
Setelah makan siang, ternyata belum selesai. Mereka katanya akan piknik di halaman belakang, kue-kue dan jus pun sudah disiapkan di gazebo. Tadinya Dilon menolak dan tidak akan ikut, tapi karena Olivia malah menerima dengan senang hati, terpaksalah Dilon pun ikut.
Seperti biasa Olivia dan Erika selalu asik mengobrol berdua, membuat Dilon jadi diam saja dan merasa bosan. Merasakan tepukan pelan di bahunya, membuat Dilon menoleh menatap Papanya. Aiden melirik ke suatu arah lalu beranjak, apa maksud pria itu mengajaknya?
"Dilon, sana pergi Papa kamu kan ajak ke sana!" desak Olivia sambil menepuk tangannya agak keras.
"Tapi mau apa? Aku di sini aja ah!" tolak Dilon sambil mengedikkan bahu, merasa tidak akan ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan Papanya.
"Ck Dilon!" tekan Olivia memanggil namanya, tatapannya pun terlihat memicing tajam.
Dan dengan terpaksa Dilon pun beranjak pergi dari sana, lalu menghampiri Papanya yang sedang memberi makan ikan di kolam. Mereka berdiri bersebelahan. Untuk beberapa saat suasana terasa canggung, merasa bingung harus memulai obrolan dari mana.
"Dilon, apa kamu benci sama Papa?" Tidak terduga, itulah hal pertama yang Aiden tanyakan.
Dilon sempat melirik nya sekilas. "Kenapa tanya begitu? Aku tidak tahu harus jawab bagaimana," jawabnya.
"Tidak apa, Papa mengerti jika kamu benci sama Papa. Sampai kamu sebesar ini, Papa belum bisa mengungkapkan bagaimana perasaan Papa ke kamu. Maaf kalau lebih banyak luka yang Papa berikan."
Bukannya merasa terharu, Dilon malah tertawa kecil sampai membuat Papanya pun menatapnya heran. "Apaan sih? Lebay banget, kenapa jadi mellow gini coba?" tanyanya.
"Ayolah Papa lagi serius, mari kita mengobrol serius membicarakan hubungan kita yang aneh ini. Kita kaya bukan Papa sama anak ya, lebih kaya orang asing," celetuk Aiden yang menyadarinya sendiri. Apalagi Ia dan Dilon sama-sama punya ego tinggi.
__ADS_1
Helaan nafas panjang keluar lewat celah bibir Dilon, merasa bingung harus bereaksi bagaimana. Ia tidak tahu kenapa Papanya mengatakan ini, sampai meminta maaf padanya. Jujur saja, dari dalam hati merasa senang tapi juga terharu.
Papanya mungkin menyadari sikapnya selama ini kepadanya, sampai menurunkan gengsinya untuk meminta maaf. Dilon berpikir, jika seharusnya dirinya pun melakukan hal yang sama. Tetapi Ia masih agak malu-malu. Karena yang salah bukan hanya Aiden.
"Maaf Papa sering mukul kamu kalau lagi marah, setelah melakukan itu, Papa selalu menyendiri dan menyesali perbuatan. Papa dulu selalu memendam, tapi sekarang memilih meminta maaf takut terlambat," ucap Aiden dengan nada suara paraunya.
Dilon lalu menatap protes Papanya itu. "Ngomong apa sih? Sudahlah, lagian aku tahu aku emang salah dan pantes dapetin itu." Dilon hanya merasa tidak suka Papanya jadi mellow begini, Kata-kata nya seperti orang yang akan pergi jauh. Dilon merasa takut.
"Jadi kamu sudah maafin Papa?" Aiden pun tidak bisa menahan senyumannya lagi, "Makasih ya, tenang saja Papa juga sudah maafin kamu kok."
Dilon pun langsung mengatupkan bibirnya mendengar sindiran itu, tahu saja jika dirinya pun ingin meminta maaf tapi merasa tidak sanggup. Kembali kedua pria itu terdiam, terlihat bibir keduanya berkedut seperti menahan senyuman.
"Papa suka sama Olivia, dia anak yang baik dan pengertian. Papa harap kamu selalu menjaga hubungan baik dengan dia maupun keluarganya," ujar Aiden mengalihkan obrolan.
Dilon kembali menatap Papanya. "Awas saja kalau Papa mau rebut dia dari aku. Inget umur ya, terus inget juga udah punya istri baru dan sebentar lagi punya anak," sindirnya.
Aiden pun tidak bisa menahan tawanya lagi, Dilon ini sudah salah paham. Sepertinya anaknya ini takut Ia macam-macam pada Olivia, padahalkan Aiden menyayangi Olivia seperti pada anaknya sendiri. Terlihat sekali putranya ini sangat mencintai gadis itu.
"Enggak lah, masa saja Papa mau rebut dia dari kamu. Jangan berlebihan. Maksud Papa itu, Papa sangat mendukung hubungan kalian. Olivia adalah perempuan yang tepat untuk kamu, Papa juga merasa setelah kalian bersama kamu tidak suka lagi buat masalah," ucap Aiden menjelaskan.
Dilon menganggukan kepalanya, kalau dipikir setuju juga dengan perkataan Papanya. Dulu Ia nakal sekali, jarang pulang dan lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Tetapi saat ada Olivia, perempuan itu bahkan membantunya memperbaiki hubungan dengan Aiden dan Erika.
__ADS_1
"Kalau kamu nyaman dan mau serius sama dia, bilang aja ya sama Papa. Nanti Papa bisa bicarakan dulu dengan orang tuanya Olivia, Papa yakin mereka juga akan setuju," ucap Aiden dengan senyuman penuh artinya.
"Ish apaan sih Pah? Kita masih kecil, masih sekolah. Belum juga kuliah, terus kerja. Perjalanan aku masih panjang," bantah Dilon. Terlihat wajahnya agak merah, seperti sedang salah tingkah.
Aiden lalu menepuk bahunya. "Memangnya kamu gak mau sampai ke tahap serius sama Olivia?" tanyanya.
"Ck bukan gitu, tapi aku ngerasa kita terlalu kecil. Aku juga yakin Olivia masih pengen bebas, kita masih nikmatin masa muda," jawab Dilon beralasan.
Jangan salah paham, Dilon serius kok menyukai Olivia. Mungkin Papanya menanyakan itu karena sudah yakin dengan perempuan itu, makanya sangat mendukung dirinya bersama Olivia. Dilon sih senang-senang saja, tapi ini kan bukan waktunya yang tepat.
Merasa khawatir semakin ditanyai banyak hal yang membuatnya salah tingkah, Dilon pun memutuskan kembali ke gazebo. Olivia lalu bilang jika dirinya ingin pulang sekarang, katanya adiknya kasihan sendirian di rumah. Sebelum pergi, perempuan itu tidak lupa pamitan pada kedua orang tuanya.
Olivia lalu melirik Dilon yang sedang menyetir di sebelahnya. "Tadi kamu bicara apa saja sama Papa kamu itu? Cerita dong, aku kan penasaran," tanyanya sambil tersenyum lebar.
"Papa minta maaf, dia bilang menyesal selalu pukulin aku. Aku agak kaget dia mau minta maaf, ngerasa kaya bukan dia aja," jawab Dilon sambil menahan rasa malunya.
Olivia pun tidak bisa menahan senyumannya mendengar itu, ternyata rencananya berhasil. Sempat khawatir saat awal, tapi ternyata Aiden dan Dilon berbaikan. Tidak salah Olivia sempat bicara berdua dengan Aiden, membuat pria paruh baya itu berpikir dan sepertinya akan berubah.
"Terus kamu juga minta maaf kan sama Papa kamu? Jangan ngerasa sok tersakiti, kamu juga kan salah," celetuk Olivia menyindir.
"I-iya sudah kok, dan Papa juga maafin aku." Dilon agak gugup menjawab yang ini, karena sebenarnya kan tidak Ia ungkapkan langsung. Tetapi tadi Papanya sudah memaafkannya kan? Jadi Dilon pikir, mereka sudah berbaikan.
__ADS_1