
Sepulang sekolah, Olivia langsung dihadang Dilon di ambang pintu. Pria itu kini bertekad kuat untuk bisa meluluhkan hati kekasihnya ini, tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi karena Ia pun sudah memberikan waktu pada perempuan itu untuk setidaknya menenangkan diri.
"Pulang bareng aku!" tegas Dilon dengan ekspresi datarnya.
"Aku gak mau, aku mau pulang naik taxi aja," tolak Olivia tidak kalah dingin.
Tetapi saat Olivia akan melewati Dilon, pria itu malah menahan tangannya tidak membiarkan pergi. "Olivia, sampai kapan kamu cuekin aku begini? Aku gak bisa. Ayo dong, berhenti hukum aku!" rengeknya pelan.
Dilon terpaksa harus bersikap manja begini pada Olivia, berharap hatinya luluh dan iba kepadanya. Ia tahu ada beberapa temannya yang memperhatikan, mereka pasti terkejut dan geli sendiri melihat tingkah sok imutnya ini.
Melihat perempuan itu tidak jadi pergi dan mendekati nya, membuat Dilon langsung tersenyum lebar. Menunggu beberapa saat sampai Olivia membuka suara, berdebar sekali, entah perempuan itu akan memaafkannya atau lagi-lagi minta diberikan waktu.
"Dilon, aku tuh diemin kamu karena kesel sama kamu, aku gak suka dibohongin," ucap Olivia. Kini nada suaranya sudah lebih rendah, tidak ketus seperti tadi.
"Sayang maafin aku, aku ngaku salah karena gak bilang sama kamu. Oke kalau kamu mau aku gak balapan lagi, aku akan lakuin itu," kata Dilon tegas. Walau hatinya terpaksa, tapi yang penting Ia mendapat maaf Olivia dulu.
Olivia lalu mengangkat tangannya yang lain untuk mengusap pipi pacarnya itu, sentuhannya itu membuat Dilon memejamkan mata merasa nyaman. "Memangnya kamu serius mau berhenti balapan demi aku?" tanyanya memastikan.
"Hm karena aku tahu, kamu cuman mau yang terbaik dan takut aku kenapa-napa. Walaupun agak berat, tapi yang penting kamu gak marah lagi sama aku," jawab Dilon.
Senyuman tipis lalu terukir di bibir Olivia, merasa terharu mendengar itu. Sebenarnya Ia tidak mau bersikap egois dengan meminta Dilon menjauhi hobi nya itu, setiap orang juga kan pasti menyukai kebiasaannya akan sesuatu. Tetapi Olivia pikir hobi Dilon itu terlalu berbahaya, Olivia hanya mencegah sebelum kejadian buruk terjadi.
__ADS_1
"Oke aku maafin kamu, aku juga pegang ya janji kamu," ucap Olivia setelah memikirkan beberapa saat.
Kedua mata Dilon langsung berbinar mendengar itu, Ia lalu memeluk Olivia lalu mengangkat tubuh ringannya itu dan mereka pun berputar bersama. Olivia yang terkejut langsung terpekik dengan diriingi tawanya yang khas.
Dilon pun kembali menurunkan Olivia, lalu merangkum wajahnya, "Makasih ya sayang, aku cinta banget sama kamu."
"Shhtt sudah ah, malu dilihat yang lain!" tegur Olivia salah tingkah sendiri. Walaupun di sekolah jam segini hanya kelas akhir saja karena mereka ada les, tapi tetap saja malu di perhatikan beberapa orang.
Keduanya lalu bergandengan tangan dan pergi dari sana dengan senyuman lebar di bibir masing-masing. Walaupun marahan hanya dua hari saja, tapi percayalah itu sangat menyiksa bagi keduanya karena mereka harus mendiami satu sama lain dan tidak saling mengabari.
Tanpa kedua orang itu sadari, ada Septian dari tadi yang memperhatikan dari jauh. Kedua tangannya terlihat terkepal, merasa marah dan kesal karena sepertinya Dilon sudah berbaik kan dengan Olivia. Padahal Septian kira hubungan mereka akan semakin memburuk.
Septian berdecak pelan. "Sialan, gak bisa begini. Aku gak akan biarin Olivia sama dia terus, dia harus jadi milik aku!" desisnya.
Sepulang dari sekolah, Dilon akan mengajak Olivia makan malam di bar Kafe miliknya, sudah lumayan lama juga mereka tidak makan di sana lagi. Para pelayan yang melihat kedatangan bos mereka pun langsung menyambut dengan melayani dengan baik.
Olivia memperhatikan sekitar dengan baik. "Kayanya bar kamu setiap hari selalu ramai ya, aku ikut seneng deh," ucapnya memuji.
"Iya, bagian marketing juga lumayan pinter sih masarinnya, selalu buat diskon juga supaya narik pelanggan," jawab Dilon. Ia juga sudah ikut andil mengurus bar Kafe ini, walaupun masih sekolah dan belajar.
Seorang pelayan lalu datang dan memberikan buku menu pada keduanya, Dilon dan Olivia pun memilih terlebih dahulu lalu menyebutkan pesanan masing-masing. Dilon juga tidak lupa minta dibuatkan dessert spesial juga sebotol anggur di akhir nanti.
__ADS_1
"Aku baru inget lagi pas kejadian beberapa bulan lalu, pas kita rayain ulang tahun kamu di sini dan ada Om Aiden dan Tante Erika juga." Olivia lalu membawa sebelah tangan Dilon ke genggamannya, "Aku pengen denger jawaban jujur dari kamu, apa waktu itu kamu merasa bahagia atau gak suka dengan suasananya?"
Dilon terlihat menghela nafas berat, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat juga. "Waktu itu kan hubungan aku sama mereka masih gak baik, jadi jujur aja sebenarnya aku gak suka. Aku lebih suka rayainnya sama kamu aja, sudah cukup kok."
"Maaf ya kalau sempet hancurin pesta ulang tahun kamu, tapi aku beneran pengen banget lihat kamu dan orang tua kamu itu akur," ucap Olivia tidak enak.
Dilon hanya mengangguk mengerti, tidak memikirkan lagi juga. Yang terpenting sekarang hubungannya dengan kedua orang tuanya pun sudah membaik, mereka tidak saling meninggikan ego dan sudah mulai terbuka satu sama lain. Erika juga sudah pindah ke rumah, Dilon pun tidak mempermasalahkan itu.
Tidak lama pesanan mereka pun datang, Olivia memesan steak sedangkan Dilon salmon karena sedang diet. Mereka makan dengan lahap dan sesekali saling menyuapi makanan masing-masing. Terbukti jika sekarang keduanya sudah benar-benar baikkan.
Dilon tiba-tiba menghentikan makannya saat mengingat sesuatu. "Sayang, aku pengen tanya sesuatu, cuman mau mastiin aja."
"Hm apa?" tanya Olivia sambil tetap fokus makan.
"Aku masih penasaran kenapa kamu bisa datang malam itu ke tempat balapan, pasti ada yang ngasih tahu kamu, kan? Siapa orang itu?" Dilon masuh belum bisa memastikannya, Ia ingin mendengar jawaban langsung agar lebih jelas.
Olivia memilih menghentikan makannya lalu memfokuskan pandangan pada Dilon. "Sudahlah Dilon, aku gak mau kita bahas ini lagi."
Melihat ekspresi serius di wajah Olivia, membuat Dilon lagi-lagi menghela nafas berat dan sepertinya harus Ia pendam saja. Benar juga, mereka kan sudah baikkan dan seharusnya tidak usah membahas ini lagi karena bisa saja mereka marahan lagi.
Mereka kembali melanjutkan makan, walau tanpa obrolan beberapa saat karena merasa canggung satu sama lain. Selesai makanan utama habis, makanan penutup pun datang dengan segelas anggur. Hanya saja Olivia tidak minum, lagi pula tidak suka yang memabukkan begitu.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?" tanya Dilon setelah menghabiskan segelas kecil anggurnya.
"Iya aku mau pulang sekarang, Papa bilang gak boleh pulang terlalu malam," Jawab Olivia sambil mengangguk.