
"Kakak!"
Brak!
Olivia langsung menatap kesal adiknya yang masuk begitu saja ke kamarnya, bahkan sampai membuka pintu kasar. Tadinya akan Ia omelin, Olivia malah dibuat bingung melihat Kai yang membawa buket bunga besar.
"Ngapain kamu bawa bunga? Dari siapa?" tanya Olivia bingung.
Kai terlihat mengatur nafasnya, seperti kelelahan sudah berlari jauh. Olivia lalu terkejut saat adiknya itu menyimpan buket bunga itu kasar di pangkuannya. Ia pun menatap Kai meminta penjelasan.
"Itu dari Pak Satpam," jawab Kai yang sudah lebih tenang.
"Hah? Ngapain Pak Satpam ngasih aku bunga?" tanya Olivia bingung. Tiba-tiba jadi merinding membayangkan sesuatu.
"Bukan dari Pak Satpam, tapi yang ngasihnya Kak Dilon. Tadi katanya titip untuk Kakak, cie romantis banget Kak Dilon ngasih bunga," goda Kai dengan senyuman menggoda di bibirnya.
Kedua mata Olivia berkedip pelan merasa speechless mengetahui ini, jadi Dilon mengiriminya bunga? Olivia lalu beranjak dari duduknya mendekati jendela, berusaha melihat ke depan gerbang rumahnya.
Sayangnya Olivia tidak menemukan Dilon, apakah pria itu sudah pergi? Olivia masih ingat jika dirinya berpesan pada satpam di depan untuk tidak mengizinkan Dilon masuk. Ternyata pria itu menyusulnya, Ia kira akan bersikap acuh.
"Terus Kak Dilon nya kemana Kak? Kok gak main ke sini?" tanya Kai mendekati kakak perempuannya itu.
"Ya gak tahu, pulang lagi mungkin." Olivia terlihat agak acuh saat mengatakan itu, padahal hatinya merasa tidak enak sendiri.
Olivia kembali terdiam membayangkan kejadian tadi saat di rumah Vanessa. Amarahnya kembali naik mengetahui perempuan itu dengan sengaja menggoda Dilon, benar-benar tidak tahu malu sekali pikirnya.
Tetapi Olivia semakin kesal dengan tanggapan Dilon yang terlihat santai, bukannya bersikap tegas. Entahlah apa Dilon itu habis bicara dengan Vanessa sampai lama mengejarnya, tapi bagaimana jika mereka malah mesra-mesraan?
Membayangkan itu, membuat Olivia menelan ludah kasar. Pikirannya ini terlalu jauh sampai berpikir Dilon malah tergoda oleh Vanessa dan mereka malah bermesraan. Kepala Olivia langsung menggeleng, tidak mungkin Dilon melakukan itu.
__ADS_1
"Ekhem sudah sana keluar, Kakak mau istirahat," ucap Olivia mengusir adiknya untuk pergi.
Kai pun menurut saja dan kali ini tidak bersikap nakal menggoda Kakaknya itu. Kai sadar usianya sudah remaja, walau Ia memang senang sekali membuat kesal Kakak perempuannya itu. Tetapi Kai harus lebih tenang, agar Olivia tidak mengatainya anak kecil lagi.
Baru saja duduk di ranjang, suara deringan di ponselnya mengalihkan perhatian Olivia. Melihat jika itu adalah panggilan dari Dilon, membuatnya gugup dan merasa bingung beberapa saat. Apakah Olivia harus mengangkatnya?
"Apa?!" tanya Olivia ketus.
["Sayang sorry ya, gue minta maaf. Lo udah terima bunga dari gue belum? Tadi gue ke rumah lo, tapi satpam bilang lo gak izinin gue masuk."]
Olivia mendengus pelan, "Emangnya mau ngapain kamu ke rumah aku? Mending sana balik lagi aja ke rumah Vanessa, mesra-mesraan sana sama dia!"
["Apa sih? Gue enggak gitu kok. Tadi gue lama di sana habis bicara sama dia, gue minta dia gak begitu lagi dan hormati lo jadi cewek gue."]
Mendengar itu membuat Olivia terdiam, benarkah Dilon selesai bicara serius dengan Vanessa? Sampai lama tidak menyusulnya. Apa saja yang mereka bicarakan? Olivia merasa penasaran, tapi enggan bertanya.
["Sorry kalau Vanessa nyebelin, tapi gue harap setelah ini dia gak begitu lagi. Lo jangan nganggap gue santai aja lihat dia godain gue, dari dalam hati gue gak suka lihatnya. "]
["Gue suka kok, tapi kalau lo yang godain gue hehe."] Dilon masih sempat-sempatnya modus.
Olivia memutar bola matanya malas mendengar gombalan itu, tapi tidak bohong sekarang hatinya merasa lebih lega setelah Dilon menjelaskan. Ya semoga saja benar Dilon itu tadi habis bicara dengan Vanessa. Apakah pria itu sampai memarahinya?
"Terus maksud kamu ngasih aku bunga apa? Mau luluhin aku gitu?" tanya Olivia mengalihkan obrolan, malas terus membahas Vanessa.
["Iya, sebagai tanda permintaan maaf. Biasanya kan cewek suka bunga, jadi lo masih marah?"]
"Cih kamu kira cuman ngasih aku bunga aku gak marah lagi?!"
["Ya sudah, lo maunya apa? Nanti gue kasih, asal jangan marah lagi ya?"]
__ADS_1
Sebelah sudut bibir Olivia terangkat, merasa ini adalah kesempatannya untuk mengerjai Dilon balik. Ia sebenarnya bukan orang pedendam, tapi masih kesal saja dengan sikap santai Dilon tadi saat Vanessa menggodanya.
"Besok kan libur, temenin aku shopping ya?" pinta Olivia dengan senyuman lebar, pasti Dilon tidak akan menolak.
["Em boleh sih, tapi--"]
"Shhtt gak ada penolakan, katanya kamu gak mau aku ngambek lagi. Pokoknya besok anterin aku shopping, lagian make up aku sudah pada mau habis."
Cukup lama mereka ber teleponan, nada suara Olivia pun sudah tidak ketus lagi karena Dilon terlihat bersungguh meminta maaf. Setengah jam kemudian, obrolan mereka pun berakhir. Olivia terlihat tersenyum lebar merasa senang.
Melihat pintu kamarnya terbuka, membuat Olivia langsung melihat. Keisha terlihat berdiri di sana sambil tersenyum dan melipat kedua tangannya di dada. Olivia menaikkan sebelah alisnya merasa bingung.
"Asik banget kayanya yang habis teleponan sama pacar, Mama sampai gak dilirik dari tadi," ucap Keisha.
"Loh emangnya Mama dari kapan di sana?" tanya Olivia bingung. Jangan bilang Mamanya malah menguping lagi? Benar-benar memalukan.
"Tadi sih Mama sempet kesini, tapi lihat kamu yang kayanya lagi asik teleponan sama pacar, Mama gak jadi deh terus keluar lagi. Pas Mama balik lagi, kalian baru selesai teleponan nya," jawab Keisha menceritakan.
Namanya juga anak muda, perasaan cinta di usia ini sangat mengebu-ngebu dan sedang semangatnya. Keisha sih ikut senang saja, jika putrinya bahagia ya Ia juga membiarkan. Sepertinya Ia mendukung Olivia bersama Dilon adalah pilihan yang tepat.
"Ayo ke bawah, makan malam. Yang lain sudah nungguin dari tadi, kamu di sini malah asik teleponan," ajak Keisha.
"Hehe ya maaf, ya sudah aku sebentar lagi ke bawah."
Setelah Mamanya itu pergi, Olivia beranjak menuju kamar mandi untuk membuang hajatnya sebentar. Setelah dirasa selesai, Ia pun berjalan dengan riang menuju lantai bawah. Saat masuk ke ruang makan, ternyata benar jika keluarganya sudah menunggu.
Olivia membawa makannya sendiri, pergerakannya lalu terhenti merasa di perhatikan. Saat mengangkat kepala, ternyata benar semua anggota keluarganya sedang menatapnya. Olivia tentu saja merasa bingung.
"Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
Tetapi mereka bertiga hanya menggeleng lalu melanjutkan makannya lagi. Olivia yang melihat itu menggelengkan kepala, terkadang keluarganya memang agak aneh.