
Sesampainya di bandara Internasional, Daniella tidak kebingungan karena ada seseorang yang menjemput nya. Namanya Celine, salah satu teman kuliah Kakak nya-Dilon, lelaki itu menitipkannya pada Celine selama di sini.
"Daniella, aku di sini!" teriak seorang wanita cantik sambil melambaikan tangan, bahkan sampai membuat papan tulisan dengan namanya yang tertulis besar.
Setelah dekat Daniella tidak bisa menahan tawanya karena ternyata di papan itu bukan hanya namanya saja, melainkan ada foto nya juga. Celine yang melihat nya tertawa ikut tertawa, sepertinya memiliki selera humor yang sama.
"Aku takut kehilangan kamu, jadi buat bender besar ini saja. Sempat minta foto nya juga dari Dilon," kata Celine sambil merentangkan bender itu di depan dada nya.
"Hahaha lucu banget, makasih ya Kak Celine, terharu loh di sambut begini." Daniella sampai mengusap sudut matanya yang berair, Ia terlalu tertawa keras.
"Gimana perjalanan kamu, lancarkan?" tanya Celine mengalihkan obrolan, Ia juga sudah melipat bender nya agar tidak merepotkan.
"Lancar kok, tidak ada masalah sedikit pun," jawab Daniella riang.
"Ya sudah yuk sekarang Kakak anter ke apartemen kamu," ajak Celine sambil merangkul bahu nya.
Wanita itu bahkan berbaik hati menarikkan satu koper nya lagi, membuat Daniella jadi tidak terlalu kesusahan. Melihat mobil Porsche warna cream di depannya, membuat Daniella menaikkan alis.
Ya sudah pasti lah kenalan Kakaknya orang berada semua, yang Daniella dengar juga Celine ini bekerja di per-film an.
"Ayo masuk Daniella, kamu bisa tidur aja di perjalanan, soalnya dari bandara ke apartemen lumayan lama," kata Celine membukakan pintu mobil nya.
Sebelum masuk Daniella sempat mengucapkan terima kasih, Celine hanya tersenyum. Setelah melihatnya duduk dengan nyaman, wanita itu pun menutup pintu mobil nya lagi dan berputar untuk masuk.
Tetapi Daniella tidak merasakan kantuk, mungkin sudah puas juga tidur di pesawat. Ia malah asik memperhatikan jalanan, ternyata di Singapura terlihat benar-benar lebih modern di banding di Indonesia. Sepertinya Ia juga tidak akan kesulitan tinggal di sini.
__ADS_1
"Kamu hebat ya, berani banget kuliah jauh dari keluarga kamu," kata Celine kembali membuka suara.
Daniella pun menoleh menatap wanita itu yang sedang menyetir. "Iya, tapi awalnya pas aku izin sempat ditentang keluarga. Mereka semua khawatir sama aku, tapi akhirnya aku bisa yakinin mereka juga," sahut nya.
"Tenang saja, jangan takut ya. Di sini selalu aman, kalau ada kejahatan pun akan dengan cepat ditangani. Kakak sudah pindah kewarganegaraan beberapa tahun lalu dan menetap di sini."
Celine juga menjelaskan alasannya itu ya karena merasa di Singapura lebih cocok. Ternyata Celine sudah menikah, bahkan anaknya sudah masuk sekolah dasar. Suaminya juga berasal dari Singapura.
"Terus keluarga Kakak masih di Indonesia atau ikut pindah kewarganegaraan juga?" tanya Daniella menanggapi.
"Cuman Kakak sih yang pindah kewarganegaraan, mungkin karena ikut suami juga. Soalnya dulu awalnya ya Kakak juga mirip kaya kamu, kuliah di sini," jawab Celine sambil tersenyum tipis.
Daniella lalu jadi membayangkan ke depannya, apa mungkin dirinya pun akan mendapatkan jodoh di sini? Lalu kemungkinan pindah kewarganegaraan juga. Kepalanya lalu menggeleng, pemikirannya terlalu jauh.
Setelah menempuh jarak sekitar setengah jam an, akhirnya mereka sampai juga di kawasan apartemen mewah yang akan ditempati Daniella. Tentu yang mengurus semuanya juga Celine, atas perintah Dilon. Sudah pasti dibayar, apalagi kedua orang itu berteman.
"Mau Kakak bantu juga beresin barang-barang kamu?" tawar Celine melirik nya yang duduk bersandar di sofa.
Daniella pun kembali duduk dengan tegak, Ia lalu menggeleng. "Enggak usah Kak, biar aku sendiri aja. Makasih banget ya sudah jemput aku di bandara, terus anterin juga ke sini," ucap nya dari dalam hati.
"Sama-sama Daniella, ini kan amanat dari Kakak kamu, Kakak di kasih kepercayaan keluarga kamu untuk jaga kamu di sini. Jangan sungkan minta tolong ya, pokoknya kalau ada apapun kabari Kakak saja. Kebetulan tempat tinggal Kakak juga gak jauh dari sini, pakai mobil cuman sepuluh menit an," sahut Celine membalas senyumannya.
Celine lalu berjanji nanti akan memperkenalkan Daniella dengan anak perempuannya yang masih berusia tujuh tahun. Hubungan mereka pasti akan semakin dekat, keduanya pun sama-sama memiliki sifat yang mudah akrab.
Melihat waktu yang sudah menunjukan pukul sembilan malam, Celine harus pamit pulang karena tidak tega meninggalkan putrinya terlalu lama. Daniella pun mengantar nya sampai ke depan pintu, tidak lupa sempat mengucapkan terima kasih lagi.
__ADS_1
Saat Daniella masuk ke kamar nya, Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan helaan nafas berat. Menatap langit kamar nya dengan pikiran yang entah kemana. Di sini sangat dingin, apalagi hanya Ia tinggal sendirian.
Drttt!
Merasakan getaran ponselnya di saku celana, Ia pun segera mengangkatnya tanpa melihat dulu siapa penelepon itu. "Hallo."
["Kamu sudah sampai Daniella?"]
Kedua mata Daniella sempat terbelak sebentar tidak menduga jika ternyata yang menelepon nya lebih dulu adalah Kai. Dari suaranya saja sudah bisa Ia kenali, jadi tidak perlu melihat dulu.
"Sudah, ini baru saja sampai di apartemen," jawab Daniella. "Kok Om bisa pas banget telepon aku setelah sampai di apartemen?"
Apa hanya kebetulan saja? Tetapi setelah mendengar jawaban Kai, ternyata tidak. Ia malah dibuat terenyuh.
["Om memang hitung keberangkatan kamu dari saat pesawat terbang, dan ternyata tepat. Lalu jarak dari bandara ke tempat tinggal kamu kan lumayan jauh, ternyata hitungan Om pas ya,"] jawab Kai.
"Kenapa sampai dihitung? Lebay banget," tanya Daniella sambil meledeknnya. Lelaki itu membuatnya baper saja, tapi Ia harus bisa menahan perasaan ini.
Terdengar suara tawa kecil di sebrang sana, membuat Daniella pun tersenyum tipis dan menyamankan posisi berbaringnya. Ia sempat menguap lebar. Padahal di pesawat tidur terus, tapi tetap saja mengantuk.
Badannya juga agak lelah, penerbangan dari Jakarta ke sini memang memakan waktu panjang.
["Di sana sudah malam kan? Tidurlah, jangan bergadang. Kamu juga pasti capek banget. Beres-beres nya nanti saja bisa besok."]
"Kenapa Om ini banyak tahu sih apa yang aku lakuin? Ternyata diam-diam masih perhatian ya. Inget ya Om jangan berlebihan dan buat aku baper, nanti Om yang repot sendiri," ucap Daniella agak bergurau, walau sebenarnya itu dari dalam hati.
__ADS_1
["Om hanya khawatir sama kamu, kamu kan tinggal sendiri di sana. Ya sudah kalau kamu mau istirahat, sudah dulu ya. Selamat malam Daniella."]
Setelah panggilan berakhir, Daniella menatap layar ponselnya sambil tersenyum-senyum. Ah kalau seperti ini, bagaimana bisa Ia move on coba?