
"Coba lihat ke belakang kamu," perintah Olivia mengkode.
Dilon pun menurut saja dan saat kepalanya menoleh, baru menyadari ada Aiden dan Erika yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya. Kedua orang itu terlihat tersenyum lalu duduk begitu saja di kursi kosong lain.
"Olivia apa maksudnya ini?" tanya Dilon menuntut. Kenapa mereka ada di sini juga? Bukannya katanya hanya mereka berdua saja yang merayakan?
"Dilon sebenarnya yang merencanakan ini semua Om Aiden, dia pengen kita makan malam bareng di hari ulang tahun kamu," jawab Olivia dengan senyuman manisnya.
"Hah?"
Aiden lalu berdehem pelan membuat Dilon pun menatapnya, "Selamat ulang tahun Dilon, semoga di usia kamu yang bertambah ini kamu bisa lebih baik," ucapnya.
Dilon hanya mendengus pelan merasa geli saja Papanya bersikap manis begitu, biasanya juga kan selalu galak. Perhatian Dilon lalu teralih pada Erika, Ia tahu wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya gugup.
"Mama juga berdoa yang terbaik untuk kamu. Yang terpenting kamu selalu sehat dan jadi anak yang baik. Juga semoga hubungan kita bisa lebih dekat," kata Erika.
Baru saja akan menolak, Dilon tidak jadi mengucapkan karena merasakan usapan lembut di tangannya. Olivia terlihat tersenyum kepadanya, seperti mengkode dirinya untuk menjaga sikap.
"Ini Mama juga siapin kado untuk kamu, kebetulan kemarin Mama gak sengaja ketemu sama Olivia di Mall. Akhirnya dia jadi bantuin Mama pilihin kado juga untuk kamu." Erika terlihat senang saat memberikan kado itu.
Dengan malas dan gengsi, Dilon pun membawa paperbag itu lalu mengeluarkan isinya. Sebuah jaket dengan desain yang keren, tidak mencolok dan warnanya cukup Ia sukai.
"Gimana Dilon, kamu suka kan?" tanya Olivia.
"Suka kok, soalnya yang pilihin lo," jawab Dilon.
Olivia lalu tersenyum kikuk pada Tante Erika, merasa khawatir takut menyinggung nya. Walaupun Ia juga ikut bantu pilihkan, tapi kan tetap saja yang membeli Erika. Setidaknya Dilon harus mengucapkan terima kasih.
"Dipakai ya nanti jaketnya, pasti keren banget kalau kamu yang pakai," ujar Erika.
"Hm." Dilon hanya berdehem malas lalu kembali memasukan jaketnya itu.
Beberapa pelayan lalu datang membawakan makanan yang banyak untuk mereka. Hidangan malam ini cukup mewah dan lengkap, tamu spesial itu tentu harus di layani dengan baik.
__ADS_1
Mereka pun mulai makan dengan tenang, merasa canggung satu sama lain untuk membuka suara. Sesekali ketiganya melirik Dilon, tapi pria itu terlihat tenang sekali dan fokus pada makanannya.
"Papa juga punya kado untuk kamu," kata Aiden tiba-tiba, membuat yang lain pun menghentikan makanannya.
"Apa?" Dilon merasa penasaran, tumben sekali Papanya memberikan hadiah.
Pria paruh baya itu sempat bertatapan dengan Erika, mereka seperti merasa ragu untuk mengatakan ini. Dilon tentu bisa melihat dan membacanya, memang nya apa yang disiapkan kedua orang tuanya?
Aiden lalu menyimpan sebuah kotak berukuran kecil di atas meja. Dilon pun langsung menerima dan membukanya. Kernyitan terlihat di keningnya saat melihat isinya, benda kecil itu tentu sangat Ia kenali, sebuah test pack.
"Apa Tante Erika hamil? Wah selamat Tante, aku ikut senang dengarnya," ucap Olivia langsung mengungkapkan dengan gembiranya.
"Terima kasih Olivia, reaksi kamu buat Tante terharu," kata Erika dengan mata berkaca-kacanya.
"Sekarang sudah berapa bulan?" tanya Olivia penasaran.
"Mau tiga minggu, selama satu minggu kami berusaha mempersiapkan diri untuk mengatakan ini pada Dilon. Dan mungkin, ini adalah waktu yang tepat," jawab Erika.
"Dilon," panggil Olivia berusaha menegur.
Dilon lalu mendorong kotak itu agak kasar sampai menjauh, "Yang ada kalian malah ngancurin hari ulang tahun gue dengan ngasih kabar ini!"
Erika terlihat menggigit bibir bawah seperti menahan tangis. Merasakan tangannya di usap Aiden, membuat Erika kembali mengangkat kepala. Pria itu terlihat tersenyum, seperti berusaha menguatkannya.
"Kamu akan punya adik Dilon, memangnya kamu tidak bahagia?" tanya Aiden.
"Enggak lah, apalagi Ibunya dia. Yang ada masalah hidup gue makin rumit aja," jawab Dilon ketus.
"Dilon jaga sikap kamu, tidak bisakah kamu menghargai Erika? Dia juga Mama kamu. Mau sampai kapan kamu begini terus?" omel Aiden.
"Gak akan pernah sampai kapanpun, mau dia ataupun calon anaknya nanti, mereka bukan siapa-siapa gue!"
Setelah mengatakan itu, Dilon beranjak dan pergi dari sana. Olivia sempat gelagapan melihat sikap emosional Dilon, Ia jadi ikut tidak enak perasaan pada Aiden dan Erika.
__ADS_1
"Tante, Om, aku minta maaf atas sikap Dilon," ucap Olivia dengan suara pelan nya.
"Tidak apa Olivia, ini bukan salah kamu. Dia itu memang yang bermasalah, hatinya itu keras sekali," sahut Aiden sambil menghela nafas berat, merasa lelah menghadapi Dilon.
"Ka-kalau gitu aku permisi ya Om, mau nyusul Dilon." Olivia pun beranjak untuk segera mengejar Dilon yang entah kemana.
Pria itu cepat sekali jalannya, Olivia kan jadi ketinggalan. Setelah turun dari lantai atas, Olivia langsung memperhatikan lantai satu yang luas dengan banyaknya orang di sini. Matanya lalu tidak sengaja melihat Dilon, segera Ia pun mengejarnya.
"Dilon tunggu, kamu mau kemana sih?!" teriak Olivia melambaikan tangan.
Entahlah apa pria itu mendengarnya atau tidak, tapi Dilon terlihat terus berjalan. Akhirnya Olivia pun berhasil menahan tangan pria itu, walau sekarang Ia sangat kelelahan karena terus berlari dari tadi.
"Kenapa kamu tinggalin aku sih?!" kesal Olivia menggerutu.
"Gue lagi sebel sama lo!" kata Dilon blak-blakan.
"Hah? Sebel kenapa?"
"Lo bohong, katanya cuman kita berdua aja yang makan malam," jawab Dilon.
Ternyata dugaan Olivia benar, "Memangnya kenapa sih? Bukannya bagus kalau ada orang tua kamu juga?"
"Enggak, lo lihat sendiri tadi kita malah ribut. Kalau mereka gak datang, gak akan tuh kejadian kaya gini," ucap Dilon menohok.
"Aku kira semua akan baik-baik aja, kamu kenapa se emosional ini sih Dilon? Sebegitu bencinya kamu sama Tante Erika?" tanya Olivia.
Pria itu terlihat membuang muka, merasa malas saja jika harus membahas tentang Mama tirinya itu. Mengingat lagi Erika yang sedang hamil, membuatnya kembali kesal. Bisa-bisanya mereka malah menjadikan kado untuknya.
"Aku pikir kamu terlalu salah paham Dilon, aku tahu bagaimana cerita yang sebenarnya di antara almarhum Mama kamu, Tante Erika dan Om Aiden," ujar Olivia serius.
"Lo tahu dari siapa? Apa dari si Erika?" Dilon lalu terkekeh sinis, "Kalau dari dia udah pasti dia bakal nunjukin yang terbaik versinya di depan lo, gak mungkin ungkap aibnya sendiri!"
"Aku pikir Tante Erika gak mungkin bohong. Kamu itu terlalu benci sama dia, sampai gak mau lihat yang sebenarnya. Bisa gak dengerin dulu aku bicara?!" tanya Olivia tegas.
__ADS_1