baik saja, tapi Olivia masih menyayangi Dilon dan tidak tega rasanya melihat kekasihnya itu di jelek-jelekkan, sekalipun oleh orang tuanya.
__ADS_1
"Papa gak suka kalau kamu punya pacar yang kasar dan bebas begitu. Walaupun Dilon ganteng, tapi sifat seseorang pas pacaran itu kan belum terpampang semua. Bisa saja dia sekarang nahan diri, tapi kan gak tahu ke depannya," kata Kevin.
Olivia lagi-lagi menghela nafas berat, "Sudah ah Papa ini terlalu berlebihan, kok jadi ngomongin Dilon nya begitu sih? Dia kan sudah deket sama kita, begitu pun aku sama orang tuanya."
"Iya tapi Papa cuman gak mau kamu punya pasangan yang salah. Kalau misal pandangan Papa yang salah ya tidak apa, tapi kan cuman jaga-jaga saja." Setelah mengatakan itu, Kevin pun melenggang pergi dari sana.
Olivia berdecak pelan merasa tidak suka Papanya menyindir begitu, Ia kan jadi ikut tersinggung. Tetapi salah Dilon juga sih karena kemarin tidak bisa menahan diri dan malah memukuli Septian, sampai ketahuan juga oleh orang tuanya. Padahal selama ini Olivia selalu menyembunyikan.
Merasakan getaran di saku celananya, membuat Olivia pun langsung membawa ponselnya itu untuk melihat. Kernyitan terlihat di keningnya melihat itu adalah panggilan dari Septian, kenapa menghubunginya? Tetapi Olivia memutuskan mengabaikan, Ia malas berurusan lagi dengan pria itu.
Sayangnya Septian tidak menyerah, pria itu kembali menghubunginya membuat nya lama-lama kesal juga. Dengan malas Olivia pun mengangkat panggilan itu. "Ada apa?" tanyanya.
["Hai Olivia, apa kamu lagi sibuk? Maaf ya kalau ganggu."]
"Langsung saja, mau apa?" Suara Olivia terdengar agak ketus, Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak sukanya sekarang pada pria yang satu itu.
["Kok ketus gitu sih Olivia, aku lagi sakit loh. Kamu gak akan jenguk aku di rumah sakit? Aku bosen banget, pengen ada yang nemenin."]
Olivia mencebikkan bibirnya mendengar itu, tunggu tidak salah Septian meminta itu padanya? Suaranya pun terdengar agak manja, Olivia yang mendengarnya jadi geli sendiri. Tidak biasanya Septian seperti ini, menggelikan sekali pikirnya.
"Maaf Septian aku gak bisa, dan kayanya kita gak akan pernah bisa jadi temen lagi. Sebelumnya aku minta maaf karena Dilon kemarin pukulin kamu, tapi aku pikir kamu juga salah karena gak jera juga. Aku sudah tegas waktu itu nolak kamu, tapi kamu tetep aja kekeuh." Nafas Olivia sampai naik turun setelah mengungkapkan itu, emosinya sekarang campur aduk sekali.
__ADS_1
Mendengar tawa kecil di sebrang sana, membuat Olivia bingung. Apakah ada yang lucu? Atau Septian menganggap jika dirinya orang yang terlalu percaya diri. Olivia berdehem pelan jadi merasa canggung sendiri.
["Maaf Olivia tapi kayanya aku gak bisa, dan kayanya sebentar lagi kamu malah akan jadi milik aku."] Setelah mengatakan itu, Septian pun mematikan panggilannya, membuat Olivia diginggapi perasaan bingung.