Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Sebuah Pengorbanan


__ADS_3

Karena ponsel Dilon sulit di hubungi, Olivia memutuskan mengunjungi rumahnya langsung. Ia memang tidak bisa pastikan Dilon ada di sana atau tidak, tapi apa salahnya mencoba.


Di perjalanan bahkan Olivia sempat membeli sebuket bunga, yang akan Ia hadiahkan pada sang kekasih. Sebagai tanda permintaan maaf saja. Untuk masalah Dilon suka atau tidak, itu kan urusan nanti.


"Permisi Pak, Dilon sudah pulang sekolah belum? " tanya Olivia pada satpam yang berjaga di depan gerbang rumahnya.


"Maaf Non, tapi Tuan Dilon kayanya belum pulang sekolah. Ini kan masih siang, biasanya Tuan Muda pulang sore hari," jawab satpam itu.


Tadinya Olivia akan percaya lalu pergi, tapi Ia malah tidak sengaja melihat mobil milik Dilon terparkir di depan rumahnya. Melihat itu membuat Olivia percaya jika Dilon ada di rumah, apakah sengaja ingin menghindarinya?


"Bapak jangan bohong ah, itu mobil Dilon ada di sana. Dia kan sekarang ke mana-mana selalu sama mobilnya itu," ucap Olivia menunjuk.


Melihat ekspresi satpam itu yang tersenyum kikuk malu-malu membuat Olivia semakin yakin jika Dilon ada di rumah. Mungkin saja pria itu meminta para satpam untuk berbohong padanya, Dilon benar-benar tidak pintar bohong.


"Pak saya izin masuk dong, Bapak juga pasti sudah kenal saya kan? Saya Olivia, pacarnya Dilon," ucap Olivia meminta.


"Aduh maaf banget neng, tapi.. Tadi Tuan Muda bilang kalau Nona datang, jangan diizinkan masuk," kata satpam itu dengan perasaan tidak enaknya.


"Kenapa? Jadi dia beneran ada di rumah ya?"


"Iya Tuan Muda baru saja pulang, tidak biasanya juga pulang siang hari begini. Tapi tadi beneran kok, Tuan muda sempat titip nasihat begitu sama Bapak. Sekali lagi maaf ya Non, Bapak gak bisa bukain." Setelah mengatakan itu, Satpam pun kembali masuk ke pos jaganya.


Helaan nafas lirih keluar lewat celah bibir Olivia, merasa sedih karena Ia tidak diizinkan masuk ke rumah. Sepertinya Dilon benar-benar marah, pria itu juga sampai tahu Ia akan menyusulnya kesini. Sekarang apa yang harus Olivia lakukan?


Saat mendengar suara guntur di langit, membuat Olivia terkejut dan langsung mengangkat kepalanya. Beberapa jam lalu langit memang sudah gelap, sebentar lagi pasti akan turun hujan.

__ADS_1


"Dilon kenapa gak diangkat sih? Dia bener-bener cuekin aku," keluh Olivia yang sudah mencoba menghubungi nya lagi.


Tanpa bisa ditahan kedua mata perempuan itu berkaca-kaca, merasa sedih dengan hubungannya bersama Dilon yang sedang ada masalah seperti ini. Saat Dilon marah, pria itu lebih memilih mendiami nya ternyata.


Perlahan rintik hujan pun turun dan membasahi tubuh Olivia. Bukannya berlari pergi mencari tempat berteduh, perempuan itu malah berjongkok sambil melanjutkan menangis. Air matanya malah semakin deras, seperti hujan.


Entah berapa lama Olivia menangis, baru berhenti saat merasakan tidak ada hujan lagi mengenai tubuhnya. Melihat sepasang sandal di depannya, membuat Olivia mengangkat kepala. Dilon berdiri sambil memayungi tubuh mereka berdua.


"Lo ngapain sih hujan-hujanan? Kaya anak kecil aja," tanya Dilon setengah meledek.


"Hiks Dilon!" panggil Olivia. Merasa senang karena akhirnya pria itu menghampirinya.


"Ayo berdiri, pulang sana!" usir Dilon tidak serius, hanya ingin melihatkan jika dirinya masih marah.


Olivia pun berdiri sambil mengusap wajahnya yang basah, Ia lalu membawa sebelah tangan Dilon, "Aku mau bicara sama kamu, jangan diamin aku lagi ya?" pintanya membujuk.


Belum sempat Olivia membuka suara, tubuhnya malah oleng dan hampir terjatuh. Dilon yang melihat itu terkejut dan untung saja Ia dapat dengan sigap menahan tubuh Olivia. Perempuan ini pingsan.


Dilon memilih membuang payungnya dan menggendong Olivia, berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah. Sekarang Dilon panik sekali, kenapa tiba-tiba Olivia bisa pingsan begini? Dilon pun memilih membawa Olivia ke kamarnya.


"Tuan Muda, ini air hangat nya. Apa anda butuh bantuan bibi lagi?" tanya pembantunya datang ke kamar.


"Em bisa gantiin baju dia gak bi? Sebentar aku pilihin dulu bajunya." Dilon keluar kamar menuju kamar bekas Mamanya, masih tersisa banyak baju di sana.


Sebenarnya bisa saja Dilon yang menggantikan baju pada Olivia, tapi takut dianggap pria kurang ajar dan Olivia memarahinya. Jadinya Dilon minta bantuan pembantunya saja, dengan baju satin milik almarhum Mamanya.

__ADS_1


"Tuan, sudah bibi gantikan bajunya. Tapi tubuh Nona Olivia panas, sepertinya terserang demam. Apa perlu bibi panggilkan dokter?" kata pembantu itu keluar kamar menghampirinya.


"Boleh deh, tapi nanti saja tunggu kalau dia sudah sadar. Dia belum sadarkan?" tanya Dilon.


"Belum Tuan, tadi sudah bibi kompres keningnya supaya tidak terlalu panas. Nanti bibi buatkan bubur hangat juga ya, kalau begitu bibi permisi dulu."


Dilon mengangguk lalu masuk ke kamarnya. Tatapannya terlihat menjadi sendu melihat Olivia yang terbaring lemah di ranjang miliknya. Dilon lalu duduk di sisi ranjang, sebelah tangannya terulur menyentuh wajah cantik itu.


Ternyata benar kata pembantunya, suhu tubuh Olivia panas sekali. Ia baru ingat jika tadi pagi di sekolah pun Olivia katanya sempat pingsan, lalu tadi malah hujan-hujanan dan tubuhnya kembali drop. Dilon menyalahkan diri sendiri karena tidak perhatian.


"Lo kenapa sih sampai segininya? Apa lo ngerasa bersalah banget sama gue?" tanya Dilon pelan, "Gue udah maafin lo Oliv, cepet sadar."


Dilon menaikkan lagi selimut sampai leher Olivia, sebelum Ia pergi sempat mengecup pipi perempuan itu beberapa saat. Dilon pun memilih keluar kamar untuk menenangkan dirinya, sambil merokok di ruang TV yang ada di lantai satu.


"Dilon, apa benar ada Olivia di atas? Katanya dia demam ya? Kok bisa?" Erika tiba-tiba datang dan menghampirinya.


Dilon pun memilih mematikan rokoknya yang masih setengahnya lagi, wanita itu kan sedang hamil jadi Ia harus peka. Hampir saja Dilon lupa jika di rumah sedang ada Erika, ya walau mereka baru bertemu. Dilon tahu dari pelayan.


"Iya ada Olivia di kamar, tapi dia masih istirahat. Sebenarnya.. Tadi dia kehujanan di depan, terus pas aku samperin tiba-tiba pingsan," jawab Dilon agak kikuk.


"Ya ampun kasihan, kenapa kamu gak bawa ke rumah sakit saja? Takut Olivia kenapa-napa," usul Erika.


"Nanti mau tunggu dia sadar, terus tinggal panggil dokter keluarga aja yang datang kesini. Aku agak kasihan kalau bawa Olivia jauh ke rumah sakit, dia aja belum sadarkan diri," ucap Dilon.


Erika mengangguk pelan mengerti, "Ya sudah kalau begitu, nanti tunggu dia sadar. Apa nanti Mama boleh lihat dia?"

__ADS_1


"Boleh, naik aja." Dilon tidak masalah, karena tahu Erika juga memang baik pada Olivia, pasti wanita itu khawatir.


__ADS_2