
Jika ditanya bagaimana perasaan Dilon saat ini pada Olivia, rasanya campur aduk sekali. Ia merasa kesal karena perempuan itu dengan keputusan sepihak nya, tapi juga merasa terharu karena Ia mengerti kalau Olivia hanya mengkhawatirkan nya.
Sebelah tangan Dilon terulur mengusap pipi Olivia, menghapus air matanya nya yang menetes lagi. "Tapi lo yang menderita, lo terpaksa kan jadian sama dia? Lo gak cinta kan sama Septian?"
Kepala Olivia menggeleng pelan, "Perasaan aku masih sama seperti dulu Dilon, hanya mencintai kamu," jawabnya.
Tidak bisa menahan haru lagi, Dilon mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir merah yang sangat Ia rindukan itu. Ciumannya terlihat mengebu, melampiaskan semua emosi di hatinya. Merasa pasokan oksigen menipis, membuat Dilon pun menjauhkan wajahnya sejenak.
Kedua mata mereka terpejam sambil mengatur nafas yang memburu yang hembusan nya terasa di wajah masing-masing. Detak jantung saat ini sangat menggila, tidak pernah membayangkan akan melakukan hal ini lagi.
"Gue juga sama, gue gak bisa lupain lo. Gue cinta banget sama lo Olivia, gue gak bisa lihat lo bahagia sama cowok lain!" kata Dilon posesif.
Olivia tersenyum tipis mendengar itu, merasa senang sendiri karena Dilon pun mengungkapkan perasaan padanya. Mereka pun kembali berpelukan dengan senyuman lebar di bibir masing-masing.
Saat sedang menikmati kemesraan, suara ketukan pintu kamar mengalihkan perhatian. Dengan terpaksa Dilon pun melepas pelukannya, lalu melangkah untuk membukakan pintu.
Ternyata itu Mama tirinya, "Ada apa?" tanyanya.
"Dilon ini ada paket, tadi--" Perkataan Erika terhenti melihat seseorang ada di kamar putranya itu.
Kedua mata Erika terlihat terbelak lebar melihat perempuan itu adalah Olivia, tangannya sampai menutupi bibirnya sanking tidak percaya. Saat Olivia sudah dekat di depannya, perempuan itu terlihat tersenyum lebar lalu memeluknya begitu saja.
Olivia tidak malu bersikap sok akrab begini, karena Ia sangat merindukan Tante Erika. "Tante apa kabar? Sudah lama ya gak ketemu."
"Ya ampun Olivia, ini beneran kamu? Ka-kamu sedang apa di sini?" tanya Erika gagap sanking masih syok.
"Sebenarnya aku diajak Dilon kesini karena kami mau ngerjain tugas bareng, tugas Kampus," jawab Olivia sambil meregangkan pelukan mereka, tapi tidak menjauh.
Tatapan Erika terlihat melembut pada gadis cantik itu, karena Ia pun sama merindukan Olivia. Semenjak berpisah dengan Dilon, Ia pun jadi tidak punya teman mengobrol karena biasanya dulu kan Olivia sering main ke rumah ini.
__ADS_1
"Tante kangen gak sama aku?" Tanya Olivia sedikit menggoda.
"Haha iyalah Tante kangen, biasanya kan dulu kamu sering banget main kesini," jawab Erika tidak malu.
Pandangan Olivia lalu turun ke perut wanita itu, kedua matanya terlihat berbinar melihat perut Erika sudah mulai terlihat besar di balik bajunya. Kedua perempuan itu pun kembali melanjutkan obrolan, membahas tentang kandungan itu.
Dilon yang melihatnya hanya tersenyum, ikut merasa senang karena ternyata hubungan Olivia dengan orang tuanya masih baik seperti dulu. Pria itu sempat melirik jam tangannya, waktu semakin berjalan dan mereka belum sempat mengerjakan tugas.
"Sebentar ya Tante, ada telepon dari Mama." Olivia lalu keluar kamar untuk mengangkat panggilan dari Mamanya itu.
Sekarang di dalam pun hanya ada Erika dan Dilon, Erika lalu mendekati putranya itu dengan tatapan bingungnya. Tetapi melihat ekspresi wajah sumringah nya, membuatnya bisa menyimpulkan sesuatu.
"Dilon, apa kamu dan Olivia sudah balikan lagi?" tanya Erika penuh harap. Ia tentu sangat mendukung hubungan remaja itu, karena menurutnya cocok.
Dilon terlihat mengusap tengkuknya tanda salah tingkah, "Enggak kok, tapi gak tahu," jawabnya ambigu.
Dilon mengangguk pelan mengiyakan itu, ternyata Erika pun tahu tentang kabar ini, bahkan hubungan Olivia dengan Septian sudah jauh. Tetapi Dilon merasa dirinya belum terlambat, alias masih ada kesempatan dengan Olivia.
"Aku juga gak tahu, tapi aku dan Olivia sama-sama masih saling suka," ungkap Dilon jujur.
Erika hanya tersenyum mendengar itu, jika pun begitu Ia pikir suatu saat mereka masih bisa balikan dan bersama lagi. Ia memang tidak tahu banyak apa yang sedang terjadi, biarkan saja kedua orang itu menyelesaikan semuanya dengan baik.
Tidak lama Olivia sudah kembali, perempuan itu masih tersenyum-senyum seperti tadi. Erika pun pamit ke bawah lagi, sempat meminta Olivia tidak pulang buru-buru pulang dan sering main ke rumah lagi.
"Tadi Nyokap lo nelepon apa?" tanya Dilon yang gaya cool nya kembali lagi. Rasanya masih malu jika menunjukkan semua perasaan pada Olivia.
"Katanya nanti titip salep ke apotek buat Kai," jawabnya.
"Terus kapan pulangnya?"
__ADS_1
Olivia malah jadi salah pemahaman mendengar itu, "Kenapa memangnya? Kamu pengen aku cepet pulang?"
"Hah? Enggak kok!"
Malahan dari dalam hati Dilon inginnya perempuan itu masih agak lama di rumahnya, karena itu berarti mereka bisa berduaan terus. Sungguh, Dilon masih sangat merindukan nya. Apalagi setelah mereka mengungkapkan perasaan masing-masing.
Akhirnya mereka pun melanjutkan tujuan utama yaitu mengerjakan tugas. Hari juga belum terlalu sore, jadi masih ada waktu. Dilon memang ikut mengerjakan juga, tapi matanya terus mencuri pandang pada Olivia.
"Jangan natap terus deh, lihat itu laptopnya," sindir Olivia yang ternyata sadar, walau tidak menatap dan pura-pura fokus ke laptopnya sendiri.
Dilon dibuat mengulum senyuman, "Habisnya ada yang lebih menarik, jadi gak bisa ngalihin pandangan. Kaya berlian di tengah ladang," katanya lebay.
Olivia pun tidak bisa menahan tawanya, "Gak tau kenapa kalau kamu gombal begitu sekarang aku malah jadi jijik!"
"Loh kenapa?" Dilon sampai tersentak sendiri, Ia kira Olivia akan baper.
Olivia pun akhirnya baru membalas tatapan pria itu, "Soalnya kamu sekarang sering gombalin banyak cewek, jadi bukan cuman aku saja."
Entah kenapa mengingat itu membuat Olivia jadi agak kesal, bahkan Ia setiap hari selalu menahan cemburu. Sepertinya Ia jangan mudah luluh, harus meninggikan ego kalau benar Dilon sungguh-sungguh kepadanya.
Dilon terlihat menghembuskan nafasnya berat, lalu membawa sebelah tangan Olivia ke genggamannya dan mengusapnya lembut. Pandangan mereka pun kembali bertemu, menghantarkan perasaan hangat di dada masing-masing.
"Jangan salah paham ya, gue sama mereka cuman main-main aja," ujar Dilon serius.
"Maksudnya?"
"Habisnya gue ngerasa gak mau kalah aja dari lo, jadinya sekarang sikap gue agak brengsek gitu sering godain cewek-cewek. Sebenarnya gue gak suka, tapi entah kenapa kalau lakuin nya di depan lo hati gue puas," jawab Dilon jujur, lalu tersenyum kikuk.
Olivia yang mendengar itu dibuat tidak habis pikir. Ia lalu mencubit pinggang Dilon keras, hingga membuat pria itu berteriak kesakitan dan minta ampun.
__ADS_1