
Saat sendirian seperti ini, Olivia selalu melamun dan asik dengan dunianya sendiri, melupakan sejenak berbagai masalah yang dihadapinya. Pandangannya lalu turun pada cincin berlian yang tersemat di jari manisnya, tanda bukti jika dirinya sudah bertunangan dengan Septian.
Kenapa Olivia tidak melepasnya saja? Lagi pula kan Septian juga jauh berada di sana, tidak akan tahu jika suatu saat Olivia menyimpannya. Selain itu, mungkin dirinya dengan Dilon juga bisa lebih rileks tidak canggung lagi.
"Huft kenapa aku jadi begini ya?" tanyanya seorang diri. Seperti kehidupannya bukan yang diidamkan selama ini.
Di usia semuda ini malah sudah terikat pada sebuah hubungan serius seperti bertunangan, parahnya lagi dengan seseorang yang tidak dicintainya. Olivia terdiam memikirkan satu hal, bagaimana jika Ia putuskan saja hubungan dengan Septian?
Perempuan itu lalu beranjak dan keluar dari kamarnya menuju ke lantai bawah. Tadinya Ia akan membawa minuman ke dapur, tapi di ruang keluarga malah tidak sengaja mendengar obrolan di antara Papa dan Mamanya.
Saat nama Septian di sebutkan, membuat langkahnya pun terhenti dan merasa penasaran ingin mendengarkan. Kebetulan posisi tangga tepat di sebelah ruang keluarga, Olivia tidak berdiri di ambang pintu supaya tidak ketahuan.
"Karena Septian menanam saham lumayan besar di perusahaan, membuat keuntungan semakin banyak. Dia benar-benar pahlawan, karena kerugian Papa bisa terbayar sekarang," ujar Kevin dengan suara riang merasa senangnya.
Keisha lalu menyahut, "Dia memang hebat, masih muda sudah mengerti tentang peluang bisnis begitu. Olivia kalau menikah dengan Septian pasti akan bahagia, kehidupannya pun akan terjamin."
Perasaan Olivia merasa tidak nyaman mendengar itu, Ia tidak terlalu setuju dengan yang dikatakan kedua orang tuanya. Entah kenapa, Ia malah jadi menyimpulkan sesuatu. Dengan memberanikan diri, Olivia lalu masuk ke ruanga keluarga menghampiri kedua orang tuanya.
"Loh Olivia?" Mama dan Papanya terlihat terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba, apakah mereka mengkhawatirkan sesuatu?
Olivia berdiri di hadapan orang tuanya itu, "Apa alasan Mama dan Papa setuju aku tunangan dengan Septian karena dia yang tanam saham di perusahaan keluarga? Hanya karena itu saja?" tanyanya meminta penjelasan.
__ADS_1
Keisha dan Kevin saling bertatapan, menelan ludah kasar karena ternyata putrinya itu akhirnya mengetahui ini juga. Keisha lalu berdiri dari duduknya menghampiri Olivia, merangkul bahunya, tapi putrinya itu malah melepaskan dan memberikan jarak. Apakah merasa kecewa?
"Bukan begitu Olivia," ucap Mamanya.
"Lalu apa? Beri aku alasan yang tepat kenapa kalian bisa secepat itu percaya sama Septian," tuntut Olivia. Bahkan dulu dengan Dilon saja butuh waktu, tapi dengan Septian terasa cepat sekali. Memang benar ada yang mengganjal.
Kevin berdehem pelan lalu membuka suaranya, "Memang salah satu alasannya ya itu, Papa merasa dia hebat dan calon pemimpin perusahaan, masa depan dia cerah dan sudah tentu," jawabnya.
"Lalu?"
"Olivia dengar, semua itu bukan hanya karena cinta. Jangan sampai karena terlalu cinta, kehidupan kamu nanti malah tidak jelas. Kami saja memanjakan kamu dari kecil, tidak tega kalau lihat putri kita menikah dengan orang yang tidak tepat," sahut Keisha ikut membika suara.
Olivia menggelengkan kepala mendengar itu, merasa tidak terlalu setuju dengan pendapat kedua orang tuanya. Bukankah bersama orang yang tidak dicintai malah akan menderita? Olivia juga merasa pikiran Mama dan Papanya sudah jauh, jangan bilang akan setuju juga jika suatu saat Ia menikah dengan Septian?
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Olivia, "Kalau aku bilang sebenarnya aku terpaksa menerima dia gimana? Sampai saat ini pun, aku belum bisa mencintai dia."
Kedua orang tuanya terlihat terkejut mendengar iru, mereka juga merasa penasaran kenapa hal ini bisa terjadi? Biasanya kan orang yang berpacaran selalu bahagia, menerima satu sama lain karena memiliki perasaan pada pasangannya.
Keisha sudah menduga ini dari awal, karena sikap Olivia pada Septian itu terlihat berbeda di banding dulu dengan Dilon. Ia bisa melihat mana orang yang dicintai putrinya ini, karena dulu pernah merasakan juga di posisi seperti itu.
"Kenapa kamu tidak bilang sama kami?" tanya Keisha sambil mengusap bahunya.
__ADS_1
"Terus kalau aku bilang, apa Papa akan tetap menerima suntikan dana dari Septian ke perusahaan Papa? Bukannya Papa sangat butuh uang itu ya?" tanya Olivia dengan nada suara ketusnya.
Kevin pun mengatupkan bibirnya merasa tertohok sendiri mendengar itu, tidak bisa memberi alasan juga karena sepertinya memang Ia akan sulit menolak hal yang satu itu karena sedang butuh.
Olivia yang melihat kedua orang tuanya diam seolah dugaannya benar hanya mendengus kasar. Ia lalu menurunkan tangan Mamanya di bahu, lalu berbalik dan pergi dari sana dengan langkah menghentak sedang kesal.
Saat tiba di dapur langsung menuangkan air dingin ke gelas, dan meminumnya beberapa kali tegak. Hembusan nafas berat keluar lewat celah bibirnya, merasa dadanya sudah lebih tenang sekarang, walau masih ada rasa gondok juga pada kedua orang tuanya.
"Kak Oliv, tolong bawain aku yogurt di rak freezer dong," pinta Kai yang baru memasuki dapur.
Olivia pun menurutinya membawakan satu botol kecil yogurt, lalu memberikan pada adik laki-laki nya itu. Tetapi Kai tidak langsung pergi, berdiri di sebelah Olivia memperhatikannya sambil menikmati minuman yang sehat itu.
"Kak Olivia, kenapa Kak Dilon gak pernah main lagi kesini ya? Sudah lama aku gak ketemu lagi sama Kak Dilon," tanya Kai.
Mendengar satu nama itu disebutkan, membuat Olivia pun menoleh sekilas pada adiknya itu, "Kakak kan sudah putus dengan Dilon, masa kamu gak tahu? "
"Ya tahu, tapi setidaknya gak papa dong kalau Kak Dilon main kesini, kan mainnya sama aku. Aku kangen sama Kak Dilon," kata Kai dengan santainya.
Mungkin bagi anak laki-laki itu seperti itu, tapi bagaimana dengan tanggapan kedua orang tuanya? Mereka mungkin malah akan tidak nyaman, apalagi khawatir kalau sampai Septian mengetahui dan bisa salah paham. Kedua orang tuanya sepertinya sangat menjaga perasaan Septian.
Olivia lalu mengusap kepala Kai, tidak terasa juga adiknya ini tumbuh semakin tinggi saja dan sekarang sudah se dada nya, mungkin sebentar lagi akan melebihi dirinya. Kai pasti rindu dengan Dilon, kedua orang itu kan dulu sangat dekat. Tetapi sepertinya bukan hanya Kai, Olivia juga sama.
__ADS_1
"Kamu lebih suka Kakak sama siapa? Dilon atau Septian?" tanya Olivia iseng, ingin mengecek juga.
Kai mengusap dagunya seperti sedang berpikir dengan keras, "Dua-duanya ganteng sih, tapi aku lebih pengen Kak Dilon yang jadi Kakak aku," jawabnya lalu tersenyum lebar, membuat Olivia pun ikut tersenyum.