Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Takut Dimarahin


__ADS_3

"Sana masuk, kenapa megang tangan gue terus? Belum puas kangen-kangenannya?" tanya Dilon menggoda.


Olivia semakin mengerucutkan bibirnya, "Dilon, gimana kalau di rumah Mama sama Papa langsung marahin aku?" tanyanya khawatir. Inilah yang Olivia pikirkan dari tadi.


Dilon menarik tangan Olivia dan membawa tubuhnya ke pelukan. Ia memang masih duduk di atas motor, sedangkan Olivia sudah turun. Pelukan nyaman itu membuat Olivia merasa nyaman, perasaan khawatirnya pun perlahan menguap.


"Bukannya anak baik harus hadapin masalah dan bertanggung jawab?"


"Tumben kamu jadi bijak gini, gak kesurupan?" celetuk Olivia.


"Ck dasar nyebelin, gue lagi serius juga!" kesal Dilon digoda seperti itu.


"Haha habisnya aneh aja gitu, kaya bukan Dilon," kata Olivia sambil meregangkan pelukan mereka.


Sebelah alis Dilon terangkat, "Jadi kalau misal gue jadi orang serius dan bijak gitu, gak pantes?"


"Pantes-pantes aja, tapi kayanya lebih cocok kalau misal kamu sudah dewasa, usia kamu sudah matang. Gak mungkin juga selamanya kamu gini-gini terus, umur kan makin bertambah, " jawab Olivia.


Dilon mengangguk pelan mengerti, memang sudah pasti Ia juga tidak akan selamanya begini. Tetapi di usia sekarang Dilon merasa masih ingin bebas melakukan apapun, karena menjadi orang dewasa itu tidak mudah.


"Kalau misal lo dimarahin Nyokap sama Bokap lo, kasih tahu gue ya?" kata Dilon.


"Iya nanti aku kasih tahu kamu," angguk Olivia.


Merasa cukup bermesraan nya, Olivia pun masuk ke rumahnya, Dilon pun pergi. Rasanya gugup sekali saat membuka pintu, matanya memperhatikan setiap sudut ruangan mencari Mamanya.


Dirasa tidak ada siapapun, Olivia pun berjalan mengendap masuk sambil berjalan pelan tanpa menimbulkan suara. Setelah berada di lantai dua, Olivia baru bisa bernafas lega karena merasa sudah aman.


Trak trak!


"Arghhh!" teriak Olivia terkejut merasakan tembakan terus menerus di belakang punggungnya.


Mendengar suara tawa khas adik laki-laki nya, perlahan Olivia berbalik sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Ia mengintip Kai yang berdiri tidak jauh dari nya, sedang mengarahkan mainan pistol berlaras panjang padanya.


"Hei anak kecil, berhenti!" jerit Olivia.


Akhirnya Kai pun menghentikan aksinya itu, bahkan dengan songongnya sempat meniup ujung pelatuk dengan gaya sombongnya itu. Kai terlihat puas sekali sudah mengerjai Kakak perempuannya.


"Kamu apa-apaan sih? Dasar anak bandel!" omel Olivia sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Habisnya aku perhatiin Kakak dari tangga kaya mengendap-ngendap gitu jalannya, kaya maling tahu gak?!" kata Kai.


"Terus apa maksudnya nembakin Kakak hah?!" tanyanya sensi.


"Hehe kan aku polisi nya, Kakak malingnya," jawab Kai sambil tersenyum polos.


"Dasar kurang ajar ya!"


Baru saja akan mengejar, Kai dengan cepat melarikan diri dan masuk ke kamarnya sambil tertawa cekikikan. Olivia yang tidak berhasil mengejar langsung menghembuskan nafas kasar. Lihat saja nanti, akan Ia balas.


Olivia sempat menendang bola air berukuran kecil-kecil itu kesal, yang tadi Kai gunakan untuk menembaki nya. Memang nakal sekali adiknya itu, selalu saja mengerjai nya. Untung saja bola air tidak sakit, tapi tetap saja kalau sebanyak tadi agak menyebalkan.


"Itu apaan?" tanya Keisha yang baru naik tangga.


Olivia terkejut melihat kedatangan Mamanya itu, perasaannya pun jadi tidak enak. Apa Mamanya akan membicarakan mengenai dirinya yang ribut di sekolah?


"Olivia kok diam saja? Kenapa di sini kotor banget?" tanya Keisha menegur.


"Hah? Bukan salah aku Mah, ini tadi bekas main Kai. Dia itu nakal banget, masa aku yang baru pulang langsung ditembakin pakai pistol mainannya," adu Olivia.


"Jadi bola air ini isinya?"


Keisha menggelengkan kepalanya mendengar kenakalan anak laki-laki nya, Kai itu memang selalu saja ada tingkahnya. Wanita itu sempat memanggil pembantunya dengan berteriak dari lantai dua.


"Tadi kamu pulang di anter Dilon?" tanya Keisha kembali mendekatinya.


"Iya Mah, kenapa?"


"Gak papa sih," geleng Keisha.


Olivia mengernyitkan keningnya, kapan Mamanya akan membahas mengenai kasusnya di sekolah? Kenapa tidak langsung ke inti saja? Ya walau Olivia agak takut.


"Mah, Mama dapet telepon dari wali kelas aku gak?" tanya Olivia memberanikan diri bertanya.


"Enggak tuh, emangnya kenapa?"


Mendengar itu membuat Olivia dapat bernafas lega sejenak, tapi Ia belum bisa lega sepenuhnya karena bisa saja di lain waktu. Keisha yang melihat gerak-gerik putrinya itu dibuat curiga.


"Ada apa Olivia? Kamu gak buat masalahkan?" tanyanya.

__ADS_1


"E-enggak kok hehe," jawabnya berbohong.


"Masa? Terus kenapa kamu nanyain Wali kelas kamu nelepon Mama. Kalau misal nelepon, pasti ada sesuatu yang penting."


Olivia menelan ludahnya kasar, salahnya sendiri yang bertanya lebih dulu dan sekarang Mamanya jadi curiga. Tetapi Olivia tidak akan jujur, Ia harus menyelamatkan diri.


"Soalnya sebentar lagi kan Ujian, katanya bakal ada kelas tambahan buat kelas tiga. Mungkin guru mau bicarain biaya tambahan buat persiapan," jelas Olivia terdengar meyakinkan.


"Oh begitu ya, Mama kira apa. Nanti kamu kabari aja berapa total semuanya, biar Mama yang urus," kata Keisha percaya.


"Haha iya Mah," angguk Olivia sambil tertawa canggung.


Olivia lalu izin pamit masuk ke kamarnya, merasa tidak nyaman juga berduaan dengan Mamanya karena khawatir kebohongannya ketahuan. Ya semoga saja Bu Rita tidak memberi tahu Mamanya, walau kemungkinannya kecil.


Selesai mandi Olivia pun memutuskan melakukan video call dengan Dilon. Tidak butuh waktu lama pacarnya itu langsung mengangkat. Olivia langsung tersenyum lebar melihat wajah tampan Dilon di layar.


"Kamu lagi dimana?" tanyanya.


["Di rumah temen, main game. Kedengeran kan sampai sana suara ributnya?"]


Olivia mengangguk, memang di sana ramai sekali. Dilon sampai menunjukkan juga teman-temannya itu lewat kamera belakang, tapi hanya sebentar dan kembali padanya.


["Kenapa hm? Lo udah kangen lagi sama gue? "]


"Bukan, aku cuman ngerasa aneh aja sama Mama. Tadi aku takut banget sama dia, takut dimarahin soal masalah tadi di sekolah. Tapi pas aku tanya, dia malah bilang gak tahu," jawab Olivia menceritakan.


Dilon terlihat menyeringai kecil di sebrang sana, ["Apa mungkin Bu Rita gak ngasih tahu Nyokap sama Bokap lo?"]


"Kalau misal enggak aku harus berterima kasih sih sama beliau, mungkin besok bakal aku tanyain. Aku sih di kantor sempat mohon-mohon gitu sama dia, mungkin dia kasihan sama aku."


Tetapi Olivia harus memastikan lagi sampai besok pagi setidaknya, jika pun Mama dan Papanya tidak memarahinya dan membahas tentang masalahnya itu berarti Bu Rita memang tidak memberi tahu orang tuanya.


["Dilon malam minggu mau ikut ke sirkuit gak? Ada taruhan balap motor lagi, hadiahnya gede!"]


Kernyitan terlihat di kening Olivia saat mendengar teriakan salah satu teman Dilon. Belum sempat Ia bertanya, Dilon malah pamitan lalu mematikan video call mereka. Olivia pun perlahan dibuat panik.


***


Wah gimana ya reaksi Olivia nanti? 😳

__ADS_1


__ADS_2