Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 38


__ADS_3

"Kemarin kamu pulang sama siapa?" tanya Aiden pada putrinya yang datang membawakannya secangkir teh.


Daniella memutuskan duduk terlebih dahulu di kursi kayu lain. "Di anter Andra, kebetulan kita ketemu di sana. Ternyata dia juga datang ke acara itu, tapi malah milih ngobrol sama aku di luar," jawab nya.


"Oh Andra, Papa jadi tenang dan gak terlalu khawatir kalau sama dia," sahut Aiden lalu menyeruput teh nya yang masih hangat.


Sekarang hari weekend, biasanya kalau hari libur Papanya memang suka bersantai di halaman belakang sambil menikmati secangkir teh. Walaupun sudah pensiun, kadang masih ada saja mengurusi beberapa pekerjaan.


Sesekali Daniella melirik Papa nya itu, ada hal yang membuatnya penasaran dan ingin Ia tanyakan. Tetapi hatinya merasa tidak siap, takut tersakiti lagi karena mengetahui semakin banyak. Tetapi Ia juga merasa penasaran.


"Ekhem Pah, gimana acara kemarin, lancar?" tanyanya memutuskan menanyakan.


"Lancar kok, semua berjalan baik sampai selesai. Kami pulang lebih dari tengah malam. Sayang banget kamu pulang duluan, padahal pesta makin meriah." Aiden pun melanjutkan jika mereka juga sempat menari bersama.


Daniella yang mendengarkan pun bisa langsung membayangkan se meriah apa pesta semalam. Apalagi Kai dan Ayana yang pasti sedang dihinggapi perasaan bahagia, layaknya pasangan baru yang sedang kasmaran.


"Kai sempat nanyain kamu, dia kira kamu gak datang malam itu, tapi Mama bilang aja kamu sudah pulang duluan," kata Aiden memberitahu nya.


"Hm aku gak enak badan," bohong nya.


Setelah itu keduanya kembali terdiam, menikmati pagi hari yang cerah. Suasana halaman belakang yang indah membuat suasana sangat nyaman, cocok sekali untuk bersantai.


Perhatian keduanya teralih melihat kedatangan Erika, wanita itu membawa kotak brownies. Daniella pun memutuskan beranjak, memberikan kursi nya untuk Mama nya itu.


"Sayang banget kemarin malam kamu pulang duluan, padahal seru loh. Iyakan Pah?" kata Mama nya menggoda nya.


Aiden pun berdehem pelan. "Iya tadi Papa juga sudah cerita, tapi kayanya dia emang gak terlalu tertarik," sahut nya.

__ADS_1


Daniella yang tidak mau semakin digoda kedua orang tuanya memutuskan pergi dari sana. Ia merasa bosan jika seharian di rumah, apalagi ini hari minggu. Kira-kira Ia akan melakukan apa agar tidak kebosanan ya?


"Gimana kalau aku main ke rumah si kembar? Hehe boleh juga," gumam nya seorang diri.


Ia pun kembali ke halaman belakang meminta izin pada kedua orang tuanya, dan tentu mereka langsung mengijinkannya. Daniella pun ke kamarnya untuk bersiap-siap, Ia tidak bawa banyak barang karena hanya main setengah hari saja.


Sayangnya orang tuanya tidak mempercayainya untuk membawa mobil sendiri, padahal jarak dari rumah nya ke rumah Kakak nya juga tidak terlalu jauh.


Sesampainya di sana, dengan riang Ia pun mengetuk pintu. "Hai Daniella!" sapa seorang wanita paruh baya, itu adalah Mama nya Olivia.


Daniella pun langsung mengucap salam dan menyalami tangannya. Terlihat rumah dalam keadaan ramai, ternyata kedua orang tua Olivia menginap semalam, bahkan ternyata ada Kai juga.


Bisa kebetulan sekali.


"Kak Ella, sini-sini!" panggil Fiona riang dari kejauhan.


Sempat Daniella bertatapan dengan Kai, tapi dengan cepat mengalihkan pandangan dan memilih berkumpul bersama si kembar. Mempersiapkan sosis dan daging yang akan di bakar.


"Kamu datang tepat waktu Ella," ucap Olivia dengan senyuman lebar nya.


"Hehehe iya, beruntung banget aku main kesini, ternyata kalian mau makan-makan," sahut Daniella.


"Tadinya Kakak juga mau ngabarin kamu, tapi ternyata kamu keburu kesini," kata Olivia.


Fiona dan Filio jadi ikut heboh dan ribet sendiri jika sudah ada pesta makan seperti ini, kedua anak itu pun membantu Mama nya menusukan sosis ke benda dan memberikannya pada Papa mereka yang mempersiapkan pembakaran.


Saat Daniella sedang membasuh tangannya yang kotor di keran air dekat gazebo, kepalanya menoleh mendengar suara langkah kaki mendekat. Mengetahui itu adalah Kai, membuatnya segera mengalihkan pandangan dan pura-pura sibuk.

__ADS_1


"Kamu semalam kemana Daniella, kenapa Om gak lihat kamu di sana?" tanya Kai setelah dekat dengannya.


"Ada kok, Om aja yang terlalu sibuk," jawab Daniella dengan suaranya yang agak ketus, Ia tidak menatap sedikit pun.


"Katanya kamu cuman sebentar ya, kenapa?"


Bukannya menjawab, Daniella malah terkekeh kecil yang terdengar agak sinis. Merasa konyol saja mendapat pertanyaan seperti itu, apa Kai ingin mendengar jawaban aslinya kenapa Ia sampai pulang lebih dulu?


"Menurut Om kenapa aku pulang duluan?" tanya Daniella balik, kini Ia sudah berani menatap lelaki itu dengan dagu terangkat sombong nya.


Kai menatapnya dalam tanpa ekspresi seperti biasa. "Om minta maaf gak bilang ini dari awal sama kamu, tapi--"


"Iya gak papa, mungkin Om gak ngasih tahu aku karena takut aku buat kacau, jadinya aku yang terakhir di kasih tahu." Daniella terlihat mengelap tangan kanannya dengan baju nya, lalu mengulurkan ke depan. "Ngomong-ngomong selamat ya untuk acara lamarannya semalam, romantis banget."


Padahal Daniella ingin bersikap santai, tapi entah kenapa suara nya terdengar ketus dan sinis menandakan jika hatinya sedang patah hati. Ia harus pura-pura baik-baik saja di depan Kai, tidak mau terlihat lemah dan pria itu bisa membaca perasaannya.


Namun Kai hanya menatap uluran tangan itu tanpa niat menerima jabatannya. "Om sudah memikirkan ini dari lama, sepertinya memang sudah waktunya juga Om dan Ayana menikah. Tidak apa-apa kan?"


Kernyitan terlihat di kening Daniella, dengan sedikit kesal Ia pun menarik tangannya lagi. Tunggu, apa maksud pria itu menanyakan itu padanya? Seperti orang yang sedang meminta izin saja.


"Memangnya aku bisa apa? Kalau aku minta Om gak menikah dengan Ayana, memangnya Om akan turuti perintah aku, enggak kan? Jangan konyol deh!" dengus nya sambil melipat kedua tangan di dada.


Kai terlihat menekan bibir nya, ingin sekali menjelaskan bukan seperti itu maksudnya. Tetapi Ia juga merasa bingung merangkai kata-kata, tidak mau menjadi salah paham juga.


Bukankah dengan lamaran semalam, Ia pun sudah membuat benteng tinggi pada Daniella?


"Setelah ini juga mungkin semua akan berubah. Om tenang aja, aku gak akan gangguin Om lagi. Fokus saja pada hidup masing-masing, Om juga pasti harus siapin pernikahan dengan Ayana. Semoga semuanya lancar." Setelah mengatakan itu, Daniella pergi dari sana.

__ADS_1


Terlihat kedua matanya berkaca-kaca, Ia mencoba mengatur nafasnya agar tidak menangis karena tidak mau keluarganya yang lain sadar. Daniella pun kembali bergabung dengan yang lain.


__ADS_2