Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 54


__ADS_3

Selama di Indonesia pun, Daniella hampir setiap hari berkunjung ke rumah Kai. Jangan salah paham, hanya ingin menemani Kenzo. Untungnya Kai langsung menyewa seorang babysitter, Daniella juga terkadang selalu memperhatikan dan ikut membantu mengurus Kenzo.


"Nona mau coba mandiin Tuan muda?" tawar Ima-babysitter Kenzo.


"Hah? Em gimana yah, aku agak takut," jawab Daniella sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Wanita yang sudah masuk usia tiga puluh tahun itu tersenyum tipis bisa mengerti. "Tidak apa Nona, kan belajar. Nanti juga Nona akan jadi Ibu, pasti ikut memandikan bayi nya."


Setelah Daniella pikirkan lagi ada benar nya juga, Ia pun mengangguk mengiyakan dan akan belajar cara memandikan bayi. Ini perdana, jadi masih agak kikuk namun pasti Ia akan tetap hati-hati.


Bi Ima terus mendampinginya di sebelah, membimbing nya juga dengan baik bagaimana cara mandi yang benar pada bayi. Kenzo pun terlihat nyaman, matanya yang bersinar itu terus memperhatikan Daniella.


"Gimana bi Kenzo minum susunya lancar kan?" tanya Daniella mengalihkan obrolan. Ia kan tidak bisa dua puluh empat jam di sini, jadi tidak bisa memperhatikan terus.


"Tuan muda minum susu nya lahap kok, syukurnya dia langsung cocok dan suka, tidak diare juga," jawab wanita itu.


Daniella menekan bibirnya dengan tatapan yang menjadi sendu. "Kasihan ya Kenzo, padahal seharusnya kan yang lebih bagus itu asi dari Ibu, tapi ya mau bagaimana lagi."


Ia lalu mengusapi pelan kepala bayi itu. "Semoga suatu saat nanti Kenzo jadi anak yang pintar dan sukses ya."


"Aamiin."


Perhatian dua wanita itu teralihkan mendengar ada yang men-amini. Mereka tersenyum melihat Kai di ambang pintu kamar mandi, lelaki itu sepertinya baru pulang bekerja. Kai lalu mendekat untuk melihat bayinya juga yang sedang dimandikan.


"Wih anak Papa lagi mandi ya, siapa nih yang mandiin kamu? Anteng banget." Kai terlihat mengajak mengobrol bayinya itu, walau tahu tidak akan mendapat sahutan apapun.

__ADS_1


Kai lalu kembali menatap Dankella di sebelahnya. "Kamu bisa mandiin bayi juga ternyata, hebat," puji nya.


"Hehehe iya, ini bi Ima yang ngajarin aku. Awalnya takut banget karena takut dia nangis, tapi ternyata enggak sesulit itu," jawab Daniella cengengesan.


Kai pun ikut tersenyum. "Iya lah harus bisa, kamu juga kan calon Ibu."


Karena mandi Kenzo sudah selesai, mereka pun beranjak dan membawanya masuk kembali ke kamar. Kamar bayinya itu memang terpisah dengan Kai, kamar ini sudah disiapkan khusus untuk putranya itu. Dihias dengan keren khas anak laki-laki.


Karena Daniella sudah bisa memakaikan baju, jadi Ia lah yang bertugas mendandani bayi itu. Sedangkan bi Ima beranjak untuk membuatkan susu formula, sudah waktunya juga.


"Kenapa dia jarang nangis ya, biasanya kan bayi hobi banget nangis," tanya Kai bergumam di sebelah nya.


Daniella yang sedang memakaikan baju pada bayi itu dibuat terkekeh kecil. "Gak papa dong, berarti Kenzo ini anak yang baik dan pengertian. Dia bukan jarang menangis, sering kok, Om saja yang jarang lihat," sahut nya.


"Ya mau gimana lagi, Om kan kerja dari pagi sampai sore," ucap Kai agak sedih. "Makasih ya kamu setiap hari selalu kesini nemenin Kenzo."


Tidak bisa menahan rasa gemas nya, Daniella pun menggendong Kenzo dan mengecupi pipi kemerahannya itu sekilas. Wangi khas bayi pun tercium jelas, membuatnya selalu nyaman setiap menggendong bayi ini.


Tanpa perempuan itu sadari, Kai di sebelahnya memperhatikan dengan perasaan hangat. Entah kenapa Ia selalu suka saat bayinya itu bersama Daniella, Ia merasa percaya juga Daniella dapat menjaga Kenzo dengan baik.


"Kamu sudah cocok jadi Ibu," celetuk Kai tanpa sadar, langsung mengatupkan bibir setelah mengatakan itu.


Daniella hanya tersenyum lalu mengeratkan pelukannya pada bayi itu sambil menimang-nimang nya. "Iya dong, aku kan memang sudah punya anak. Kenzo anak pertama aku hehe," ujar nya bergurau.


"Oh ya, ya cocok sih," sahut Kai dengan senyuman penuh artinya.

__ADS_1


Sempat keduanya saling bertatapan, tapi langsung mengalihkan pandangan karena merasa suasana tiba-tiba menjadi canggung. Padahal keduanya pun tadi hanya bercanda, tapi entah kenapa malah dibawa hati.


Kalau Daniella mengakui Kenzo anak nya, itu berarti juga adalah istrinya.


"Permisi Nona, ini susu nya untuk Tuan Muda. Hangat nya sudah pas," ucap Ima yang tepat sekali kembalinya.


Kai lah yang menerima dot minuman berukuran kecil itu. Tidak lupa Ia berterima kasih dan menyuruh babysitter anaknya itu untuk istirahat karena sudah sore dan makan malam.


Tetapi sepertinya Kenzo tidak usah diberikan dulu minum susu, bayi itu benar-benar terlihat anteng menatap dua orang dewasa itu bergantian. Daniella dan Kai pun jadi semakin asik menonton nya.


"Kalau sedang begini, Om tiba-tiba suka jadi sedih gak kepikiran Ayana? Pastilah ya, kalau ada dia mungkin posisi yang aku perankan sekarang itu adalah dia," tanya Daniella sambil menatap nya sendu.


Kai berdehem pelan lalu mengamitkan satu jari tangannya agar digenggam oleh tangan mungil bayinya itu. "Iya, tapi sekarang Om jarang sedih. Karena ada kamu, beda lagi kalau lagi sendirian," jawab nya jujur.


"Kenapa bisa gara-gara aku?"


"Mungkin karena ada kamu Om jadi gak kesepian, ada teman mengobrol juga makanya kalau pulang jarang murung. Kehadiran kamu saat ini benar-benar sangat berarti untuk Om dan Kenzo. Makasih ya Daniella."


Di tatap se dalam itu dengan kata-kata manis dari Kai, membuat Daniella tidak bisa menahan detak jantung nya yang menjadi cepat. Wajahnya pasti sekarang memerah karena sedang salah tingkah.


Daniella lalu tersentak saat sebelah tangannya digenggam, mereka pun kembali bertatapan. "Om yakin suatu saat kamu juga akan menjalani kehidupan seperti ini, berperan sebenarnya sebagai seorang Ibu. Om hanya berpesan, semoga kamu bisa menemukan jodoh yang tepat agar kamu bahagia."


"Iya Om, makasih," gumam Daniella menanggapi dengan singkat.


Tetapi Daniella belum memikirkan itu, Ia masih ingin sendiri menikmati waktunya. Sekarang Ia sudah dewasa, jadi sudah mengerti jika menikah itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar.

__ADS_1


Benar kata Kai, Ia harus menemukan jodoh yang tepat agar bahagia. Tetapi siapakah? Sedangkan selama ini Ia tidak pernah menjalin hubungan. Bagaimana mau membuka hati, yang di pikirannya terus hanya satu orang.


"Ekhem sepertinya Kenzo mengantuk, kita beri susu dia sekarang saja," dehem Kai menghentikan keheningan.


__ADS_2