
Sebenarnya Daniella sedikit lelah karena habis pulang sekolah langsung mengikuti les, lalu setelah itu ke perusahaan Kai. Tetapi karena Ia sudah merindukan pria itu, harus berjuang untuk menghampiri nya lebih dulu. Untungnya jarak dari tempat les nya tidak terlalu jauh.
"Kamu baik-baik saja Daniella, wajah kamu kelihatan lelah gitu?" tanya resepsionis yang sudah mengenal nya.
"Hm aku baik-baik saja, hanya memang sedikit kelelahan. Ekhem jadi apa Om Kai sudah pulang?" Ia memutuskan bertanya dahulu, ingin memastikan saja.
"Sepertinya belum, saya cek di absensi juga belum," jawab nya sambil melihat komputer di depan.
Daniella mengangguk mengerti dan tidak lupa mengucapkan terima kasih, setelah itu Ia berjalan menuju lift yang akan mengantarnya sampai ke lantai atas. Detak jantungnya selalu jadi tidak karuan jika akan bertemu Kai.
Mendengar dentingan tanda lift sampai, Ia pun segera keluar dan berjalan riang menuju satu-satu nya ruangan di lantai paling atas ini. Tetapi Ia merasa aneh karena di meja sekertaris tidak ada siapapun, apa Ayana sudah pulang?
"Huh kenapa juga aku mikirin dia, tidak penting!" dengus nya lalu mengedikkan bahu.
Sebelum masuk ke dalam ruang kerja Kai, terlebih dahulu Daniella merapihkan rambut nya dan memakai lip tin agar bibir nya tidak terlalu pucat. Setelah dirasa lebih baik, Ia pun dengan santai nya membuka pintu itu.
"Om Kai, aku datang!" teriaknya dengan suara ceria.
Tetapi senyuman di bibir Daniella memudar melihat di dalam Kai tidak sendirian, ada Ayana juga. Mereka yang tadinya sedang berpelukan pun langsung menjauhkan diri, sambil menatap tidak enak ke arah nya.
Dada Daniella merasa tertusuk belati tajam, membuat kedua matanya pun berkaca-kaca. Tidak mau hatinya semakin sakit dan malah menangis, Ia pun memutuskan kembali ke luar dari ruangan itu sambil membanting pintu.
"Ihh apa-apaan sih? Kenapa juga aku nangis?!" gerutu nya kesal dan dengan cepat menghapus air mata yang menetes di pipi.
Untungnya keadaan kantor sore itu sudah lumayan sepi karena jam kerja sudah berakhir dari satu jam lalu. Sepertinya keputusannya datang kesini salah, karena Ia malah memergoki lagi pasangan kekasih itu bermesraan.
__ADS_1
"Huft aku pulang naik taxi aja deh, kalau nunggu Papa lama," gumam nya sambil menarik nafasnya dalam-dalam berusaha mengurangi rasa sesak di dada.
Khawatir nya kalau terlalu lama menunggu di depan perusahaan ini, Kai keburu pulang dan lebih parahnya malah bersikap biasa saja tanpa mempedulikan hati nya. Oh itu sangat kejam sekali bagi nya!
Hampir setengah jam kemudian, akhirnya Daniella pun sampai juga di rumahnya. Mama nya menyambut dengan senang, tapi Ia hanya menyalami tangan dan melenggang pergi tanpa membalas sapaannya.
Daniella sedang tidak mood!
"Hah sebenarnya tidak salah, toh mereka kan pacaran. Tapi kenapa sih harus pas aku datang, jadi suasananya canggung karena lagi kaya mergokin pacar selingkuh," Batin Daniella yang menjatuhkan tubuh nya ke atas ranjang.
Tidak mau terlalu memikirkan nya, Ia beranjak dan akan menjernihkan pikirannya dengan mandi air dingin. Sudah jam makan malam, sebentar lagi palingan Mama nya memberitahu nya ke atas.
Saat sedang mengeringkan rambut basahnya dengan hairdryer, suara ketukan pintu terdengar. Daniella yang sudah tahu Mama nya memberitahu nya untuk segera turun makan malam, segera berteriak dengan keras,
"Iya Mah sebentar aku turun, lagi ngeringin rambut!"
Pergerakan Daniella pun langsung terhenti mendengar itu, kedua matanya terlihat berkedip pelan menatap bayangannya sendiri di cermin. Tunggu, Ia tidak salah dengar kan?
Dengan segera mematikan hairdryer nya dan beranjak ke dekat pintu, sedikit ragu membuka nya tapi akhirnya Ia buka juga dengan perlahan. Setelah jelas, benarlah dugaannya itu adalah Kai.
"Hai sorry ya kalau Om ganggu," sapa Kai sambil melambaikan tangan di udara dengan kikuk.
Tatapan Daniella pun langsung berubah menjadi tajam, kedua tangannya lalu terlipat di dada. "Ngapain Om kesini?!" tanyanya ketus.
"Em tadi kamu ke kantor Om mau apa memangnya? Kamu cepat juga ya pergi nya, pas Om cari sudah hilang." Kai terlihat hati-hati sekali, sepertinya tidak mau membuat salah paham.
__ADS_1
"Ya apalagi, biasanya aku ke sana kan gangguin Om. Sayangnya tadi waktunya lagi gak tepat, karena aku malah ganggu orang lagi pacaran." Nada suara Daniella masih ketus, membuktikan jika marahnya masih naik.
Kai terlihat menggela nafas nya berat, selalu bingung sendiri jika Daniella sudah ngambek begitu. Ia lalu menunjukkan setangkai bunga mawar yang disembunyikannya dari balik punggung.
Daniella yang tadinya tidak tertarik pun menjadi dibuat terpana melihat kejutan kecil itu. Terlihat sudut bibir nya berkedut, berusaha menahan senyuman dan perasaan salah tingkah. Ia lalu beralih menatap Kai, menanyakan maksudnya.
"Ini bukan apa-apa, tadi di jalan pas macet ada anak kecil jualan bunga. Om kasihan, makanya beli satu dan untuk kamu aja," kata Kai sambil mengusap tengkuk nya.
"Beneran ini untuk aku?" tanya Daniella memastikan lagi.
"Iyalah untuk kamu, untuk siapa lagi?"
Tanpa ragu Daniella pun menerima setangkai bunga mawar itu, bibir nya pun sudah menyunggingkan senyuman lebar tidak bisa menahan perasaannya. Dadanya yang sempat panas pun perlahan mencair dingin.
Melihat remaja itu yang sepertinya sudah tidak ngambek lagi kepadanya, membuat Kai senang dan menghela nafas lega. Ia hanya alasan saja, padahal beli nya di toko bunga khusus. Sempat akan beli yang besar, tapi khawatir membuat salah paham.
"Makasih Om, bunga nya cantik. Nanti aku simpen di vas yang ada airnya deh, biar awet," ujar Daniella.
"Syukur deh kalau kamu suka, Om juga senang lihat kamu senyum lagi, lebih cantik," sahut Kai tidak malu.
Ya memang semudah itu meluluhkan hati Daniella, bagi nya ini saja sudah cukup seorang Kai membujuk nya lagi. Malahan Ia sempat mnduga pria itu akan acuh, tapi sampai datang ke rumahnya dan membelikan bunga.
Bukankah ini sangat romantis?
Perhatian mereka lalu terlalih melihat Erika datang. "Nah kebetulan ada Kai, yuk mending kita ke bawah makan malam bareng," ajak nya.
__ADS_1
Kai pun mengangguk menerima, tidak enak juga kalau langsung pulang dan hanya sebentar di sini. Rezeki jangan ditolak, lagian kalau di apartemen juga selalu beli.
Tetapi mereka tidak langsung turun, menunggu Daniella menyelesaikan dan dandanan nya. Gadis itu jadi memakai make up tipis karena ingin terlihat cantik di depan orang yang disukai nya. Kai hanya menggeleng-gelengkan kepala, walau di dalam hati senang.