Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 50


__ADS_3

Di apartemennya malam ini terlihat ramai karena kehadiran keluarga kecil Celine. Mereka datang sambil membawa  seafood mentah, membuat Daniella senang karena makan malam tidak akan sendirian.


"Banyak banget Kak udang nya, mau dibuat gimana nih?" tanya Daniella memperhatikan Celine yang sedang membersihkan udang itu.


"Mau di saus pedas manis semua, kamu suka gak kira-kira?"


"Suka dong, aku bisa makan apa saja hehe," jawab Daniella.


Merasa tidak enak jika diam saja, Daniella pun memutuskan membantu Celine masak walau hanya memotong rempah-rempah. Cindy pun tidak mau kalah, jadinya anak itu hanya diberi tugas memisahkan sayur-sayuran.


Suami Celine sendiri ikut memasak. Melihat pasangan itu yang terlihat asik memasak bersama sambil tertawa-tawa, membuat Daniella yang memperhatikan di belakang ikut terseyum. Tiba-tiba matanya memburam, Ia malah jadi membayangkan dua orang itu adalah Kai dan Ayana.


"Aduh!" pekik Daniella terkejut sendiri karena jari tangannya hampir teriris pisau, Ia tidak fokus masak.


Cindy yang di sebelahnya sampai menghentikan kegiatan dan menatap nya bingung. "Kenapa Kak?" tanyanya.


"Hehehe gak papa kok," jawab Daniella, Ia lalu membawa wadah besar dimana sayuran kangkung sudah dipisahkan Cindy. "Wah kamu hebat juga ya, kerjanya rapih," puji nya.


"Hehe iya, aku juga sering bantuin Mommy masak, " kata Cindy sambil tersenyum lebar.


Daniella pun menepuk puncak kepala Cindy sebagai tanda bangga. "Hebat, kamu memang anak baik," ucap nya.


Sekarang mereka malah jadi terlihat keluarga cemara, dan Daniella adalah anggota baru di keluarga itu. Sungguh Ia senang sekali bisa akrab dengan Celine, wanita itu sudah seperti Kakak nya saja yang perhatian dan peduli.


Daniella jadi tidak merasa kesepian di sini walau jauh dari keluarganya.


Hampir satu jam lamanya mereka memasak, akhirnya makan malam pun jadi juga. Semua langsung menghidangkan di atas meja makan, lalu duduk di kursi masing-masing.


"Aku mau kepiting ya Mama," pinta Cindy bersemangat.

__ADS_1


Victor lalu menyahut, "Iya sayang boleh, nanti kepalanya untuk kamu, tapi pakai nasi ya biar enak."


"Iya Papa," angguk Cindy.


Sambil makan, Daniella memperhatikan orang-orang di sana dengan lekat dan senyuman tipis di bibir nya. Malam ini tidak seperti malam biasanya, Ia biasanya selalu makan sendirian. Ia memang senang kalau sudah seperti ini, bisa sedikit menebus rasa rindu pada keluarganya.


Kepalanya lalu menoleh melihat Celine menyimpan udang lagi di piring nya. Mereka lalu saling melempar senyuman, dan kembali melanjutkan makan. Makan malam terasa lebih ramai mendengar cerita Cindy tentang kesehariannya di sekolah nya.


Selesai makan malam tidak lupa membereskan bekas makan lagi, Daniella pun yang bertugas mencuci piring. Ia berinisiatif sendiri karena tadi tidak banyak membantu masak, tidak enak juga kalau merepotkan Celine terus. Mereka kan tamu di sini.


"Daniella, kayanya kita mau pulang sekarang," ucap Celine melirik jam tangannya.


Daniella pun langsung mengerucutkan bibirnya mendengar itu. Tetapi melihat Cindy yang sudah tidur di gendongan Papa nya, membuatnya tidak tega jika harus menahan mereka di sini, sudah pukul sembilan malam juga.


Ia pun akan mengantarkan mereka sampai ke bawah, sempat ditolak karena jauh, tapi Ia tetap memaksa. "Hati-hati ya di jalannya, sekali lagi makasih sudah makan di apartemen aku dan bawa makanan banyak," ucap nya sambil melambaikan tangan.


Melihat mobil yang dikendarai keluarga kecil itu sudah pergi, Daniella pun memutuskan kembali masuk ke gedung apartemennya. Baru saja masuk ke dalam unit apartemennya, telinganya mendengar nada panggilan di ponselnya.


Ia memang tidak membawa ponsel tadi, ternyata itu panggilan dari Kai. Bahkan sempat menelepon sekali, tapi tidak Ia angkat. Terlebih dahulu Daniella berdehem pelan, jangan sampai Ia terdengar serak saat mengobrol karena nanti Kai akan curiga kalau Ia sedang galau.


"Iya Hallo Om, ada apa?"


["Hai Daniella, maaf ya kalau Om ganggu. Apa kamu tadi sudah tidur?"]


"Enggak kok, tadi aku nganterin Kak Celine ke bawah pulang. Kami sempat makan malam bareng di apartemen aku, dia ajak keluarganya juga," jawabnya menjelaskan.


["Oh begitu ya, Om kira kamu sudah tidur."]


Daniella berdehem pelan lalu segera menanyakan maksud lelaki itu menelepon nya. Mereka baru teleponan lagi, terakhir itu ya saat Ia baru sampai saja di Singapura. Jika dihitung, ini sudah mau tiga hari jarak dari pernikahan Kai dengan Ayana.

__ADS_1


"Selamat ya Om, sekarang sudah resmi jadi suami. Gimana perasaannya?" tanyanya memastikan, ingin tahu juga dengan isi hati lelaki itu.


["Om kira akan biasa saja, tapi setelah ijab kabul itu entah kenapa rasanya berbeda saja, merasa tanggung jawab semakin besar."]


Daniella hanya tersenyum tipis mendengar itu, itu berarti Kai orang yang serius dalam menjalin hubungan. Lagi-lagi Ia merasa iri pada Ayana karena bisa mendapatkan Kai yang sempurna ini.


"Om tahu gak? Jujur aja aku sempat nangis lihat banyak foto dan video Om selama pernikahan itu. Tapi gak papa, sekarang kan masih masa penyembuhan hati, aku yakin nanti juga akan biasa," curhat nya.


Kai terdengar menghela nafas berat di sebrang sana dan tidak mengatakan apapun, mungkin bingung juga harus bereaksi bagaimana. Untuk beberapa saat keduanya terdiam, menyelami pikiran masing-masing.


Daniella lalu kembali melanjutkan. "Kira-kira Om dan Ayana akan bulan madu kemana?" tanyanya mengalihkan obrolan, tidak mau terlalu sedih dengan membahas perasaannya. Seolah Ia minta dikasihani.


["Kayanya kita gak akan dulu bulan madu, Om benar-benar sibuk susah dapat cuti. Tadinya sempat membicarakan ke Maldives, Ayana yang pengen, tapi ya.. Kayanya harus ditunda dulu,"] jawab Kai.


Bagaimana bisa kebetulan sekali ya?


Walaupun usia Daniella masih muda, tapi Ia sudah memikirkan ini dari sekarang. Ia juga jika suatu saat menikah lalu bulan madu ingin sekali pergi ke Maldives, siapa juga yang tidak kenal tempat indah itu.


["Bagaimana kabar kamu Daniella? Apa kamu sudah betah di sana, ini sudah mau seminggu."]


"Betah kok, aku nyaman di sini. Aku juga gak ngerasa sendirian karena ada Kak Celine, keluarganya juga semua baik sama aku," jawab nya cepat sambil tersenyum.


Tetapi senyuman di bibir Daniella menghilang saat tidak sengaja mendengar suara lembut Ayana di sebrang sana yang memanggil Kai, lalu mereka juga sempat mengobrol dengan suara kecil, mungkin ponselnya agak dijauhkan agar Ia tidak mendengar, padahal masih terdengar.


["Daniella sudah dulu ya, sudah malam juga. sebenernya Om telepon kamu cuman mau tanya kabar kamu saja, syukurlah kalau kamu baik-baik saja dan sudah betah. Sampai nanti lagi."]


"Iya Om," gumam Daniella singkat lalu mematikan panggilan itu dengan perasaan sedikit kecewa.


Entah kenapa Daniella merasa, Ia akan semakin jauh saja dengan Kai, apalagi setelah lelaki itu menikah. Daniella juga tidak mau terlalu sering mengganggu lalu malah membuat masalah.

__ADS_1


__ADS_2