Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Pacar Yang Penurut


__ADS_3

Senyuman Olivia terlihat mengembang melihat akhirnya Dilon menjemputnya juga. Dengan riang Ia pun masuk ke dalam mobil, langsung menyapa pacarnya itu dengan ceria.


"Semangat banget kelihatannya, pasti sudah gak sabar ya mau belanja?" tanya Dilon memperhatikan pacarnya itu.


"Hehe iya dong, dari semalam aku sudah mikirin apa aja yang mau aku beli," jawab Olivia sambil memakai seatbelt nya.


"Dasar cewek!" Hanya itu saja yang Dilon katakan, Ia lalu kembali menjalankan mobilnya pergi dari sana.


Sebenarnya Dilon tidak masalah sih jika Olivia belanja banyak dan menghabiskan uangnya, lagi pula Dilon punya banyak uang dan Ia bukan tipe orang yang pelit, apalagi pada pacar. Yang penting Olivia bahagia saja, dan tidak ngambek lagi.


Hanya saja Dilon agak malas jika harus ikut menemani Olivia belanja. Bukan apa-apa, kakinya pasti akan pegal ke sana kemari mencari barang. Biasanya kan para perempuan kalau sudah belanja akan lama, banyak yang dipilihnya.


"Pokoknya aku mau belanja banyak, gak papa kan?" tanya Olivia meminta izin dahulu, tidak terlalu serius juga.


"Terserah, tapi jangan lama ya belanjanya," jawab Dilon.


"Kenapa? Kamu mau pergi?"


"Bukan, biasanya cewek suka lama kalau shopping. Gue males, pegel kaki." Kata Dilon jujur.


Tatapan Olivia memicing, Ia malah salah arti dari salah satu perkataan Dilon. Kembali perasaan curiga pun hadir, Olivia pun memilih menanyakan dari pada berburuk sangka.


"Emangnya kamu sering nemenin cewek belanja? Siapa?" tanya Olivia, nada suaranya jadi terdengar agak ketus.


"Nyokap dulu, pernah beberapa kali nemenin dia."


Olivia pun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti mendengar itu. Ternyata benar Ia jangan berpikir buruk, lebih baik ditanyakan dari pada menjadi salah paham. Entah kenapa akhir-akhir ini Olivia memang agak pe cemburu orangnya.

__ADS_1


Sesampainya di Mall besar di Jakarta, mereka pun turun. Padahal belum terlalu siang, tapi keadaan sudah terlihat ramai, mungkin karena sedang hari libur. Olivia dan Dilon pun masuk ke bangunan besar itu sambil berpegangan tangan.


"Lo mau beli apa aja? Baju, make up atau apa dulu?" tanya Dilon.


"Kita lihat-lihat dulu aja ya, nanti kalau aku tertarik juga pasti masuk," jawab Olivia yang sedang memperhatikan sekitar.


Dilon mengangguk menurut saja, jika bersama Olivia sih Ia tidak masalah. Tidak lama setelah berkeliling, Olivia lalu masuk ke salah satu toko besar. Dilon pun merasa dirinya harus bersabar saat itu juga, karena Olivia sudah mulai serius belanja.


"Lip tin aku habis, tapi warna yang aku pengen katanya lagi kosong, harus cari warna lain deh," gumam Olivia yang sedang melihat-lihat.


Perempuan itu lalu membawa dua lip tin dengan warna berbeda, Ia lalu menyuruh Dilon untuk diam. Dilon akan Ia jadikan alat percobaan, menyadari dirinya yang akan memakaikan lip tin pada bibir pria itu, Dilon pun langsung menjauhkan wajahnya.


"Hei mau apa?" tanya Dilon panik.


"Testimoni lah, sebelum beli harus coba dulu, nanti kalau warnanya gak cocok kan sayang," jawab Olivia.


"Aku kan sudah cantik pakai make up begini, kalau dihapus lipstik nya jadi gak cocok. Makanya dicobain nya ke kamu aja, warna kulit kamu juga putih kaya aku," Kata Olivia terus memaksa.


Saat perempuan itu kembali menarik tangannya untuk mendekat, membuat Dilon pun terpaksa dan pasrah saja dijadikan bahan percobaan. Untung saja di lorong sana sepi, jadi Dilon tidak akan terlalu malu.


"Hm yang warna ini sih bagus ya, bikin wajah jadi cerah, tapi kayanya kalau dipakai ke sekolah terlalu kelihatan. Aku pengennya warna yang natural," gumam Olivia melihat bibir Dilon yang sudah Ia pakaikan lip tin warna pertama.


Perempuan itu lalu membawa selembar tisu untuk menghapus lip tin di bibir Dilon. Melihat pria itu yang diam saja pasrah dengan wajah datarnya, membuat Olivia berusaha menahan tawa. Tumben sekali pikirnya Dilon mau menurut begini.


Merasa bibir pria itu sudah bersih dari lip tin warna pertama, Olivia pun kembali memakaikan warna kedua. Senyuman di bibir Olivia mengembang melihat warna itu di bibir Dilon terlihat lebih natural, tidak terlalu pink juga.


"Nah yang ini lebih bagus lah, dari pada yang tadi. Masih bisa juga dipakai ke sekolah, ya sudah mau beli yang ini aja," ucap Olivia senang karena menemukan juga warna yang hampir sama dengan kesukaannya.

__ADS_1


Bukannya langsung menghapus bibir Dilon, perempuan itu malah melanjutkan belanjanya melihat alat make up yang tidak jauh dari sana. Dilon pun bodohnya malah mengikuti kekasihnya itu, dirinya merasa jika Olivia masih butuh tertimoni dirinya.


"Dilon!"


Panggilan suara keras itu membuat perhatian sepasang kekasih teralih, terlihat ada satu teman Dilon bernama Refal, pria itu sepertinya sedang menemani pacarnya juga belanja di sana.


Tetapi saat mereka sudah dekat, Dilon malah dibuat bingung melihat Refal dan pacarnya yang tertawa. Tidak butuh waktu lama, Dilon pun langsung sadar kenapa mereka bisa tertawa. Dilon lalu membawa selembar tisu dan mengusap bibirnya kasar.


"Wah Dilon ini kayanya emang cowok boyfriendable ya. Tuh Refal, harusnya kamu juga kaya dia, nurut sama aku!" ucap Bunga, kekasih Refal.


"Yah sayang kan aku malu kalau harus di dandanin kamu, kalau Dilon mah kayanya emang suka dandan ya?" tanya Refal menggoda.


Dilon yang merasa kesal di ledek begitu lalu menendang tulang kering Refal, membuat temannya itu langsung berjinjit sambil meringis kesakitan. Sial sekali pikirnya, Dilon jadi malu karena dirinya terlihat konyol tadi, apalagi diketahui temannya. Pasti nanti aibnya akan di sebarkan pada yang lain.


"Bunga kamu juga lagi belamja ya? Kalian pasti lagi nge date nih?" tanya Olivia mengalihkan pembicaraan.


"Hehe iya, tapi sebenarnya kesini cuman mau nganter dia beli jaket," jawab Bunga. Mereka memang sudah akrab, pertama bertemu kan saat di rumah merayakan ultah.


"Apaan belum juga beli jaketnya, kamu malah ajak aku kesini," dengus Refal menggerutu protes.


Bunga hanya tersenyum cengengesan pada pacarnya itu, ya maklum saja namanya juga perempuan, apalagi sudah diajak ke tempat belanja begini. Jika Olivia di posisi Bunga pun akan sama, Ia akan kalap dan tergoda oleh barang-barang menarik.


"Kita gak bisa lama, soalnya habis beli jaket mau ke rumah Nenek dia," ucap Refal sambil merangkul bahu Bunga.


Olivia mengangguk, "Iya kita masih lama sih di sini, soalnya baru dateng," ujarnya.


Sebelum pergi, Refal sempat menatap Dilon dengan senyuman penuh artinya. Ia lalu menepuk bahu Dilon lalu memijat nya pelan, seperti memberikan semangat karena pria itu akan menemani pacarnya belanja.

__ADS_1


__ADS_2