
Jam efektif belajar sudah dimulai, semua mahasiswa pun harus membiasakan diri dengan lingkungan yang baru. Ternyata Dilon dan Olivia benar satu kelas, mereka bisa kebetulan begitu lagi. Tetapi keduanya seperti tidak mengenali satu sama lain, jarang menyapa juga.
"Kita mau ngerjain tugasnya dimana?" tanya Kirana.
"Terserah sih, tapi mending di Kafe saja biar sambil ngopi," usul Olivia dan langsung diangguki kelompoknya.
Perhatian ketiga perempuan itu lalu teralih pada Dilon, hanya satu-satunya lelaki di kelompok mereka, "Dilon kamu setuju ngerjain kelompoknya di Kafe?" tanya Kirana.
"Boleh dimana aja, di rumah kamu juga gak papa kok hehe, " kata Dilon modus.
Olivia yang mendengar Dilon sedang menggoda Kirana hanya memutar bola mata malas, sudah terbiasa sekarang dengan sikap brengsek pria itu. Ia memang tidak suka dengan Dilon yang sekarang, tapi tidak bisa apa-apa juga.
Mereka pun langsung berangkat dengan memakai mobil Dilon karena hanya pria itu yang bawa kendaraan. Kirana terlihat banyak tahu tempat nongkrong yang sedang hits di Jakarta, perempuan itu sampai duduk di depan menunjukkan jalan.
Sesampainya mereka di tempat itu, langsung masuk dan mencari meja yang dirasa nyaman untuk mengerjakan tugas. Tidak lupa sebelumnya juga memesan beberapa cemilan dan minuman untuk menemani.
"Oke kita bagi-bagi aja ya tugasnya biar cepet," ucap Olivia yang memang ditunjuk sebagai ketua kelompok, kemapuan bicara perempuan itu harus diakui jempol.
Kedua perempuan lain saat Olivia tunjuk mengerjakan bagiannya langsung setuju-setuju saja, setelahnya Olivia pun akan memberikan tugas pada Dilon, "Nah Dilon kamu baca dari paragraf ke empat sampai enam ya."
"Kalau bacanya masa depan kita aja gimana? Kayanya masa depan kita kalau bareng-bareng cukup cerah juga," celetuk Dilon kembali modus, tapi tentu tidak akan mempan pada Olivia.
Kirana dan Citra pun langsung menyoraki mendengar itu, apalagi berita sudah tersebar di kelas jika dua orang itu dulunya adalah pasangan kekasih. Tetapi terlihat tidak akrab sekali, lebih tepatnya Olivia yang selalu dingin pada Dilon.
"Bisa serius gak? Biar tugasnya cepet selesai!" tegur Olivia sok galak.
"Huft aku sudah serius kok sama kamu, tapi kamu nya aja yang selalu ragu sama aku," Kata Dilon yang malah semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Tetapi entah kenapa kata-kata yang satu itu terasa menusuk di dada Olivia, membuatnya pun berdehem pelan menghilangkan gugup. Ia lalu menyuruh pada teman-temannya untuk mulai mengerjakan tugas, begitu pun dengan dirinya.
Sesekali saat sedang mengerjakan, Olivia melirik Dilon yang beberapa kali berbisik pada Kirana yang kebetulan nya dua orang itu duduk bersebelahan. Dadanya terasa panas, tapi tidak menunjukkan karena gengsi.
"Dilon sudah belum bacanya? Coba sekarang jelasin inti dari bab yang kamu baca itu!" ujat Olivia tegas, tatapanya pun terlihat tajam.
"Ish bentar dulu dong, ini kan masih dibaca," kata Dilon menggerutu karena dari tadi terus dimarahin.
Brak!
Olivia menggebrak meja lumayan keras, "Terus dari tadi ngapain? Yang lain sudah nulis rangkuman, kamu masih baca! Kalau gak serius ngerjainnya, nanti aku aduin ke dosen!" ancam nya.
Kedua mata Dilon terbelak mendengar itu, menjadi khawatir sendiri, "Eh kok gitu sih? Iya-iya ini selesain sekarang, galak banget!"
Olivia hanya mendengus tidak sakit hati dikatai begitu, entah kenapa memang mulutnya ini gatal sekali ingin memarahi lelaki itu dari tadi. Entah karena pekerjaannya tidak selesai-selesai, atau merasa cemburu ya?
"Mana sudah belum?" tanya Olivia, kini nada suaranya sudah tidak seketus tadi lagi.
"Sudah kok, nih." Dilon pun mendorong buku catatannya pada perempuan itu.
Olivia menerima dan membacanya dengan teliti, untungnya rangkuman yang pria itu tulis lumayan bagus dan detail, jadi tidak kena omelan nya lagi. Olivia pun melanjutkan mencatat lagi, sedang teman-temannya sedang memakan cemilannya.
Beberapa waktu kemudian, akhirnya pekerjaannya selesai juga. Kerja kelompok berjalan lancar karena mereka kompak, Dilon pun jika tidak ditegur Olivia pasti akan membuat pekerjaan terhambat dan ngaret.
"Olivia aku sama Citra mau pulang duluan ya, gak jauh dari sini kan kontrakan kita," kata Kirana berpamitan.
"Oh iya hati-hati, nanti besok jangan telat ya, soalnya kan kita mau presentasi," Ucap Olivia mengingatkan.
__ADS_1
"Iya pasti." Kirana dan Citra pun tidak lupa pamitan juga pada Dilon. Pria itu masih sempat nya lagi menggoda akan mengantar pulang, tapi mobilnya tidak akan masuk ke gang sempit.
Selepas kepergian dua perempuan itu, suasana di meja terasa canggung. Olivia dan Dilon sama-sama bersikap acuh dan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Tetapi saat tidak sengaja bertemu pandang, langsung mengalihkan dengan cepat.
"Lo galak banget, gue kan malu dimarahin mulu," celetuk Dilon protes baru berani membuka suara saat hanya mereka berdua.
"Salah sendiri gak bisa kerja cepet, semua orang kan sibuk," sahut Olivia tidak mau kalah.
Dilon mendengus kasar tetap tidak terima, "Lo pasti marah bukan karena gue lelet kan ngerjain tugasnya? Tapi karena lo cemburu sama gue godain Kirana mulu."
"Hahaha ngapain juga aku harus cemburu? Gak peduli tuh!" Bantah Olivia sambil tertawa canggung. Bagaimana pria itu bisa tahu ya?
Olivia lalu melirik jam tangannya, sudah mau pukul enam sore lagi dan Ia harus cepat pulang. Sempat melirik Dilon, apa pria itu akan mengantarnya pulang? Bukan berharap, tapi kan kalau lelaki gentle pasti peka.
"Sana pulang, cewek jangan keluyuran malam-malam di luar," kata Dilon seperti mengusir, bahkan sampai mengibaskan tangannya juga.
"Em kamu kapan pulangnya?" tanya Olivia balik.
"Sekarang juga mau pulang sih, tapi mau ke markas dulu," jawab Dilon sambil tetap menikmati cemilannya.
Melihat tanda-tanda jika pria itu tidak akan mengantarnya pulang, membuat Olivia sempat kecewa, tapi memang jangan berharap lebih juga. Olivia lalu beranjak sambil memeluk tas berisi laptop di dadanya, sempat melirik Dilon beberapa saat, lalu berbalik dan pergi dari sana.
Sepertinya Ia akan pulang dengan memesan taxi online saja, kalau menunggu jemputan supir lama. Tetapi baru saja membuka aplikasi online itu, seseorang berdiri di sebelahnya membuat kepalanya pun terangkat untuk melihat. Terkejut karena itu Dilon.
"Kenapa belum pulang?" tanya Dilon tanpa menatap.
"Mau pesen taxi online nya dulu ini," Jawab Olivia. Apakah Dilon akan mengantarnya pulang?
__ADS_1
Tetapi sayangnya pernyataan pria itu membuat Olivia langsung tertohok, "Gue gak anter lo pulang, takut ketahuan Bokap lo lagi, terus dia malah salah paham. Kayanya kita emang jangan terlalu dekat juga."