Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Selalu Mendukungnya


__ADS_3

"Sudah di dengerin semua?" tanya Olivia.


Melihat Dilon yang hanya diam dengan ekspresi wajah datarnya membuat Olivia gemas sendiri. Pria itu selesai mendengar rekaman suara saat Ia dan Tante Erika mengobrol di butik waktu itu. Ya, Olivia diam-diam merekam pembicaraan mereka.


"Tante Erika bilang setelah Om Aiden menikah dengan Mama kamu, hubungan mereka pun berakhir. Tante Erika juga sampai pindah ke luar kota dan menghindari Om Aiden," jelas Olivia belum menyerah.


"Tapi kenapa Papa selama Mama hidup gak pernah cinta sama dia?" tanya Dilon pelan.


"Kalau misal Om Aiden gak cinta sama Mama kamu, terus kenapa kamu bisa lahir ke dunia ini? "


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, entah kenapa membuat Dilon tertohok. Benarkah dirinya selama ini terlalu dibutakan oleh semua? Sampai rasanya sulit menerima kenyataan yang sebenarnya.


Saat mendengar penjelasan Erika dalam rekamanan itu tadi, detak jantungnya tidak karuan. Dilon tidak tahu apakah dirinya bisa mempercayai atau tidak. Semuanya terasa sudah jelas, hanya tertutupi oleh perasaan bencinya.


"Dilon, aku tahu berat di posisi kamu. Tapi semua juga sudah di takdirkan Tuhan, kita manusia hanya bisa menjalankan," Kata Olivia sambil mengusap tangannya.


"Tapi kan manusia diberikan pilihan. Kenapa dari awal Papa gak nikah aja sama Erika? Dengan begitu Mama gak akan terlalu tersakiti," sahut Dilon dengan suara agak ketus.


"Terus kalau begitu, berarti kamu juga gak akan hadir di sini. Kita gak akan ketemu, dan kamu gak akan bisa jadi pacar aku," celetuk Olivia.


Saat pandangan mereka bertemu, tanpa bisa ditahan detak jantung pun menjadi cepat. Lagi-lagi Dilon dibuat terdiam dengan perkataan Olivia. Kekasihnya itu sangat sabar dan lemah lembut sekali menjelaskan padanya.


Olivia lalu bersender di bahu Dilon, sambil menatap keadaan taman yang malam itu terlihat sepi dan agak temaram. Mereka sudah lumayan lama di sana, sangat menikmati.


"Terus sekarang gue harus gimana?" tanya Dilon meminta pendapat.


"Apa kamu gak bisa mulai menerima Tante Erika di hidup kamu sebagai Mama kamu? Aku pikir dia sudah berusaha tulus selama ini sama kamu," usul Olivia, karena jika berjalan dengan baik akhirnya pun akan sesuai.


"Tapi gue ngerasa takut khianatin Nyokap gue," gumam Dilon pelan.

__ADS_1


"Mama kamu gak akan merasa begitu, dia tetap nomor satu di hati kamu. Menerima Tante Erika belum tentu juga dia bisa menggantikan posisi Mama kamu, Dilon," ucap Olivia.


Benar juga, batin Dilon.


Sebenarnya Dilon lelah sekali dengan drama keluarganya, ya memang sih dirinya juga yang sudah membuat semua ini jadi semakin rumit. Dilon selalu ingin Papanya bisa mengerti dirinya, tapi Ia sendiri tidak bisa mengerti.


Setelah Mamanya meninggal dunia, Aiden menjadi pekerja keras dan membuat waktu mereka jadi sedikit. Jarak waktu pernikahannya dengan Erika pun cukup lama, mungkin satu tahunan. Kenapa Dilon tidak mau mengerti posisi Papanya ya?


"Lo gak kedinginan?" tanya Dilon mengusap bahu telanjang Olivia.


"Dingin," jawab Olivia jujur.


Dilon pun membuka jas nya lalu memakaikan di bahu Olivia, perempuan itu terlihat tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Ia terlalu fokus mengobrol dari tadi, sampai tidak peka.


"Kenapa lo kaya ngebela Erika terus?" tanya Dilon penasaran. Mungkin saja kan Erika menyogok sesuatu.


"Soalnya Tante Erika baik sama aku, dan aku pikir dia juga selama ini tulus sama kamu. Dia selalu sabar hadapin kamu yang selalu ketus sama dia. Kasihan, Tante Erika pasti sedih," Jawab Olivia panjang.


"Kamu mau minta maaf kan sama Tante Erika? " tanya Olivia sambil menatap kekasihnya itu penuh harap.


"Lo ngomong apa sih? Masa gue minta maaf sama dia, " bantah Dilon sambil mengedikkan bahu enggan.


"Ayolah Dilon, bukannya kamu sudah tahu semua kebenarannya sekarang? Jangan terlalu tinggikan ego kamu, kamu sudah dewasa. Aku yakin, kalau kamu memperbaiki hubungan kamu dengan mereka, kamu juga bisa lebih bahagia," desak Olivia terus memohon.


Tetapi Dilon malu, Ia juga gengsi sekali kalau meminta maaf pada Papa dan Erika. Jadi maunya mereka yang minta maaf duluan padanya? Ide yang tidak buruk juga. Karena Dilon pikir mereka pun tetap salah.


"Pokonya aku gak mau tahu, dalam waktu dekat ini kamu harus minta maaf sama Om Aiden dan Tante Erika!" tegas Olivia.


"Ck iya-iya, tapi gak janji dalam waktu dekat ini," jawab Dilon malas.

__ADS_1


"Terus kapan dong?!"


"Ya nanti," angguk Dilon terlihat ragu sendiri.


Tidak mau terus di pojokkan pacarnya itu, Dilon memutuskan beranjak dan mengalihkan obrolan. Ia mengajak Olivia untuk pulang sekarang, karena sudah mau jam sepuluh malam. Memang sih besok libur sekolah, tapi Dilon pikir hanya ini caranya supaya Ia bisa menghindar.


"Kado-kado kamu masih di Kafe, apa kita kesana dulu?" tanya Olivia baru teringat. Ia tadi buru-buru mengejar Dilon, jadi hanya membawa tas nya saja.


"Gak usah, kalau Papa baik dia pasti yang bawain, tapi gak tahu deh dia cuek atau enggak!" jawab Dilon.


"Kayanya Tante Erika yang bawain, gak mungkin juga mereka ninggalin gitu aja," sahut Olivia langsung.


Sebenarnya Olivia maupun Dilon sama-sama belum ngantuk, mereka juga masih bisa jalan-jalan malam. Tetapi Dilon merasa ini bukan waktu yang tepat, karena Olivia akan terus membahas tentang Erika.


Sesampainya di depan gerbang rumah Olivia, Dilon pun ikut turun untuk berpamitan. Kekasihnya itu sempat menawarkannya untuk masuk rumah dulu, tapi Dilon tolak karena sudah malam juga dan takut mengganggu.


"Kamu langsung pulang, kan? Gak akan ke mana-mana lagi kan? " tanya Olivia menyelidik.


"Hm."


"Awas aja ya kalau main-main gak jelas. Kalau pergi ke rumah temen gak papa, tapi di sana juga jangan bergadang atau aneh-aneh!"


Dilon terlihat menahan senyumannya, "Aneh-aneh gimana nih?" tanyanya menantang.


"Ya apa aja gitu yang buat aku marah," jawab Olivia.


"Iya-iya, sudah sana masuk. Lo pasti capek banget hari ini. Jangan lupa hapus make up dulu, jangan dibawa sampai tidur," kata Dilon sedikit menggoda.


"Huh iyalah pasti, sana kamu juga pulang." Olivia pun berjalan masuk ke gerbang rumahnya sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Setelah melihat perempuan itu masuk ke pintu rumahnya, Dilon pun kembali masuk ke dalam mobil. Entah kenapa Ia merasa pusing sekali, pusing karena masalah yang menimpanya. Dilon jadi ingin melampiaskan pada sesuatu. Mungkin kalau Olivia tahu, kekasihnya itu akan marah.


__ADS_2