Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Harus Menuruti Perintahnya


__ADS_3

Saat Olivia sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, deringan ponselnya mengalihkan pandangan. Melihat itu adalah panggilan dari orang yang selalu ingin di hindarinya, membuat nya hanya menghela nafas.


Tetapi kali ini Olivia memilih mengangkat nya. "Hallo Septian, ada apa?"


["Kamu lagi apa?"]


"Baru selesai mandi, sebentar lagi mau turun ke bawah makan malam," jawabnya setengah berbohong, hanya beralasan agar pria itu tidak lama menghubunginya.


["Aku kira kamu masih di luar bareng dia, gimana acara jalan-jalannya seru?"]


Kernyitan terlihat di kening Olivia tidak mengerti dengan perkataan Septian. "Maksudnya apa? Aku gak habis jalan-jalan, baru pulang Kuliah."


Lalu terdengar tawa kecil di sebrang sana, tapi entah kenapa tawa Septian terdengar sinis. Perlahan perasaannya pun tidak enak, apa mungkin Septian mengetahui sesuatu?


Olivia berusaha tetap tenang dan melanjutkan kegiatannya dengan menyisir rambut. Septian setelah itu belum mengatakan apapun lagi, walau panggilan mereka masih terhubung. Apa sedang mempersiapkan sesuatu?


["Olivia, aku sudah bilang akan terus memperhatikan kamu. Walaupun aku jauh di sini, tapi aku akan tetap tahu pergerakan kamu. Kamu mulai nakal lagi ya."] kata Septian penuh makna.


"Kamu ngomong apa sih? Gak jelas!" dengus Olivia berusaha menghindar.


["Kamu dekat lagi kan dengan Dilon? Apa sekarang kalian berhubungan lagi dan akan selingkuh di belakang aku?"]


Olivia menelan ludahnya kasar mendengar itu, benar dugaannya jika Septian mengetahui sesuatu tentangnya dan Dilon. Perlahan perasaan tidak nyaman hinggap di dadanya. Ia bukan memikirkan dirinya sendiri, tapi orang-orang di sekitarnya.


Septian pun kembali melanjutkan perkataannya. ["Kayanya waktu itu harusnya aku nikahin kamu biar kamu ikut kesini, aku tinggalin kamu malah bebas dan benar saja kalian balikan!"]

__ADS_1


"Kamu jangan gila ya, kamu gak bisa atur-atur hidup aku begitu!" kesal Olivia.


Apalagi menikah itu adalah hal yang berat, karena selamanya harus hidup dengan pasangan. Sedangkan jika sampai Olivia dan Septian menikah, Ia sepertinya bisa gila karena sangat sulit mencintai lelaki itu.


Olivia menggeram pelan, sepertinya Ia tidak bisa seperti ini terus karena Septian akan semena-mena kepadanya. Ia kira kepergian pria itu ke Amerika membuatnya dapat terlepas, tapi sama saja. Mungkin Septian mempekerjakan mata-mata.


["Kalau begitu jangan nakal, aku gak suka kamu deket lagi sama Dilon. Jauhin dia!"] perintah Septian tegas.


"Kalau aku gak mau gimana? Aku muak dengan hubungan ini, selalu saja ada dalam tekanan kamu. Aku dan Dilon masih saling mencintai, aku pikir sudah saatnya kita berpisah." Olivia langsung menghela nafas lega setelah mengatakan itu.


Tetapi suara tawa kembali terdengar di sebrang sana, membuat Olivia merasa tersinggung karena sudah pasti pria itu hanya meledeki nya. Olivia harus berani melawan Septian, Ia tidak mau hidupnya di kekang terus.


["Wah sudah berani ya kamu sama aku, kamu juga gak malu ngomong begitu. Kayanya aku gak bisa terlalu lembut lagi sama kamu, apa aku harus pakai teknik ancaman?"]


Perasaan Olivia semakin tidak enak mendengar itu, ya Septian hanya bisa mengancam saja. "Kamu mau apa? Apa kamu mau jebloskam Dilon ke penjara lagi? Semuanya sudah berlalu, jadi kamu gak akan bisa!"


"Kamu mau apa Septian? Jangan gila ya!" pekik Olivia marah.


Apa Septian akan menyakiti anggota keluarganya? Benar-benar gila kalau sampai seperti itu, Septian seperti orang yang tidak punya hati. Hanya karena tidak sesuai keinginannya, akan melakukan apapun agar Ia kembali.


["Tenang saja sayang, aku gak mungkin sampai nyakitin keluarga kamu. Tapi aku ingin sedikit bermain dengan perusahaan Papa kamu itu, gimana?"]


Kedua mata Olivia terbelak, perlahan Ia pun bisa menduga sesuatu. "Awas saja kamu Septian kalau sampai macam-macam sama bisnis Papa aku, aku gak akan maafin kamu," desainya.


["Kalau kamu gak mau begitu, makanya harus nurut dong sama aku. Semuanya mudah bagi aku Olivia, aku punya kekuasaan. Cukup jadi pacar yang penurut, hidup kamu akan bahagia."]

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Septian pun mematikan panggilan mereka. Olivia sempat memanggil-manggil namanya keras, masih belum cukup rasanya mengumpati lelaki yang satu itu.


Merasa kesal Olivia sampai menyimpan ponselnya kasar di meja rias nya. Dadanya terlihat naik turun dengan nafas yang memburu, Ia sedang menahan rasa marah dan jengkel pada Septian.


"Hah kenapa seperti ini sih? Aku sudah terjebak oleh dia." Gumam Olivia sambil mengusap wajahnya kasar.


Perlahan kedua matanya berkaca-kaca, dan tidak lama air matanya pun jatuh juga. Olivia menangis terisak merasa putus asa kali ini tidak tahu harus bagaimana. Biasanya Ia selalu terpikirkan rencana lain, tapi kali ini tidak.


Membayangkan jika sampai Septian menyentuh perusahaan Papanya dan membuat kekacauan di sana, pasti akan membuat Papanya kerepotan. Olivia menggeleng tidak tega, Ia sangat menyayangi Papanya dan tidak akan mengorbankan keluarganya.


"Hiks apa aku harus menjauhi Dilon lagi? Padahal kita baru dekat lagi, tapi.. Tapi sepertinya tidak bisa dilanjutkan. Semua sudah berakhir dari dulu, lebih baik menjadi orang asing saja terus," ucap Olivia sambil menghapus air matanya mencoba tegar.


Sepanjang malam pun Olivia terus menangis karena sedih saja tidak bisa bersama orang yang dicintainya. Ada banyak yang harus Ia korbankan jika memilih salah satu, tapi yang lebih parah tentu jika memilih Dilon.


Untungnya jam kelas kuliahnya agak siang, jadi Papanya maupun adiknya tidak melihat wajahnya yang sembab karena semalam habis menangis. Olivia sudah sembunyi-sembunyi ke depan, tapi tetap saja Ia bertemu dengan Mamanya.


"Mama kira kamu sudah berangkat ke Kampus," kata Keisha menghampirinya.


"Belum, kelasnya siang soalnya," jawab Olivia tanpa menatap, malu jika Mamanya melihat matanya yang sembab.


"Sudah sarapan belum? Dari kemarin malam kamu gak turun makan, kenapa?"


Olivia menggeleng, membuat rambut yang terurai di depan wajahnya pun bergerak. "Gak papa, cuman gak laper. Nanti aku sarapan di Kampus aja, sekarang buru-buru."


Keisha merasa bingung karena dari tadi anaknya itu menunduk dan tidak membalas kontak matanya. Tetapi saat Ia akan bertanya, Olivia sudah lebih cepat melenggang pergi dengan mengucap salam.

__ADS_1


Olivia akan berangkat dengan taxi online saja, kalau dengan Pak supir takutnya Mamanya malah bertanya dan Ia diadukan. Selama di perjalanan menuju Kampus, perempuan itu hanya diam menatap jalanan.


Sesekali Ia melirik layar ponselnya yang menampilkan pemberitahuan ada tiga setidaknya panggilan tidak terjawab dari Dilon. Olivia kan sudah memutuskan akan menjaga jarak lagi, jadi Ia akan bersikap cuek nanti walau tidak akan mudah.


__ADS_2