Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Perasaan Yang Bimbang


__ADS_3

Saat turun dari tangga lantai dua, tidak sengaja Olivia dan Dilon berpapasan dengan Aiden yang ternyata sudah pulang kerja lagi. Kebetulan sekali pikir Olivia, karena Ia ingin bertemu pria paruh baya itu.


"Loh Olivia?!" reaksi Aiden hampir sama seperti Erika tadi, tidak menyangka melihat kehadiran gadis itu di rumah ini lagi.


Olivia tersenyum lebar berusaha seramah mungkin, lalu menyalami tangan pria paruh baya itu. "Hallo Om, sudah lama ya gak ketemu."


"Iya lumayan lama, kamu kemana saja selama ini?" tanya Aiden basa-basi.


Dilon memperhatikan dua orang itu yang memgobrol dengan asik, sampai dirinya pun diacuhkan seperti saat di atas tadi. Tetapi tidak apa, malahan Dilon merasa senang sendiri melihat kedua orang tuanya masih menyambut Olivia.


"Oh iya Om hampir lupa, maaf telat banget buat bilang ini, tapi selamat ulang tahun," ucap Olivia.


Aiden terlihat menaikkan alisnya speechless sendiri mendapatkan ucapan itu, "Haha iya terima kasih, tapi kok kamu bisa tahu?"


"Tahu dong, kan aku juga yang bantu Dilon nyariin kado nya. Dasi yang Dilon kasih ke Om itu adalah pilihan dari aku," kata Olivia berbangga diri.


"Ya ampun benarkah? Pantas saja, dasinya bagus dan Om suka. Om sempat ragu Dilon kok bisa pilih dasi bagus begitu, ternyata kamu yang nyarinya," ujar Aiden dengan senyumannya.


Sayangnya Erika sedang tidur, wanita hamil itu memang jadi suka tidur setiap waktu karena bawaan bayi, jadinya Olivia pun pulang begitu saja tidak berpamitan lagi. Sebelum pulang, tidak lupa Olivia pamitan lagi dengan Aiden.


Dilon yang akan mengantarnya pulang, tanpa Olivia kode seperti biasa, peka sendiri. Tetapi di tengah jalan tidak lupa membeli salep titipan Mamanya di apotek, dan untungnya ada.


"Ekhem kita langsung pulang sekarang?" tanya Dilon sambil menyalakan musik di mobilnya, mencari lagu yang enak.


"Iyalah memang mau kemana lagi? Sudah magrib juga, aku gak boleh keluyuran malam," jawab Olivia yang bisa menebak isi kepala Dilon.

__ADS_1


"Dasar anak kecil!" ledek Dilon.


Mendengar perempuan di sebelahnya ikut bernyanyi, membuat Dilon melirik nya beberapa kali sambil tersenyum. Olivia sudah tidak malu-malu di depannya, membuatnya senang karena itu berarti merasa nyaman.


Tetapi nyanyian Olivia terhenti merasakan getaran ponselnya di dalam tas. Melihat itu adalah Septian, membuat Olivia malah kembali memasukan benda pipihnya itu ke dalam dan membiarkan.


"Siapa? Dari tunangan lo ya, angkat aja kali," kata Dilon dengan suara agak sinisnya dan tidak ikhlas sendiri telah mengatakan itu.


"Gak papa kok," ucap Olivia yang memilih menghindar. Rasanya akan tidak nyaman ber teleponan dengan Septian saat bersama Dilon. Padahalkan mereka baru baikkan.


"Terus gimana sekarang, lo masih mau lanjutin hubungan sama dia?" tanya Dilon serius, kedua tangannya yang memegang setir terlihat mengerat.


Olivia yang ditanyai begitu menjadi gundah, tidak tahu harus bagaimana karena posisinya sekarang sangat rumit. Sebenarnya Olivia ingin lepas dari Septian karena tidak mencintainya, tapi hubungannya dengan pria itu juga serius.


Olivia tidak mau dianggap mempermainkan sebuah ikatan hubungan, karena pasti akan ada banyak hal yang terjadi jika melakukan itu. Lamunannya terhenti merasakan tangan kanannya digenggam, kepalanya pun terangkat menatap Dilon.


"Terus gimana kalau misal aku gak bisa lepas dari dia?" tanya Olivia yang sudah overthinking sendiri.


Dilon menggeleng, "Jangan bicara gitu, gue bakal bantu lo lepas dari dia. Ini namanya pemaksaan, lo gak bahagia ada di bawah tekanan dia. Harusnya kedua orang tua lo bisa ngerti juga, gak memaksakan keadaan ini."


Hati Olivia merasa terharu ada yang mengerti dirinya seperti itu, dan menurutnya yang Dilon bilang pun benar, seharusnya kedua orang tuanya bisa mengerti dirinya yang tidak menginginkan keadaan ini.


Olivia bergeser mendekati Dilon, lalu menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. Kedua matanya terlihat terpejam ingin menikmati moment hangat seperti ini. Berbeda sekali rasanya saat berdua dengan Dilon, Olivia selalu nyaman.


Perjalanan pun terasa cepat dan mobil pun berhenti di depan gerbang rumah Olivia. Keduanya saling bertatapan, merasa enggan berpisah dan masih saling merindukan. Lucu sebenarnya, mereka seperti pasangan baru jadian saja.

__ADS_1


"Kamu mau ikut masuk ke dalam? Kai pasti senang ketemu kamu lagi, dia sering nanyain kamu ke aku," tawar Olivia.


Dilon tersenyum tipis lalu menyampirkan helaian rambut perempuan itu ke belakang telinganya, "Pengen sih, tapi takutnya dianggap lancang. Nanti ya, kalau semuanya sudah baik-baik aja."


Maksud pria itu sangat dalam, karena semua ada di tangan kedua orang tua Olivia. Mungkin Dilon masih canggung dan malu pada kedua orang tuanya, kalau mendekati lagi takut dianggap tidak sopan juga dan pandangan kepadanya menjadi buruk lagi.


Olivia pun mengangguk pasrah saja, Ia juga akan berusaha meyakinkan kedua orang tuanya sekarang dengan perasaannya ini. Sebelum turun, Dilon sempat mencubit hidungnya gemas sebagai tanda perpisahan. Setelahnya Olivia pun turun dan masuk ke gerbang rumahnya.


Sesampainya di dalam rumah, Olivia langsung naik menuju kamar adik laki-laki nya yang di lantai dua juga. Ternyata ada Mamanya, sedang menyuapi Kai yang malah main game. Olivia lalu duduk di sebelah Keisha dan memberikan pesanannya itu.


"Nih salep nya, buat apa?" tanya Olivia.


"Ada luka barut di tangannya, mungkin karena kecelakaan itu, jadi kalau pakai ini bakal cepet sembuh," Jawab Keisha.


Olivia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Matanya memperhatikan dalam Keisha yang kembali menyuapi Kai makan, bahkan anak kecil itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dan terus fokus bermain game.


Sebenarnya Olivia ingin mengungkapkan sesuatu, tapi merasa ragu dan gugup. Ia hanya merasa khawatir dengan tanggapan Keisha yang berbeda dan tidak sesuai harapannya. Tetapi jika dipendam terus akan kepikiran.


"Mah aku mau bicara sesuatu," ucap Olivia memberanikan diri.


"Ada apa? Mending nanti saja, sekarang kamu mandi terus makan pasti laper," Kata Keisha yang terlihat fokus sekali dengan pekerjaannya.


Hembusan nafas lirih keluar lewat celah bibir Olivia, merasa ini memang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu. Akhirnya Ia pun memendam lagi dan akan membahas nanti saja saat berduaan.


Olivia beranjak lalu keluar dari kamar Kai menuju kamarnya sendiri. Ia tidak langsung mandi, malah membuka ponselnya sebentar untuk mengecek sesuatu. Kedua matanya sempat terbelak melihat ada dua panggilan tidak terjawab dari Septian.

__ADS_1


"Huft aku males banget bicara sama dia, pasti obrolannya gak akan jauh-jauh dari itu lagi," gumamnya seorang diri. Ya Septian paling hanya merindukannya dan ingin mendengar suara dan wajahnya. Menurutnya sangat kekanakkan sekali.


__ADS_2