Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Bukan Yang Diharapkan


__ADS_3

Tidak hentinya Olivia menangis semalaman, menangisi hubungannya dengan Dilon yang sudah berakhir. Mereka berpisah secara baik-baik, karena Dilon juga introspeksi diri. Olivia merasa bersalah, karena alasan sebenarnya Ia memutuskan bukan hanya restu orang tuanya, melainkan ada paksaan dari seseorang.


Tok tok!


Mendengar ketukan pintu kamarnya, membuat Olivia hanya melirik nya sekilas. Dari sepulang sekolah kemarin Ia memang menguring diri di kamar, sampai sekarang pun yang dimana waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia bahkan belum sarapan walaupun sudah dipanggil beberapa kali.


"Olivia buka dong pintunya, kamu kenapa sih ngurung diri begini? Dari kemarin loh. Kalau ada masalah cerita dong sama Mama dan Papa, biar kami bantu juga," Bujuk Keisha dari luar kamar. Sungguh khawatir dengan keadaan putrinya. Apakah bersangkutan dengan Dilon lagi?


Olivia lalu turun dari ranjangnya untuk membukakan pintu, tatapannya pun langsung datar pada Keisha, "Gimana kalau aku bilang kalian yang sudah buat aku begini?"


"Hah maksud kamu bagaimana?" tanya Keisha bingung. Agak terkejut juga dengan nada ketus putrinya itu.


"Mama sama Papa kan nyuruh aku untuk putusin Dilon, kalian gak setuju kami bersama cuman karena dia pernah ditahan polisi. Sekarang kami sudah putus, apa Mama sama Papa seneng?" Olivia langsung menghembuskan nafasnya kasar setelah mengungkapkan itu.


Olivia merasa sedikit kesal pada orang tuanya karena mereka pernah menjelekkan Dilon, juga mengatai kalau mereka tidak cocok. Ia berpikir juga jika dirinya dengan pria itu berpisah karena kedua orang tuanya juga, walau Ia tahu mereka hanya ingin yang terbaik untuk nya.


Apakah Olivia egois karena malah menyalahkan kedua orang tuanya?


"Jadi kamu sudah putus dengan Dilon? Kapan?" Keisha malah bertanya balik, reaksinya itu sulit di jelaskan sekali.


"Kemarin sepulang sekolah, kami putus dengan baik-baik tanpa ribut sedikit pun," jawab Olivia pelan lalu menundukan kepalanya merasa sedih jika mengingat waktu itu.


Keisha lalu mengusap bahu putrinya itu, "Mama tahu ini pasti berat banget untuk kamu, Mama juga tahu kamu sangat mencintai Dilon. Tapi kalau misal kalian putus dengan baik-baik, itu berarti Dilon pun sadar dengan kesalahan nya."


Sebenarnya Keisha cukup sedih juga mendengar ini, tapi di satu sisi juga merasa lega. Pandangan awalnya pada Dilon itu sangat baik dan berharap banyak, Ia bahkan selalu mendukung mereka untuk langgeng karena merasa cocok.

__ADS_1


Memang benar pepatah yang bilang seribu kebaikan akan pupus hanya karena satu kesalahan. Tetapi walau begitu, Keisha yakin Dilon pun sangat mencintai putrinya ini. Dan mungkin dengan melepaskan Olivia pun bisa membuat pria itu lebih baik.


"Mama tahu sekarang kamu lagi sedih, tapi jangan siksa diri kamu begini dong. Kemarin saja kamu cuman makan sedikit, terus pagi ini belum sarapan. Gimana kalau sakit?" tegur Keisha sambil merapihkan rambut Olivia yang berantakan.


"Tapi aku gak nafsu makan, gak enak," jawab Olivia setengah merengek.


"Terus kamu maunya makan apa? Biar nanti Mama buatin."


Tetapi Olivia malah menggeleng karena bingung sendiri Ia sedang ingin apa, makanan pun terasa tidak enak saat Ia makan. Seorang perempuan yang sedang galau begini memang inginnya ya sendirian, menikmati waktu untuk menenangkan diri dahulu.


"Sudah ah jangan ngurung diri terus, pokoknya kamu harus sarapan, nih sudah Mama buatin pancake. Sebentar Mama ke bawah dulu, kayanya ada tamu." Keisha pun pergi setelah memberikan nampan berisi sepiring pancake dan segelas susu pada Olivia.


Olivia yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, lalu kembali masuk ke dalam kamar untuk makan-makanan itu. Memang pancake nya terlihat enak, tapi saat Ia coba ternyata tidak terlalu. Bukan tidak enak makanannya, melainkan Ia yang memang tidak nafsu makan.


Kedua matanya malah berkaca-kaca saat terpikirkan seseorang, siapa lagi kalau bukan Dilon. Kira-kira pria itu sedang apa sekarang? Apa sudah sarapan juga? Mereka sekarang tidak akan saling menghubungi lagi, hubungan juga kan sudah berakhir.


"Sayang, ada tamu untuk kamu," ucap Keisha yang melengokan kepalanya ke dalam.


"Hm siapa?" tanya Olivia bingung. Tidak biasanya tamu yang datang ke rumah ingin bertemu dirinya.


"Laki-laki, ganteng. Mending kamu cuci muka dulu terus rapihin diri, dia nunggu di bawah." Mamanya sempat mengedipkan sebelah mata, lalu menutup lagi pintunya.


Kernyitan dalam terlihat di kening Olivia, merasa bingung siapakah tamu itu. Katanya laki-laki dan tampan, tunggu apa jangan-jangan itu Dilon? Tanpa bisa ditahan senyuman terukir di bibirnya, Olivia pun beranjak lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya.


Perempuan itu tidak mengganti pakaiannya, hanya merapihkan diri sedikit karena terlalu tidak sabaran untuk bertemu tamunya itu. Ia bahkan berlari kecil untuk sampai di bawah lebih cepat. Di ruang tamu, terlihat ada seorang pria berdiri membelakangi.

__ADS_1


"Dilon, itu kamu kan? Kenapa kesini?" tanya Olivia yang sudah percaya lebih dulu.


Tetapi saat orang itu berbalik, senyuman di bibir Olivia langsung luntur karena ternyata itu bukan Dilon, melainkan Septian. Pria itu terlihat tersenyum lebar ke arahnya, di tangannya memegang buket bunga berukuran sedang yang terlihat cantik.


Septian berjalan pelan mendekati nya, "Maaf ya aku bukan Dilon," katanya yang entah kenapa seperti ejekan.


"Septian, ngapain kamu kesini?" tanya Olivia langsung. Bisa-bisanya pria itu percaya diri sekali singgah ke rumahnya, tidak malu sedikit pun.


"Apalagi lah kalau bukan ketemu kamu, pacar aku yang cantik ini. Oh iya sekarang kita sudah resmi pacaran, kan? Seperti perjanjian waktu itu," kata Septian dengan wajahnya yang berseri-seri merasa senang.


Olivia tidak menanggapi lagi, perasaannya sekarang campur aduk sekali. Sesekali Ia melirik ke sekitar, khawatir ada Mamanya atau pun keluarganya yang lain melihat. Kenapa juga sih Septian ini malah menemuinya langsung ke rumah?


"Nih buat kamu, spesial dari aku. Florist nya bilang arti bunga itu untuk orang yang lagi sedih, warnanya yang cerah katanya bisa menghibur," celetuk Septian.


"Maksud kamu apa?!" tanya Olivia yang merasa tersindir, tapi Septian malah tertawa kecil.


Olivia pun terpaksa menerima buket bunga itu, Ia bukan orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih dengan pemberian orang lain. Memang bunganya sangat cantik, tapi bukan berarti perasaan sedih yang sedang dirasakannya langsung hilang.


"Kamu sudah putus kan sama Dilon?" tanya Septian. Kini ekspresi wajahnya tidak se konyol tadi, lebih serius.


"Hm." Hanya deheman pelan saja yang Olivia katakan, tapi seharusnya Septian bisa langsung paham.


"Ya bagus deh, berarti kamu nepatin janji. Padahal tadinya aku sudah buat rencana perhitungan ke dia kalau sampai kamu bohong," kata Septian dengan seringai di bibirnya.


Olivia memicingkan matanya tidak suka, "Jangan sakitin Dilon, awas saja kamu!"

__ADS_1


"Ya tergantung, asal kamu jadi pacar yang penurut dan baik aja aku juga gak akan apa-apa in dia." Apakah Septian sedang mengancamnya?


__ADS_2