Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Tidak Akan Melebihi Batas


__ADS_3

"Dilon?" panggil Olivia.


Dilon kembali mengangkat kepala dan menatapnya, "Tenang aja Oliv, gue juga gak se bejad itu," ucapnya.


"Masa? Tapi kamu kan anaknya bandel, aku takut aja. Apa dulu kamu pernah ngelakuin itu sama mantan pacar kamu?"


"Enggak lah, gue gak pernah berlebihan kalau pacaran. Lagian gue juga udah lama gak pacaran, baru lagi sama lo," katanya.


"Turun, kamu berat tahu!" perintah Olivia sambil menepuk bahunya.


Mau tidak mau Dilon pun beranjak duduk di sebelah Olivia, menarik tangan perempuan itu membantunya ikut duduk. Rambut panjangnya terlihat acak-acakan, Dilon pun ikut merapihkan.


Untuk beberapa saat keduanya terdiam di kamar yang hening itu, merasa canggung saja. Olivia sadar Dilon terus memperhatikannya, pria itu tidak sadarkah membuatnya berdebar? Olivia juga takut Dilon kembali terbakar gairah.


"Kamu minta yang lain aja ya?" bujuk Olivia kembali membuka suara.


"Emangnya lo ngira gue awalnya minta apaan?" tanya Dilon menantang, ingin mendengar saja.


"Ya minta itu, kan? ****?" Suara Olivia terdengar memelan di akhir kata, merasa malu sendiri.


Dilon terlihat menahan tawa, "Astaga otak lo ini kotor banget ya, gue gak minta itu kali!" bantah nya.


Saat Dilon menyentil keningnya, membuat Olivia langsung mengerucutkan bibir. Tetapi masa sih Dilon tidak meminta itu? Bukannya tadi Dilon sempat bilang ingin dirinya ya? Ah Olivia jadi malu sendiri.


"Terus kamu minta apa dong?" tanya Olivia.


"Ya gue pengen mesra-mesraan aja sama lo, gak sampai berhubungan badan juga," jawab Dilon sambil mengedikkan bahunya.


"Beneran? Tapi tadi aku takut, terus kenapa juga kamu sampai buka baju?" Olivia terlihat belum percaya sepenuhnya.


"Ya emangnya gak boleh? Lagian badan gue bagus, gue juga jarang pakai baju kalau di kamar, lebih suka begini," kata Dilon.


Olivia mengangguk pelan baru percaya mendengar itu. Syukurlah kalau Dilon itu tidak minta aneh-aneh padanya. Ternyata Dilon tidak se buruk itu, Olivia pikir pria itu kehidupannya sangat bebas. Berbeda dengan dirinya yang mungkin akan dianggap katro.


"Heh tapi gue tersinggung pas lo bilang selamanya kita gak bakal bareng, kenapa bilang itu?!" tanya Dilon dengan lirikan tajamnya.

__ADS_1


"Ya bisa aja kan kita suatu saat putus? Lagian pasti di dalam hubungan itu gak suka lurus-lurus aja, bakal ada halangan." Olivia berusaha menjelaskan dengan baik-baik, tidak mau menyinggung.


"Terus kalau misal kita putus, lo bakal cari cowok lain?" Membayangkan itu, entah kenapa Dilon merasa tidak rela saja.


"Kamu juga pasti bakalan cepet punya pacar lagi," balas Olivia menunjuknya.


Entahlah, apalagi Dilon ini tipe orang yang sulit sekali move on jika sudah jatuh cinta. Sekarang perasaannya pada Olivia sedang mengebu-ngebu, sedang cinta-cintanya.


Dilon tidak tahu sebesar apa Olivia mencintainya juga, tapi yang terpenting sekarang perempuan itu miliknya. Selama menjadi miliknya, Dilon tidak akan melepaskan nya oleh alasan biasa. Olivia hanya miliknya seorang.


"Sudah ah jangan natap aku begitu, nanti kamu nyerang aku lagi!" tegur Olivia lalu mengusap wajah Dilon kasar.


"Mau di terkam lagi nih ceritanya?"


"Ish apaan sih? Enggak lah!"


Olivia memilih segera beranjak dan menjauh dari Dilon, lalu beralasan akan ke toilet untuk menenangkan hatinya sejenak. Detak jantungnya sekarang cepat sekali, wajahnya juga memerah karena salah tingkah.


Beralih pada Dilon, sekarang pria itu sedang di dapur untuk membawakan minuman untuk pacarnya. Ia hampir lupa, karena sanking terlalu buru-buru. Saat Dilon akan menuangkan jus ke dalam gelas, perhatiannya teralih pada seseorang.


"Dilon kamu sudah pulang?" tanya Erika sambil tersenyum lebar.


Walaupun Dilon masih bersikap ketus dan tidak memanggilnya Mama, tapi Erika tetap berusaha tersenyum dan menerimanya. Ia harus benar-benar sabar menghadapi anak tirinya ini.


"Dari jam tigaan lah, ada Papa kamu juga di kamarnya. Kamu sudah makan malam belum? Kalau belum, nanti tunggu Mama masak ya?"


Dilon terlihat memutar bola matanya malas, "Gak usah, mending gue beli makanan di luar dari pada nyobain masakkan lo!" ucapnya tajam.


"Dilon, apa kamu masih membenci Mama?"


"Pertanyaan konyol, sampai kapanpun gue gak akan pernah suka sama lo. Mungkin lo udah nikah sama Bokap gue, tapi gue gak akan anggap lo siapa-siapa di sini!"


Terlihat kedua mata Erika berkaca-kaca. Padahal Ia sudah sering mendapatkan perkataan tajam Dilon, tapi sampai sekarang hatinya tetap saja sakit. Erika lalu tersenyum, berusaha menutupi kesedihannya.


"Tadi Mama sempat lihat kamu bawa cewek, apa itu Olivia?" tanya Erika mengalihkan obrolan.

__ADS_1


"Emangnya kenapa kalau dia? Lo mau cari simpati dari cewek gue?" tanya Dilon sinis.


"Bukan begitu tapi--"


Trak!


Dilon terlihat menyimpan gelasnya kasar di pantri, untung saja tidak sampai pecah. Tatapan pria itu terlihat lebih tajam, terdengar juga giginya beberapa kali bergemeletuk tanda sedang menahan marah.


"Awas aja ya lo kalau deket-deketin cewek gue lagi, sampai bilang aneh-aneh sama dia. Lo deketin dia cuman mau cari perhatian kan? Biar dia ada di pihak lo?!" Kata Dilon tajam.


"Dilon kenapa kamu berkata seperti itu? Mama tidak ada niatan apapun mendekati Olivia, Mama juga menyukai dia kok." Suara Erika sampai bergetar saat mengatakan itu.


"Halah bohong, lo deketin dia ada sesuatu. Bisa aja nanti lo jelek-jelekkin gue, terus Olivia jadi benci gue dan--"


"Dilon!"


Panggilan dengan suara keras itu membuat perhatian Dilon langsung teralih, terlihat Olivia di ambang pintu dapur. Dengan langkah lebar perempuan itu pun menghampiri nya.


"Dilon jangan bilang begitu sama Tante Erika, dia Mama kamu juga," ucap Olivia dengan suara rendahnya.


"Lihat ini pasti karena waktu itu lo udah ketemu dia, Erika pasti jelek-jelekkin gue dan lo jadi belain dia kan?" Dilon malah semakin emosi menduga itu.


"Kamu bicara apa sih? Tante Erika gak pernah jelek-jelekkin kamu." Olivia benar-benar tidak habis pikir dengan tuduhan Dilon itu.


Tetapi Dilon tetap tidak percaya, pria itu memilih menarik tangan Olivia untuk pergi dari sana. Sempat Ia menatap tajam Erika, seperti akan membuat perhitungan pada wanita itu karena sudah membuat pacarnya begini.


Dilon membawa Olivia kembali masuk ke kamarnya. Mendengar ringisan kekasihnya itu, membuat Dilon sadar dan segera mengusap-usap pergelangan tangannya. Selalu saja jika sedang emosi, kalang kabut.


"Lo jangan deket-deket dia lagi," perintah Dilon.


"Siapa?"


"Erika, gue gak suka."


"Kenapa? Bukannya bagus ya punya hubungan baik sama orang tua kamu?"

__ADS_1


Dilon terlihat mendengus kasar, "Dia itu orang asing, bukan siapa-siapa gue. Lo gak perlu hormat juga sama dia."


Olivia dibuat membatin, sebenci itukah Dilon kepada Erika? Sepertinya Olivia harus membantu kedua orang itu berbaikan. Yang lebih penting, agar Dilon tidak salah paham dulu.


__ADS_2