Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Misi Menyatukan


__ADS_3

"Dilon kalau semisal Tante Erika tinggal di sini, gimana?" tanya Olivia yang sudah tidak tahan memendam dari tadi.


Pergerakan Dilon yang akan membuka kancing seragamnya terhenti mendengar itu, ternyata benar dugaannya yang ingin Olivia tanyakan tentang Erika. Kekasihnya itu sepertinya niat sekali ingin meng harmoniskan keluarganya.


"Terserah." Hanya itu yang Dilon katakan, membuat Olivia ambigu.


"Tapi kalau Tante Erika tinggal di sini, kamu jangan galak-galak dong Dilon. Kamu juga harus mulai patuh dan hormati Tante Erika seperti pada orang tua," kata Olivia menasehati.


"Hm."


"Ih Dilon kamu denger gak sih?!" protes Olivia, dari tadi hanya menjawab singkat membuatnya kesal saja.


Dilon lalu menjatuhkan seragamnya ke lantai, membuat tubuh bagian atasnya kini terpampang dengan jelas. Walaupun sekarang sudah jarang nge gym, tapi Dilon terlihat masih seksi dan keren.


Melihat pacarnya yang duduk di ujung ranjang, membuat Dilon mendekat. Ia lalu menaikkan salah satu kakinya ke atas ranjang tepat di sisi tubuh Olivia, posisinya sekarang jadi terlihat dominan sekali.


"Wani piro?" tanyanya bergurau.


"Ish apaan sih? Gak jelas!" dengus Olivia sambil mendorong perut pria itu agar menjauh.


Dilon hanya terkekeh kecil merasa konyol dengan dirinya sendiri, pria itu lalu minta izin untuk mandi lebih dahulu. Meninggalkan Olivia di kamar sendirian. Tetapi Dilon lupa jika pacarnya itu tidak bisa diam.


Olivia malah keluar dari kamar, Ia ingin menemui Tante Erika, berharap saja semoga masih ada di sini. Saat Ia tanyakan pada pelayan, katanya Erika ada di halaman belakang. Olivia pun segera pergi ke sana.


"Tante lagi apa di sana?" tanya Olivia berteriak dari kejauhan, Ia berlari kecil mendekat.


"Lagi nyantai aja, sore ini cuacanya bagus banget," jawab Erika sambil tersenyum ramah seperti biasa.


"Oh iya aku hampir lupa, Om Aiden dimana ya Tante?" tanyanya.


"Aiden belum pulang dari kantor, dari siang Tante memang di sini. Sebenarnya Tante kurang enak badan, jadi Aiden bilang untuk diam di rumah aja biar ada yang nemenin, kalau di apartemen kan sendirian," kata Erika memberitahu.

__ADS_1


"Ya ampun pantesan aja wajah Tante agak pucat. Kalau Tante sakit, kenapa gak istirahat aja?"


Erika menggeleng, "Enggak, Tante sakit itu karena bawaan bayi, di bulan pertama ini memang banyak sekali cobaannya. Dia memang manja," ujarnya.


Olivia mengangguk pelan mengerti mendengar itu, mungkin Erika merasakan perasaan yang tidak nyaman di kehamilan pertamanya ini, apalagi usianya sudah tidak terlalu muda. Katanya sih di awal bulan memang selalu serba tidak enak.


Melihat wanita itu dari tadi melirik pohon di depannya, membuat Olivia pun ikut melihat. Sudah ada beberapa mangga yang matang di atas, sepertinya Erika sedang ngidam mangga muda. Olivia pun tahu yang harus dilakukannya sekarang.


"Tante pengen nge rujak ya?" tanya Olivia peka.


"Hah? Em iya, kayanya makan mangga muda itu enak, Tante dari tadi pengen," jawab Erika jujur.


"Ya sudah sebentar, aku bantu Tante ya." Olivia segera pergi dari sana dan kembali masuk ke dalam rumah.


Tujuannya adalah kamar Dilon, saat membuka pintu pria itu sempat terpekik terkejut melihat kedatangan nya yang tiba-tiba. Tetapi untungnya Dilon sudah pakai bawahan, tinggal pakai baju kaos saja.


"Kebiasaan deh, kalau mau ngintip gak usah sungkan, tinggal bilang aja," kata Dilon setengah menyindir.


"Emangnya ada apa? Kok buru-buru?" Apa Olivia mau pulang?


Olivia mendekati pacarnya itu lalu memegang tangannya, "Dilon, bantuin aku dong. Tante Erika lagi pengen mangga muda katanya, kamu naik ya ke atas pohon ambilin mangganya," pintanya.


Kedua mata Dilon terbelak mendengar itu, "Apa? Gak salah kamu?" tanyanya merasa enggan.


"Oh jadi kamu gak mau?! Ya sudah kalau gak mau, aku aja yang naik ke pohonnya. Haduh pasti banyak semut, kulitku nanti pasti merah-merah," ucap Olivia mengkode meminta belas kasihan.


Melihat Dilon yang terlihat masih ragu melakukan, membuat Olivia kesal dan memilih pergi dari sana sambil menghentak-hentakkan kakinya. Jadi Ia nanti yang harus memanjat pohon? Tapi kan Olivia tidak bisa.


Saat kembali ke halaman belakang, Erika ternyata masih di sana dan bilang masih menginginkan mangga mudanya. Merasa tidak tega pada wanita yang sedang hamil itu, sepertinya Olivia benar-benar harus naik pohon sekarang. Tetapi baru saja memegang pohonnya, teriakan memanggil namanya membuat perhatian Olivia teralih.


"Biar aku aja!" kata Dilon setelah dekat, nafasnya terlihat tidak teratur seperti kelelahan sudah berlari.

__ADS_1


"Tadi katanya gak mau!" ucap Olivia ketus.


"Belum juga jawab udah langsung pergi," gumam Dilon membela diri, tapi dengan suara pelan karena takut pacarnya kembali tersinggung.


Sempat Dilon melirik Erika, tapi hanya sebentar dan segera mendekati Olivia. Ia meminta pacarnya itu untuk mundur. Dilon pun mulai ancang-ancang, lalu setelah merasa siap langsung naik ke atas pohon tanpa memakai alas kaki.


"Hati-hati ya naiknya, awas kepeleset!" teriak Olivia dari bawah.


Melihat Dilon yang terlihat tidak kesulitan dan lincah menaiki pohon, membuat Olivia tersenyum senang. Ia lalu beralih mendekati Erika, keduanya pun memperhatikan Dilon yang sudah berada di atas.


"Mau berapa mangganya?" tanya Dilon setengah berteriak takut tidak terdengar.


"Terserah kamu aja, ambil yang di deket kamu biar gak kesusahan," jawab Olivia.


Karena Dilon tidak sempat bawa keresek atau wadah ke atas, dengan terpaksa mangganya harus Ia peluk di tangan. Tidak banyak yang Ia ambil karena akan kesulitan saat turun, akhirnya Dilon pun hanya bisa membawa lima mangga muda.


Saat Dilon berhasil turun, Olivia pun langsung bertepuk tangan merasa senang. Mangga yang Dilon pilihkan pun cukup besar dan bagus-bagus, hebat juga pria itu. Olivia lalu beralih membawakan, dan menunjukkan pada Erika.


"Gimana Tante? Cukup gak segini?" tanya Olivia.


"Cukup banget malahan, makasih banyak ya untuk kalian berdua. Terutama kamu Dilon, kamu sampai bela-belain naik ke atas pohon, kamu gak papa kan? Gak ada luka atau di gigit semut kan?" tanya Erika dengan nada khawatirnya.


Dilon berdehem pelan, lalu menjawab singkat,"Enggak."


"Nanti kalau misal kenapa-napa langsung diobatin ya, di gigit semut dari pohon mangga kan lumayan sakit juga," perintah Erika.


Olivia lalu menyenggol pelan tangan Dilon sambil menahan senyumannya. Melihat wajah memerah Dilon, Ia tahu pria itu sedikit salah tingkah di khawatirkan seperti itu oleh Mama tirinya. Ya semoga saja Dilon tahu, jika Erika memang peduli kepadanya.


"Ya sudah yuk Tante kita masuk, aku juga jadi pengen ikut makan rujaknya," ajak Olivia bersemangat.


"Iya yuk, rame-rame makin seru," kata Erika senang.

__ADS_1


__ADS_2